Friday, August 18, 2006

10 Kualitas Pribadi Yang Di Sukai


Ketulusan
Ketulusan menempati peringkat pertama sebagai sifat yang paling disukai olehsemua orang. Ketulusan membuat orang lain merasa aman dan dihargai karenayakin tidak akan dibodohi atau dibohongi. Orang yang tulus selalu mengatakankebenaran, tidak suka mengada-ada, pura- pura, mencari-cari alasan ataumemutarbalikkan fakta. Prinsipnya "Ya diatas Ya dan Tidak diatas Tidak".Tentu akan lebih ideal bila ketulusan yang selembut merpati itu diimbangidengan kecerdikan seekor ular. Dengan begitu, ketulusan tidak menjadikeluguan yang bisa merugikan diri sendiri.
Kerendahan Hati
Berbeda dengan rendah diri yang merupakan kelemahan, kerendah hatian justrumengungkapkan kekuatan. Hanya orang yang kuat jiwanya yang bisa bersikaprendah hati. Ia seperti padi yang semakin berisi semakin menunduk. Orangyang rendah hati bisa mengakui dan menghargai keunggulan orang lain. Ia bisamembuat orang yang diatasnya merasa oke dan membuat orang yang di bawahnyatidak merasa minder.
Kesetiaan
Kesetiaan sudah menjadi barang langka & sangat tinggi harganya. Orang yangsetia selalu bisa dipercaya dan diandalkan. Dia selalu menepati janji, punyakomitmen yang kuat, rela berkorban dan tidak suka berkhianat.
Positive Thinking
Orang yang bersikap positif (positive thinking) selalu berusaha melihatsegala sesuatu dari kacamata positif, bahkan dalam situasi yang buruksekalipun. Dia lebih suka membicarakan kebaikan daripada keburukan oranglain, lebih suka bicara mengenai harapan daripada keputusasaan, lebih sukamencari solusi daripada frustasi, lebih suka memuji daripada mengecam, dansebagainya.
Keceriaan
Karena tidak semua orang dikaruniai temperamen ceria, maka keceriaan tidakharus diartikan ekspresi wajah dan tubuh tapi sikap hati. Orang yang ceriaadalah orang yang bisa menikmati hidup, tidak suka mengeluh dan selaluberusaha meraih kegembiraan. Dia bisa mentertawakan situasi, orang lain,juga dirinya sendiri. Dia punya potensi untuk menghibur dan mendorongsemangat orang lain.
Bertanggung jawab
Orang yang bertanggung jawab akan melaksanakan kewajibannya dengansungguh-sungguh. Kalau melakukan kesalahan, dia berani mengakuinya. Ketika mengalami kegagalan, dia tidak akan mencari kambing hitam untukdisalahkan. Bahkan kalau dia merasa kecewa dan sakit hati, dia tidak akanmenyalahkan siapapun. Dia menyadari bahwa dirinya sendirilah yangbertanggung jawab atas apapun yang dialami dan dirasakannya.
Percaya Diri
Rasa percaya diri memungkinkan seseorang menerima dirinya sebagaimanaadanya, menghargai dirinya dan menghargai orang lain. Orang yang percayadiri mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan dan situasi yang baru. Diatahu apa yang harus dilakukannya dan melakukannya dengan baik.
Kebesaran Jiwa
Kebesaran jiwa dapat dilihat dari kemampuan seseorang memaafkan orang lain.Orang yang berjiwa besar tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh rasa bencidan permusuhan. Ketika menghadapi masa- masa sukar dia tetap tegar, tidakmembiarkan dirinya hanyut dalam kesedihan dan keputusasaan.
Easy Going
Orang yang easy going menganggap hidup ini ringan. Dia tidak sukamembesar-besarkan masalah kecil. Bahkan berusaha mengecilkan masalah-masalah besar. Dia tidak suka mengungkit masa lalu dan tidak mau khawatirdengan masa depan. Dia tidak mau pusing dan stress dengan masalah-masalahyang berada di luar kontrolnya.
Empati
Empati adalah sifat yang sangat mengagumkan. Orang yang berempati bukan sajapendengar yang baik tapi juga bisa menempatkan diri pada posisi orang lain.Ketika terjadi konflik dia selalu mencari jalan keluar terbaik bagi keduabelah pihak, tidak suka memaksakan pendapat dan kehendaknya sendiri. Diaselalu berusaha memahami dan mengerti orang lain.

