Monday, June 21, 2010

Catatan : 11 Pikiran Orang Sukses

"Successful people think differently than unsuccessful people"

Ungkapan ini berusaha menjelaskan bahwa perbedaan utama antara orang sukses dan orang gagal ada pada cara berpikirnya. Mereka yang sukses adalah mereka yang selalu menggunakan kekuatan berpikir untuk terus memperbaiki hidupnya sehingga lebih baik.

Orang-orang yang sukses ini adalah mereka yang memiliki tipe berpikir
positif. Tipe berpikir orang-orang sukses ini adalah:

1.Big picture thinking bukan small thinking
Cara berpikir ini menjadikan mereka terus belajar, banyak mendengar dan terfokus sehingga cakrawala mereka menjadi luas.

2.Focused thinking bukan scattered thinking
Sehingga dapat menghemat waktu dan energi, loncatan-loncatan besar dapat mereka raih.

3.Creative thinking bukan restrictive thinking
Proses berpikir kreatif ini meliputi: think-collect-create-correct-connect.

4.Realistic thinking bukan fantasy thinking
Memungkinkan mereka meminimalkan risiko, ada target & plan, security, sebagai Katalis dan memiliki Kredibilitas.

5.Strategic thinking bukan random thinking
Sehingga simplifies, customize, antisipatif, reduce error and influence
other dapat dilakukan.

6.Possibility thinking bukan limited thinking
Mereka dapat berpikir bebas dan menemukan solusi bagi situasi yang
dihadapi.

7.Reflective thinking bukan impulsive thinking
Memungkinkan mereka memiliki integritas, clarify big picture, confident decision making.

8.Innovative thinking bukan popular thinking
Menghindari cara berpikir yang awam untuk meraih sesuatu yang lebih
baik.

9.Shared thinking bukan solo thinking
Berbagi pemikiran dengan orang lain untuk mendapatkan hasil yang lebih
baik.

10.Unselfish thinking bukan selfish thinking
Memungkinkan mereka berkolaborasi dengan pemikian orang lain.

11.Bottom line thinking bukan wishful thinking
Berfokus pada hasil sehingga dapat meraih hasil berdasarkan potensi
pemikiran yang dimiliki.

Wawancara Kerja

Dalam dunia kerja, dikenal beberapa tipe wawancara kerja sebagai
berikut:

1. Wawancara Seleksi (Screening Interview). Jika pelamar atau
kandidat untuk menduduki jabatan berjumlah lebih dari satu orang
maka dilakukan wawancara kerja untuk menyeleksi siapa diantara
kandidat tersebut merupakan kandidat yang paling qualified sehingga
bisa dilanjutkan ke tahap seleksi berikutnya. Wawancara seleksi
biasanya berlangsung singkat antara 15 ?30 menit.

2. Wawancara Telepon (Telephone Interview). Demi menghemat biaya
dan efisiensi waktu, banyak recruiter yang melakukan wawancara kerja
melalui telepon. Oleh sebab itu, pelamar harus siap dihubungi
sewaktu- waktu, sebab seringkali recruiter tidak memberikan pilihan
bagi pelamar untuk menentukan waktu kapan ia siap diwawancarai melalui
telepon.

3. Wawancara di Kampus / Sekolah (On-Campus Interview) . Meskipun
tidak banyak perusahaan yang melakukan wawancara kerja di kampus,
namun untuk perusahaan-perusahaan tertentu yang mencari para
lulusan untuk dilatih lebih lanjut, cara ini dinilai sangat efektif
karena memberikan akses bagi perusahaan tersebut untuk mendapatkan
kandidat terbaik yang mungkin sangat sulit diperoleh jika menunggu
para kandidat tersebut datang melamar.

4. Wawancara di Pameran Kerja (Job Fair Interview). Pameran kerja
diadakan untuk menjembatani perusahaan dengan para pencari kerja.
Pada pameran kerja biasanya, perusahaan memberikan berbagai
informasi mengenai perusahaannya, menerima surat lamaran dan CV dari
pengunjung (pencari kerja), bahkan tidak jarang para recruiter
langsung melakukan wawancara di stand (booth) mereka. Di Indonesia
memang pameran seperti ini masih sangat jarang dilaksanakan jika
dibandingkan dengan pameran otomotif, rumah maupun furniture.