Wednesday, August 16, 2006

News : Syukuran dan Aqiqoh Vanadia Putri A . . .


Acara Syukuran sekaligus Aqiqoh Vanadia Putri A, berlangsung hari Minggu, 16 Agust 2006 kemarin. Sebenarnya acara sudah dimulai hari Sabtu siang, yaitu dimulainya Khotmil Qur'an oleh Kelompok Khotmil Qur'an desa Sidomulyo yang dipimpin Bapak Supardi. Pembacaan ayat suci Al-Qur'an ini berlangsung dari hari Sabtu jam 13.30 dan tamat 30 Juz pada hari Minggu jam 15.00. Acara penutupan Khotmil Qur'an sekaligus tasyakuran Aqiqoh berlangsung sehabis Isya sampai jam 20.30. Acaranya sendiri dihadiri sekitar 60 orang, baik dari kelompok Khotmil Quran maupun tetangga sekitar.
Hadir juga Mbah-Mu dan Mbah-Ri yang datang jauh dari Pati. Acara ini juga dihadiri oleh YangTi, Yang-Kung, dan segenap keluarga.
Terimakasih untuk Cak-Pri dan segenap tetangga yang telah membantu kelancaran acara ini.
Semoga acara ini membawa barokah terhadap kami sekeluarga dan terutama terhadap Vanadia Putri Amiruddin, amiennnnn!!!

Right or Wrong is my Country, hanya tinggal slogan??



Dirgahayu kemerdekaan RI ke-61




- Memperingati hari kemerdekaan negeri ini, kita perlu banyak melakukan introspeksi, merefleksi masa lalu sebelum menatap ke depan. Sebab, perjalanan sejarah adalah bagian yang tak akan pernah terpisahkan. Tonggak demi tonggak telah dilewati ibarat perjalanan panjang yang mengalami pasang surut, naik turun, dan salah satu ukurannya: bagaimana posisi kita di tengah percaturan global atau di tengah arena kompetisi antarbangsa dalam segala matra kehidupan terutama ekonomi. Ukurannya, yaitu tujuan didirikannya negara ini yang disemangati cita-cita founding fathers kita. Yaitu kesejahteraan dan kemakmuran bagi segenap warga bangsa. Sudahkan cita-cita tersebut tercapai?
- Paling tidak, tiga tonggak besar bisa dijadikan tahapan penting dalam sejarah bangsa sejak kemerdekaan 61 tahun silam. Tiga periode besar itu: pra-Orba, Orba, dan era reformasi. Pada masa terakhir inilah ternyata bangsa kita masih terus diuji. Ketika demokrasi sudah bisa dijalankan dengan segala konsekuensinya, pertanyaan besar yang harus dijawab: apakah cita-cita itu telah dicapai. Demokrasi adalah sarana atau jalan menuju ke pencapaian cita-cita tersebut. Bila itu ukurannya maka sekali lagi jawabannya belum. Berapa puluh juta orang masih menganggur dan hidup miskin?
- Dalam konteks dan tataran demokrasi serta kebebasan memang telah banyak dicapai kemajuan. Antara lain kebebasan berpikir, berserikat, dan berkumpul. Kebebasan mengeluarkan pendapat yang dimanifestasikan pula dalam kebebasan pers. Akan tetapi, lagi-lagi kita bertanya untuk apa kebebasan dan kemerdekaan seperti itu, kalau ternyata belum menunjang pencapaian tujuan yang lebih hakiki. Kita masih bergumul dengan persoalan mendasar, seperti kemiskinan, pendidikan, kesehatan, keterbatasan infrastruktur, dan lapangan kerja yang minim. Namun, beruntunglah konflik-konflik di berbagai wilayah di Tanah Air telah mereda.
- Ujian datang bertubi-tubi terutama sejak krisis ekonomi 1997. Pemulihan sudah berjalan tetapi kepercayaan belum sepenuhnya kembali. Utang makin menggunung sementara arus investasi belum bergerak normal. Pertumbuhan masih melambat, ekonomi ketat, dan yang lebih utama bencana alam terus menghantam sehingga memakan korban jiwa ratusan tewas dan kerugian materiil mencapai triliunan rupiah. Kita makin merasa miskin. Pada saat tantangan berat mengadang, inilah ujian bagi pemimpin di negeri ini. Apakah mereka akan mampu menghantarkan kita pada sebuah penyelamatan ataukah akan membuat bangsa ini semakin terpuruk.
- Satu hal yang terasa masih menjadi kendala besar bagi bangsa kita untuk dapat bergerak maju adalah belum ditegakkannya hukum secara adil. Hukum di negeri ini masih menjadi sesuatu yang sangat diskriminatif dan berkawan akrab dengan uang serta kekuasaan. Pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) mulai ada gebrakan namun terasa sangat kecil gaungnya. Terasa sangat lemah kekuatannya dibandingkan dengan kekuatan dahsyat: sistem dan kultur korup. Padahal, inilah salah satu fundamen yang harus dibangun terlebih dahulu. Selama belum bisa dilakukan, kita sebenarnya masih terjebak pada fenomena masa lalu.
- Bangsa ini harus bergerak maju karena yang lain telah berlari kencang terutama dalam kemajuan ekonominya. Kita memang selalu harus memiliki optimisme ke depan. Dengan laju pertumbuhan sekitar 5%, kondisi senyatanya tidaklah terlampau buruk. Akan tetapi, juga belum akan dapat mengatasi berbagai masalah, seperti kemiskinan dan pengangguran. Sementara itu, percepatan pertumbuhan ekonomi membutuhkan syarat-syarat dasar yang harus terpenuhi. Tidak cukup hanya dengan demokrasi. Namun bagaimana seharusnya kita mampu menegakkan hukum dan keadilan tanpa pandang bulu. Justru karena itulah, cita-cita tersebut kadang masih seperti mimpi. Merdeka !!! Sekali Merdeka Tetap Merdeka !!!!
Sumber : Tajuk Suaramerdeka.com ( Aug.16.2006 )