5. Wawancara di Lokasi Kerja (On-Site Interview). Ketika seorang
kandidat telah lolos dalam tahap wawancara seleksi, seringkali
perusahaan mengundang kandidat tersebut untuk melihat secara
langsung lokasi kerja. Pada kesempatan tersebut recruiter biasanya
langsung melakukan wawancara secara mendalam. Bagi pelamar yang belum
memiliki pengalaman kerja pada lokasi yang lingkungannya kurang lebih
sama, wawancara kerja di lokasi mungkin bisa terasa menakutkan karena
mungkin harus melakukan perjalanan dan berada di wilayah yang tidak
ia kenal.

6. Wawancara Kelompok (Panel or Group Interview). Wawancara
kelompok adalah suatu jenis wawancara kerja dimana para pewawancara
recruiter) terdiri dari 2 (dua) orang atau lebih. Biasanya
wawancara jenis ini dilakukan jika perusahaan memandang bahwa pelamar
sudah hampir memenuhi syarat untuk diterima bekerja. Biasanya para
penanya dalam wawancara inilah yang memiliki wewenang untuk memutuskan
apakah pelamar akan diterima bekerja atau tidak.

7. Wawancara Kasus (Case Interview). Wawancara kerja jenis ini
menekankan pada kemampuan analisis dan pemecahan masalah terhadap
suatu kasus tertentu. Biasanya Tujuan Wawancara Kerja (job interview)
saat ini merupakan salah satu aspek penting dalam proses rekrutmen
dan seleksi karyawan. Meskipun validitas wawancara dianggap lebih
rendah jika dibandingkan dengan metode seleksi yang lain seperti
psiko test, namun wawancara memiliki berbagai kelebihan yang
memudahkan petugas seleksi dalam menggunakannya. Apapun penilaian
pelamar (calon karyawan), wawancara kerja sebenarnya memberikan suatu
kesempatan atau peluang bagi pelamar untuk mengubah lowongan kerja
menjadi penawaran kerja. Mengingat bahwa wawancara kerja tersebut
merupakan suatu proses pencarian pekerjaan yang memungkinkan pelamar
untuk memperoleh akses langsung ke perusahaan (pemberi kerja),
maka "performance" (baca: proses & hasil) wawancara kerja merupakan
suatu hal yang sangat krusial dalam menentukan apakah pelamar akan
diterima atau ditolak.

Bagi si pelamar, wawancara kerja memberikan kesempatan kepadanya
untuk menjelaskan secara langsung pengalaman, pengetahuan,
ketrampilan, dan berbagai faktor lainnya yang berguna untuk
meyakinkan perusahaan bahwa dia layak (qualified) untuk melakukan
pekerjaan (memegang jabatan) yang ditawarkan. Selain itu wawancara
kerja juga memungkinkan pelamar untuk menunjukkan kemampuan
interpersonal, professional, dan gaya hidup atau kepribadian
pelamar. Jika di dalam CV (Curriculum Vitae) pelamar hanya bisa
mengklaim bahwa dirinya memiliki kemampuan komunikasi dan
interpersonal yang baik, maka dalam wawancara dia diberi kesempatan
untuk membuktikannya.

Bagi perusahaan, wawancara kerja merupakan salah satu cara untuk
menemukan kecocokan antara karakteristik pelamar dengan dengan
persyaratan jabatan yang harus dimiliki pelamar tersebut untuk
memegang jabatan / pekerjaan yang ditawarkan. Secara umum tujuan
dari wawancara kerja adalah:

1. Untuk mengetahui kepribadian pelamar
2. Mencari informasi relevan yang dituntut dalam persyaratan
jabatan
3.Mendapatkan informasi tambahan yang diperlukan bagi jabatan dan
perusahaan

4. Membantu perusahaan untuk mengidentifikasi pelamar-pelamar yang
layak untuk diberikan penawaran kerja.

Teknik Wawancara Kerja

Dua teknik wawancara yang biasa dipergunakan perusahaan dalam
melakukan wawancara kerja adalah wawancara kerja tradisional dan
wawancara kerja behavioral. Dalam prakteknya perusahaan seringkali
mengkombinasikan kedua teknik ini untuk memperoleh data yang lebih
akurat.

1. Wawancara kerja tradisional menggunakan pertanyaan-pertanyaan
terbuka seperti "mengapa anda ingin bekerja di perusahaan ini",
dan "apa kelebihan dan kekurangan anda". Kesuksesan atau kegagalan
dalam wawancara tradisional akan sangat tergantung pada kemampuan
si pelamar dalam berkomunikasi menjawab pertanyaan-pertanyaan,
dari ada kebenaran atau isi dari jawaban yang diberikan. Selain itu
pertanyaan- pertanyaan yang diajukan lebih banyak bersifat klari-
fikasi apa yang ditulis dalam surat lamaran dan CV pelamar. Dalam
wawancara kerja tradisional, recruiter biasanya ingin menemukan
jawaban atas 3(tiga) pertanyaan: apakah si pelamar memiliki
pengetahuan, ketrampilan dan kemampuan untuk melakukan pekerjaan,
apakah si pelamar memiliki antusias dan etika kerja yang sesuai dengan
harapan recruit, dan apakah si pelamar akan bisa bekerja dalam team
dan memiliki kepribadian yang sesuai dengan budaya perusahaan.

2. Wawancara kerja behavioral didasarkan pada teori
bahwa "performance" (kinerja) di masa lalu merupakan indikator
terbaik untuk meramalkan perilaku pelamar di masa mendatang (baca:
ketika bekerja). Wawancara kerja dengan teknik ini sangat sering
digunakan untuk merekrut karyawan pada level managerial atau oleh
perusahaan yang dalam operasionalnya sangat mengutamakan masalah-
masalah kepribadian. Wawancara kerja behavioral dimaksudkan untuk
mengetahui respon pelamar terhadap suatu kondisi atau situasi
tertentu sehingga pewawancara dapat melihat bagaimana pelamar
memandang suatu tantangan/permasalahan dan menemukan solusinya.
Pertanyaan-pertanyaan yang biasanya diajukan antara lain: "coba
anda ceritakan pengalaman anda ketika gagal mencapai target yang
ditetapkan", dan "berikan beberapa contoh tentang hal-hal apa yang
anda lakukan ketika anda dipercaya menangani beberapa proyek
sekaligus". Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut si
pelamar perlu mempersiapkan diri untuk mengingat kembali situasi,
tindakan dan hasil yang terjadi pada saat yang lalu. Selain itu,
sangat penting bagi pelamar untuk memancing pertanyaan-pertanyaan
lebih lanjut dari pewawancara agar dapat menjelaskan secara rinci
gambaran situasi yang dihadapinya. Untuk itu diperlukan ketrampilan
berkomunikasi yang baik dari si pelamar. Keberhasilan atau
kegagalan dalam wawancara ini sangat tergantung pada kemampuan
pelamar dalam menggambarkan situasi yang berhubungan dengan pertanyaan
pewawancara secara rinci dan terfokus. Dalam wawancara kerja
behavioral, si pelamar harus dapat menyusun jawaban yang mencakup 4
(empat) hal:
(1) menggambarkan situasi yang terjadi saat itu, (2) menjelaskan
tindakan-tindakan yang diambil untuk merespon situasi yang terjadi,
(3) menceritakan hasil yang dicapai, dan (4) apa hikmah yang
dipetik dari kejadian tersebut (apa yang dipelajari).

Note : dari berbagai sumber.

Sunday, June 20, 2010

Pepino, Sumber Vitamin C

Bentuknya seperti terong, karena masih kerabat dengan terong. Pepino ( Solanum muricatum aiton ) dapat bersaing dengan jeruk sebagai sumber vitamin C.

Dalam 100 gram Pepino terdapat Vitamin C 25.1 mg, Protein 0.6 gram, betakaroten 26.6 mg dan 1-1.5 gram adalah serat pangan.

Buah Pepino adalah sumber nutrisi penting bagi tubuh kita.

Peluang bisnis untuk membudidayakan dan memasarkan si Pepino ini.