Thursday, August 03, 2006

Indonesia : An Example of Unity in Diversity



Indonesia, which is the largest archipelago in the world, is an example of a nation with “unity in diversity”. It consists of five major islands and about 30 smaller groups. The figure for the total number of islands is 17,508 according to the Indonesian Naval Hydro-Oceanographic office. The archipelago is on a crossroad between two oceans, the Pacific and the Indian, and bridges two continents, Asia and Australia.
This strategic position has always influenced the cultural, social, political, and economic life of the country. The territory of the Republic of Indonesia stretches from 6.08’ north latitude to 11.15’ south latitude. The Indonesian sea area is four times greater than its land area, which is about 1.9 million sq km (including an exclusive economic zone) and constitutes about 81 percent of the total area of the country.
The five main islands are: Sumatra, which is about 473,606 sq km in size; the most fertile and densely populated islands, Java/Madura, 132,107 sq km; Kalimantan, which comprises two-thirds of the island of Borneo and measures 539,460 sq km; Sulawesi, 189,216 sq km; and Irian Jaya, 421,981 sq km, which is part of the world’s second largest island, New Guinea. Indonesia’s other islands are smaller in size.
The archipelago is divided into three groups. The islands of Java, Sumatra, and Kalimantan, and the small islands in-between, lie on the Sunda Shelf which begin on the coasts of Malaysia and Indo China, where the sea depth does not exceed 700 feet. Irian Jaya which is part of the island of New Guinea, and the Aru Islands lie on the Sahul Shelf, which stretches northward from the Australia coast. Here the sea depth is similar to that of the Sunda Shelf.
Located between these two shelves is the island group of Nusa Tenggara, Maluku and Sulawesi, where the sea depth reaches 15.000 feet. Coastal plains have been developed around the islands of Sumatra, Java, Kalimantan and Irian Jaya.
The land area is generally covered by thick tropical rain forests, where fertile soils are continuously replenished by volcanic eruptions like those on the island of Java. The country is predominantly mountainous with some 400 volcanoes of which 100 are active. Mountains higher than 9,000 feet are found on the islands of Sumatra (Mt. Leuser and Mt. Kerinci); Java (Mt. Gede; Mt. Tangkubanperahu, Mt. Ciremai, Mt. Kawi, Mt. Kelud, Mt. Semeru and Mt. Raung), Sulawesi (Mt. Lompobatang and Mt. Rantekombala), Bali (Mt. Batur and Mt. Agung), Lombok (Mt. Rinjani) and Sumbawa (Mt. Tambora).
The highest mountain is the perpetually snow-capped Mandala Top (15,300 feet) in the Jaya Wijaya mountain range of Irian Jaya. Many rivers flow throughout the country. They serve as useful transportation routes on certain islands, for example, the Musi, Batanghari, Indragiri and Kampar rivers in Sumatra; the Kapuas, Barito, Mahakam and Rejang rivers in Kalimantan; and the Memberamo and Digul rivers in Irian Jaya. In Java rivers are important for irrigation purposes, i.e., the Bengawan Solo, Citarum and Brantas rivers.
A number of islands are dotted with scenic lakes, like the Toba, Maninjau and Singkarak lakes on Sumatra; the Tempe, Towuti, Sidenreng, Poso, Limboto, Tondano, and Matana lakes on Sulawesi; and the Paniai and Sentani lakes on Irian Jaya.
Races and Ethnic Groups:
The Indonesian people consist of hundreds of ethnic groups, with each group having distinct language, art, tradition and custom. Those ethnic groups politically and geographically unite into a nation, the Indonesian nation, under the Unitary State of the Republic of Indonesia, with Pancasila as its state philosophy. It was during the second Indonesian Youth Congress on Oct. 28, 1928, that the Bahasa Indonesia, the Indonesian Language, was for the first time declared as lingua franca for ethic groups residing in the territory now called Indonesia. The event called as the “Youth Pledge” was the starting point of the all ethnic groups to work together to build one nation and one motherland, Indonesia.
The island of Sumatra is home to the ethnic groups of Acehnese, the Gayo, the Batak, Malays, Minangkabauan, Jambi, Palembang etc. The island of Java is home to the ethnic groups of Betawi, Javanese, Sundanese. The island of Bali is home to the Balinese, while the ethnic groups of Lombok, Sasak, Flores and Timorese live in East and West Nusa Tenggara.
In Kalimantan live in the Dayak, Banjar and Malays; in Sulawesi the Minahasans, Torajans, Bugisnese, Makassar, Mandar etc. The Asmat, Marind-anim, Dani, Yali, Korowai, Biak, Serui, Artak are ethnic groups that live in Papua.
Each of these ethnic groups has its own distinct dances popularly known among the public, such as Saman dance of Aceh, Tortor dance of the Batak, Piring dance of Minangkabau (West Sumatra), Ondel-ondel dance of Betawi, Lenso dance of Ambon (Maluku), etc.
Each ethnic group adopts a different kinship system as well. The Bataks, for instance, adopt a patriarchal system, and bear clan names after their own surnames. The Bataks are known for their talented singers. The Minangkabauans, known as domestic tough migrants, stick to a matriarchal system.
Sundanese and Javanese are known for their industrious and tenacious workers, and their arts batik textiles are popular at home and even abroad. So are the Balinese with their particular dancing and carvings. The Bugisnese-Makassars have been known for their seafaring people with their wooden “phinisi” ships sailing high seas since hundreds years ago. Meanwhile, the people of Maluku have been known for their skillful singers and traditional music instruments, and Papuans are the country’s promising athletes for the future.

Remark of the picture : Brilian Putra in action " Indonesia Great...." he said.

Monday, July 31, 2006

Waspada terhadap waktu . . .

Maha perkasa Allah Azza wa Jalla, Dzat yang memiliki segala keagungan, kemuliaan, keunggulan, dan segala kelebihan lainnya. Dzat yang Mahasempurna sifat-sifat-Nya, tiada satu kejadianpun yang terbebas dari kekuasaan-nya. Allah, Dzat yang Maha adil meningkatkan derajat siapa saja yang Dia kehendaki dan menghinakan siapa saja yang dikehendaki-Nya. Namun, sesungguhnyalah kemuliaan dan kehinaan yang ada pada diri kita merupakan buah dari segala amal yang telah kita lakukan. Tidak bisa tidak. Karena demi Allah, Allah SWT tidak akan pernah dzhalim terhadap hamba-hamba-Nya.
Sahabat-sahabat, sungguh betapa banyak orang yang cukup potensial, tetapi tidak bisa menjadi unggul. Salah satu sebabnya adalah karena ketidakmampuannya dalam mengelola waktu. Yakinilah bahwa kesuksesan atau kegagalan seseorang dalam urusan dunia maupun akhirat adalah sangat bergantung bagaimana kesungguhannya dalam menyikapi waktu. Kita saksikan, betapa banyak orang yang mengeluh karena merasa tak pernah punya waktu, sedangkan beberapa orang yang lain selalu mencari jalan untuk membunuh waktu.
Padahal, subhanallah, Allah dengan Maha cermat dan Maha adil telah membagikan waktu dengan seadil-adilnya, dengan secermat-cermatnya tanpa akan luput satupun. Setiap orang pastilah akan mendapat jumlah waktu yang sama, yaitu 60 menit setiap jam, dan 24 jam setiap hari di tempat manapun di dunia ini. Di negara maju, negara berkembang, atau negara yang hancur terpuruk sekalipun tetap 24 jam perhari 60 menit per jam.
Singapura 24 jam per hari, Singaparna 24 jam per hari, Chichago 60 menit per jam, Cikaso 60 menit per jam, semuanya sama. Pengusaha sukses, yang jatuh bangun, atau bahkan yang bangkrut sekalipun tetap 24 jam per hari 60 menit per jam. The Best Executive, karyawan asal-asalan,dan pengangguran kelas berat sekalipun jatah waktunya tetap sama 24 jam per hari. Seorang bintang kelas; yang biasa saja, atau yang tidak naik kelas sekalipun tetap 24 jam per hari 60 menit per jam. Maka, nyatalah bahwa yang menjadi masalah bukan jumlah waktunya, tapi isi waktunya.
Sebab, ada yang dalam waktu 24 jam itu mampu mengurus negara, jutaan orang, atau aneka perusahaan raksasa dengan beratus ribu orang, tapi ada yang dalam 24 jam mengurus diri saja tidak mampu! Naudzhubillah, Karakteristik waktu memang sebuah keunikan, bahkan ia suatu misteri kehidupan ini, yang terekam dalam tik-tok jam, tercatat dalam buku harian, terhitung dalam kalender tahunan, terukir dalam prasasti-prasasti kehidupan. Walau, sebenarnya ukuran-ukuran itu akan kurang berarti, sebab ukuran waktu yang nyata adalah kehidupan kita sendiri. Ya, hidup kita adalah waktu itu sendiri, yang menggelinding tiada henti. Sebagai makhluk ciptaan-Nya waktu ternyata memiliki tabiat tersendiri, waktu adalah terpendek karena tak pernah cukup menyelesaikan tugas hidup. Waktu adalah terpanjang karena ia adalah ukuran keabadian. Waktu akan berlalu cepat bagi mereka yang bersuka cita. Waktu berjalan sangat lambat bagi yang dirundung derita. Waktu adalah saksi sejarah yang akan membeberkan segala kehinaan dan kenistaan yang kita lakukan.
Waktu adalah perekam abadi yang akan mengekalkan segala keagungan dan kemuliaan seseorang. Dan yang utama waktu modal kita, kehidupan kita. Tiada yang dapat terjadi tanpa dia. Maka, sungguh suatu kerugian yang sangat besar bila seorang hamba tidak dapat memanfaatkan waktunya dengan sangat baik dan optimal. Allah berfirman, "Demi waktu, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling nasehat-menasehati dalam menatapi kebenaran dan nasehat-menasehati dalam menetapi kesabaran" [Q.S. AI Ashr: (103): 1-3].