Manfaat Membaca Ayat Kursi

Ayat Kursi diturunkan pada suatu malam selepas Hijrah. Menurut riwayat, ketika ayat kursi diturunkan disertai dengan beribu-ribu malaikat sebagai penghantarnya, kerana kebesaran dan kemuliaannya.

Syaitan dan Iblis menjadi gempar kerana adanya suatu alamat yang menjadi perintang dalam perjuangan nya.

Rasulallah s.a.w segera memerintah kepada penulis alQuran iaitu Zaid bin Thabit agar segera menulisnya dan menyebarkannya.

Ada terdapat sembilan puluh lima buah hadis yang menjelaskan fazilat ayat kursi. Sebabnya ayat ini disebut ayat KURSI kerana di dalam nya terdapat perkataan KURSI, ertinya tempat duduk yang megah lagi yang mempunyai martabat.

Perlu di ingat, bukan yang di maksudkan dengan KURSI ini tempat duduk tuhan, tetapi adalah KURSI itu syiar atas kebesaran Tuhan.

Khasiat Ayat Kursi:

1.Sesiapa yang membaca ayat Kursi dengan istikamah setiap kali selesai sembahyang fardhu, setiap pagi dan petang, setiap kali masuk kerumah atau kepasar, setiap kali masuk ke tempat tidur dan musafir, insyaallah akan diamankan dari godaan syaitan dan kejahatan raja-raja (pemerintah) yang kejam, diselamatkan dari kejahatan manusia dan kejahatan binatang yang memudharatkan. Terpelihara dirinya dann keluarganya, anak-anak nya, hartanya, rumahnya dari kecurian, kebakaran dan kekaraman.

2.Terdapat keterangan dalam kitab Assarul Mufidah, barang siapa yang mengamalkan membaca ayat kursi, setiap kali membaca sebanyak 18 kali, inyaallah ia akan hidup berjiwa tauhid, dibukakan dada dengan berbagai hikmat, dimudahkan rezekinya, dinaikkan martabatnya, diberikan kepadanya pengaruh sehingga orang selalu segan kepadanya, diperlihara dari segala bencana dengan izin Allah s.w.t.

3.Salah seorang ulama Hindi mendengar dari salah seorang guru besarnya dari Abi Lababah r.a, membaca ayat Kursi sebanyak anggota sujud (7 kali) setiap hari ada benteng pertahanan Rasulallah s.a.w.

4.Syeikh Abul ‘Abas alBunni menerangkan: “Sesiapa membaca ayat Kursi sebanyak hitungan kata-katanya (50 kali), di tiupkan pada air hujan kemudian diminumnya, maka inysyaallah tuhan mencerdaskan akalnya dan memudahkan faham pada pelajaran yang dipelajari.

5.Sesiapa yang membaca ayat Kursi selepas sembahyang fardhu, Tuhan akan mengampunkan dosanya. Sesiapa yang membacanya ketika hendak tidur, terpelihara dari gangguan syaitan, dan sesiapa yang membacanya ketika ia marah, maka akan hilang rasa marahnya.

6.Syeikh alBuni menerangkan: Sesiapa yang membaca ayat Kursi sebanyak hitungan hurufnya (170 huruf), maka insyaallah, Tuhan akan memberi pertolongan dalam segala hal dan menunaikan segala hajatnya, dam melapangkan fikiranyan, diluluskan rezekinya, dihilangkan kedukaannya dan diberikan apa yang dituntutnya.

7.Barang siapa membaca ayat Kursi ketika hendak tidur, maka Tuhan mewakilkan dua malaikat yang menjaga selama tidurnya sampai pagi.

8.Abdurahman bin Auf menerangkan bahawa, ia apabila masuk kerumahnya dibaca ayat Kursi pada empat penjuru rumahnya dan mengharapkan dengan itu menjadi penjaga dan pelindung syaitan.

9.Syeikh Buni menerangkan: sesiapa yang takut terhadap serangan musuh hendaklah ia membuat garis lingkaran denga nisyarat nafas sambil membaca ayat Kuris. Kemudian ia masuk bersama jamaahnya kedalam garis lingkaran tersebut menghadap kearah musuh, sambil membaca ayat Kursi sebayak 50 kali, atau sebanayk 170 kali, insyaallah musuh tidak akan melihatnya dan tidak akan memudharatkannya.