Imam Syafii mengatakan bahwa, "Cukup dengan Surat Al Ashr, Al-Quran sudah terwakili". Subhanallah, demikian pentingnya waktu dalam pandangan Allah. Dikisahkan bahwa suatu waktu Khalifah Umar bin Abdulaziz sesampai di rumah setelah mengurus jenazah Sulaiman bin Abdul Malik kakeknya ia (Umar) sedang istirahat tidur-tiduran di ranjang, kemudian datang anaknya Abdul Malik, dan ia bertanya: "Wahai Amirul Mukminin, gerangan apakah yang membaringkan anda di siang hari bolong ini. Jawab ayahnya; "Aku letih, aku butuh istirahat". Abdul Malik berkata; "Pantaskah anda beristirahat padahal banyak pekerjaan yang harus dikerjakan, lihat di sana rakyat yang tertindas butuh pertolonganmu." jawab ayahnya, "Semalam suntuk aku menjaga pamanmu dan itu yang mendorong aku istirahat, nanti setelah shalat dhuhur aku akan mengembalikan hak-hak orang-orang yang tertindas dan teraniaya". Anaknya bertanya, "Wahai Amirul Mukminin, siapakah yang menjamin anda hidup sampai dhuhur. Bagaimana kalau Allah menakdirkan anda mati sekarang?" Kemudian Umar bangun dan pergi membawa satu karung pikulan gandum, lalu mencari orang yang kelaparan.
Dalam kisah ini, nampaklah betapa beratnya tanggung jawab untuk mengelola waktu. Bagaimana pula dengan kita yang telah diberi amanah mengurus bumi ini? Subhanallah, marilah kita berlindung kepada Allah dari kelalaian memanfaatkan waktu seraya memohon agar dikaruniakan kemampuan untuk mengelola waktu dengan optimal, penuh makna, sesuai dengan yang telah dituntunkan Allah dan Rosul-Nya. Ada dua hal yang perlu kita lakukan, agar memiliki keunggulan dalam hidup ini, yaitu:
a. Waktu boleh sama tapi isi harus beda Ajaran Islam sangat menghargai waktu, Allah SWT sendiri berkali-kali bersumpah dalam Al Quran berkaitan dengan waktu. Wal 'ashri (Demi waktu), Wadh dhuha (Demi waktu dhuha), Wallail (Demi waktu malam), Wannahar (Demi waktu siang). Allah juga sangat menyukai orang yang shalat lima waktu dengan tepat waktu, memuliakan sepertiga malam sebagai waktu mustajabnya doa, dan waktu dhuha sebagai waktu yang disukai-Nya. Maka, sangat beruntunglah orang-orang yang mengisi waktunya efektif hanya dengan mempersembahkan yang terbaik dalam rangka beribadah kepada-Nya. Allah SWT berfirman dalam sebuah hadits qudsi, yang artinya, "Pada setiap fajar ada dua malaikat yang berseru-seru: "Wahai anak Adam aku adalah hari yang baru, dan aku datang untuk menyaksikan amalan kamu. Oleh sebab itu manfaatkanlah aku sebaik-baiknya. Karena aku tidak kembali lagi sehingga hari pengadilan." (H.R. Turmudzi).
Cobalah bayangkan, andaikata dalam suatu perlombaan balap sepeda, dalam satu detik si A berhasil mengayuh satu putaran, si B setengah putaran, dan si C mengayuh dua putaran. Siapa yang jadi juaranya? Maka, dengan meyakinkan si C-lah yang akan berpeluang menjadi juara, mengapa? Karena pada detik yang sama si C dapat berbuat lebih banyak daripada yang lain. Nah, begitupun kita semua semakin banyak dan baik hal positif yang kita lakukan dalam waktu yang sama, insyaAllah kita akan lebih dekat dengan kesuksesan. Persis dengan apa yang anda lakukan saat ini, pada saat yang sama ada yang sedang tidur, sedang di WC, sedang bermain atau mungkin bermaksiat atau apa saja, dan pada saat akhir membaca tulisan ini. Maka, hasilnya pun berbeda-beda tergantung dari apa yang dilakukan, dan anda insyaAllah beruntung karena telah mendapat ilmu yang mahal yaitu bagaimana mengelola modal hidup ini, yakni waktu.