10.Syeikul Kabir Muhyiddin Ibnul Arabi menerangkan bahawa; sesiapa yang membaca ayat Kursi sebayak 1000 kali dalam sehari semalam selama 40 hari, maka demi Allah, demi Rasul, demi alQuran yang mulia, Tuhan akan membukakan baginya pandangan rohani, dihasilkan yang dimaksud dan diberi pengaruh kepada manusia. (dari kitab Khawasul Qur’an)

Monday, November 09, 2009

RADIATOR

Jika mesin mobil mogok karena overheat, pastinya kejadian tersebut akan sangat menjengkelkan dan dapat merusak mesin, namun sebenarnya kejadian ini bisa dihindari jika radiator dan sistem pendingin selalu diperhatikan dan dirawat dengan baik, karena komponen ini termasuk bagian penting untuk menjaga sushu mesin tetap pada batas aman.
Untuk merawat radiator, salah satu cara yang biasa dan bisa dilakukan sendiri adalah menjaga volume air radiator dan menguras air radiator secara berkala, setiap 40.000 Km atau 1 tahun sekali jika mobil jarang dipakai.

Nah..untuk melakukannya sendiri, ada langkah tepat agar tidak salah, berikut ini langkah-langkah dalam menguras dan mengisi ulang air radiator :

1. Buka sumbat radiator (letaknya di bagian bawah radiator), lalu buka tutup radiator dan biarkan air radiator lama mengalir keluar sampai habis bersama kerak atau kotoran radiator.

2. Setelah semua air keluar, tutup kembali sumbat radiator dan mulailah menuangkan air dari lubang pengisian radiator diatas sampai penuh (paling baik menggunakan air hasil penyulingan khusus untuk radiator atau menggunakan cairan radiator coolant). Untuk kendaraan yang dilengkapi dengan katup pembuang udara seperti Avanza atau Xenia, pada waktu mengisi air, katup ini dibuka hingga air keluar melalui katup ini.

3. Setelah penuh, silakan menutup kembali lubang pengisian radiator rapat-rapat.

4. Hidupkan mesin dengan posisi AC off. Biarkan mesin hidup beberapa saat sampai kipas elektrik berputar agar air radiator bersirkulasi hingga ke dalam mesin untuk kebutuhan sistem pendingin, lalu matikan kembali mesin. Jangan lupa, di tahap ini anda harus memeriksa selalu suhu mesin pada indikator temperatur di dashboard saat mesin menyala, dan segera matikan mesin bila temperatur naik melewati batas. Untuk kendaraan yang tidak menggunakan kipas elektrik, bisa dengan melihat indikator temperatur di dashboard sampai jarum menunjuk posisi setengah.

5. Setelah mesin kembali dingin, buka kembali penutup radiator, lalu periksa kembali apakah volume air masih tampak penuh. Jika ya, berarti proses mengisi air radiator telah selesai dan anda bisa langsung ke langkah no 7. Tapi jika tidak, tambahkan kembali sampai batas mencapai maksimum.

6. Tutup kembali radiator dan ulangi langkah 4-5 di atas.

7. Periksa juga volume air di tangki cadangan air radiator, kuras juga jika terlihat telah kotor. Pastikan permukaan air cadangan harus di atas batas “minimum” dalam takaran tangki cadangan. Tangki cadangan air radiator harus diisi dengan air atau cairan radiator coolant yang sama.

Untuk selanjutnya, selalu pastikan terlebih dahulu volume air radiator selalu cukup sebelum mobil dipakai. Selamat mencoba.