b. Sekarang harus lebih baik daripada tadiSahabat-sahabat, sungguh kita merasakan bahwa seringkali kita tidak begitu serius menghargai waktu, sehingga kadang-kadang menghamburkannya tanpa guna. Kadangkala kesia-siaan selalu menjadi bagian dari hidup kita ini; bersantai-santai tanpa merasa rugi waktu, berbicara sia-sia tanpa merasa berdosa, berjalan tanpa tujuan hanya untuk menghabiskan waktu dengan sia-sia. Padahal, sungguh waktu adalah modal kita dalam mengarungi kehidupan ini. Kalau kita mengoptimalkan modal kita, maka beruntunglah kita, tapi kalau kita menyia-nyiakannya.Maka sangat pasti akan rugilah kita. Orang yang bodoh adalah orang yang diberi modal (waktu), kemudian dengan modal itu ia sia-siakan. Naudzhubillah. Padahal, andaikata hari ini sama dengan hari kemarin berarti kecepatan kita sama, tak ada peningkatan. maka tak akan pernah bisa menyusul siapapun, dan andaikata orang lain selalu meningkat, maka kita akan tertinggal dan jadi pecundang. Rasulullah SAW. mengingatkan kita dengan sabdanya, " Barangsiapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka dia termasuk orang-orang yang merugi" (H.R. Dailami).
Maka, satu-satunya pilihan adalah hari ini harus lebih baik dari kemarin, bahkan kalau bisa sekarang ini harus lebih baik daripada barusan tadi, dalam hal apapun. Kalau tidak demikian, maka harus diakui bahwa hari ini adalah hari yang gagal dan rugi, dan ingat andaikata hari ini lebih buruk dari hari kemarin berarti kita terkena musibah, kerugian yang sangat besar dan mencelakakan diri. Naudzhubillah, hal ini tak boleh terjadi pada diri kita. Rasulullah SAW sendiri mengingatkan kita untuk selalu memperbaiki waktu kita, sebab setiap waktu memiliki beban persoalan tersendiri, sabdanya, "Carilah yang lima sebelum datang yang lima, yaitu manfaatkanlah masa mudamu sebelum datang masa tuamu (dengan ibadah), gunakanlah masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu (dengan amal saleh), gunakanlah masa kayamu sebelum datang masa miskinmu (dengan sedekah), gunakanlah masa hidupmu sebelum datang masa matimu (mencari bekal untuk hidup setelah mati). gunakanlah masa senggangmu sebelum datang masa sempitmu.' (Al Hadits).
Dari uraian diatas, maka sebenarnya ada tiga kelompok orang yang menggunakan waktu, yaitu:
1. Orang sukses, yaitu orang yang menggunakan waktu dengan optimal, dan ia melakukan sesuatu yang tidak diminati oleh orang yang gagal.
2. Orang malang, yaitu orang yang hari-harinya diisi dengan kekecewaan dan selalu memulai sesuatu dengan esok harinya.
3. Orang hebat, yaitu orang yang bersedia melakukan sesuatu sekarang juga. Bagi orang hebat, tidak ada hari esok. Dia berkata bahwa membuang waktu bukan saja sesuatu kejahatan, tetapi suatu pembunuhan yang kejam.
Maka , mulai sekarang waspadalah terhadap waktu. Setiap detik yang kita lalui harus diperhitungkan dengan secermat-cermatnya, sematang-matangnya, dan seakurat-akuratnya, lalu mengisinya dengan hal-hal yang membuahkan peningkatan kemampuan kita. Kita tidak hanya perlu bekerja keras, tapi kita perlu juga bekerja keras dan cerdas. Lebih jauh kita lagi kita perlu kerja keras, cerdas dan efektif, sehingga waktu yang kita gunakan akan lebih optimal, bermakna bagi dunia dan berarti bagi akhirat nanti.***
Disadur dari tulisan "Menyikapi waktu" by AA Gym - thanks

Tuesday, July 25, 2006

Makna Sebuah Titipan . . .


Makna Sebuah Titipan(WS Rendra)
Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku,
bahwa :
sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipan Allah
bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titipan Nya,
bahwa putraku hanya titipan Nya,
tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya,
mengapa
Dia menitipkan padaku?
Untuk apa
Dia menitipkan ini pada ku?
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itudiminta kembali oleh-Nya?
Ketika diminta kembali,
kusebut itu sebagai musibahkusebut itu sebagai ujian,
kusebut itu sebagai petaka,kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskanbahwa itu adalah derita.
Ketika aku berdoa,
kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas,
dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan, seolah semua "derita" adalah hukuman bagiku.
Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan sepertimatematika: aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih.
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku", dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku,
Gusti,
padahal tiap hari kuucapkan,
hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah...
"ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja"

Puisi pilihan ... Dari Lingkungan Anak - anak Belajar...


Dari Lingkungan Hidupnya Anak-anak Belajar…
(Dorothy Law Nolte)
.
Jika anak dibesarkan dengan celaan
Ia belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan
Ia belajar menentang
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan
Ia belajar rendah diri
Jika anak dibesarkan dengan toleransi
Ia belajar jadi penyabar
Jika anak dibesarkan dengan dorongan
Ia belajar percaya diri
Jika anak dibesarkan dengan pujian
Ia belajar menghargai
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan
Ia akan terbiasa berpendirian