Friday, October 23, 2009

Multiple intelligences

In 1983, Howard Gardner began publishing on the whole
concept of intelligence. He made popular the idea of
multiple intelligences in his book Frames of the Mind. In his
literature, he mentioned 7 major intelligences and that
an individual cannot be assessed on one IQ score alone.
The 7 major intelligences an individual could have (in no
particular hierarchy of importance) are:

Linguistic – a sensitivity to written & spoken language, the
ability to learn language and the capacity to use language
to accomplish certain goals, eg lawyers, speakers, writers,
poets may demonstrate this intelligence.
Logical-Mathematical – a capacity to analyze problems
logically, to carry out mathematical operations and
an ability to investigate issues scientifically. This is welldeveloped
in mathematicians, scientists, people who are
logical.

Musical – ability to perform skills with musical pursuits,
compose music, appreciation of musical patterns e.g
musicians, composers, conductors, dancers.
Bodily-kinesthetic – potential to use whole or part of body
to demonstrate patterns or to solve problems, or to fashion
products, e.g. dancers, actors, athletes, craftspeople,
surgeons, dentists, mechanics, hands-on technical
people.

Spatial intelligence – potential to recognize and manipulate
patterns of wide spaces, e.g navigators, pilots. Also the
patterns of being able to navigate in more confined
spaces such as sculptors, surgeons, dentists, architects,
chess players, graphic artists.

Personal intelligence - capacity of a person to understand
the intentions, motivations and desires of another person,
and consequently the ability to work with others. E.g.
teachers, leaders, political leaders, actors.

Intrapersonal intelligence – the capacity to understand
oneself, to have an effective working model of oneself,
including one’s own desires, fears, inner thoughts and to
use such information effectively in regulating one’s own
life.
Gardner brought forth a whole new light in intelligence
testing – that the human being has multitude intelligences
and may demonstrate a whole range of these, to different
extends and uses, and in different combinations.
Gardner’s later work : Intelligences reframed in 1999 stated
that we should not be confined to the 7 major intelligences.
Some of the ones he discussed were:
Naturalistic intelligence – an ability to recognize and
classify species.

Spiritual intelligence – a gift for religion, mysticism or the
transcendent. This is quite controversial with the sciences.
But even if we just consider not in the academic realm
and appreciate that these people really do have a level
of intelligence deeper than what the scientific eye might
see.

Existential intelligence – concerned with ultimate issues
which seem to be ambiguously conceived : the much
bigger questions in life, such as Who are we? Where are
we? Where do we come from?

Moral intelligence – ability to master the value systems
within their cultures, through linguistic, logical or personal
intelligences.
In his later work in the 1990s, Gardner had taken his
baseline intelligences and expanded them into actions,
tasks or activities that people may do. Further, we may
start thinking about what some of the intelligences we
may have: leadership intelligence, supporter-follower
intelligence, financial intelligence, planning intelligence

collaborative intelligence, social etiquette intelligence,
aesthetic intelligence, narrative intelligence, playful
intelligence, humorous intelligence.
Gardner emphasized we should not restrict our intelligences,
but to consider that everyone of us has a range, depth
and breadth of intelligences. When we start embracing
that, we can start appreciating our own qualities and
abilities. When these intelligences are given credit, we can
start trusting in our own capabilities and push forward to
demonstrate that which may have been lying dormant,
hidden or uncovered.

Emotional Intelligence

Howard Gardner was a university professor and he
brought a lot of new light into intelligences. An even more
powerful reassessment of intelligences came with Daniel
Goleman’s work in 1996. He wrote a book called Emotional
Intelligence, or more commonly known as EQ, where he
discussed and challenged the concept that IQ was the
sole measure of intelligence. He argues that our world has
ignored a significant amount of skills and abilities – that of
emotions. He states the importance of recognizing one’s
own emotional life, regulating one’s feelings, understanding
those of others and being able to work with others – these
are a part of the collective intelligence of a person.
A book written in 1997 called Executive EQ by Cooper
and Sawaf talked about the extension of Goleman’s work
– applying EQ into the business environment, talking about
the different aspects a professional may wish to address,
look and develop in order to develop themselves as a
professional in this day of constant change, and the need
to understand the diversity and differences within the work
environment.

Executive EQ talks about 16 different intelligences within
the emotional quotient. These are broken into 4 main
categories.
Emotional literacy – has to do with the individual’s ability
to express themselves emotionally. This is divided into 4
sections:

Emotional honesty - Do you have the courage to say what
is really going on for you? Or do you tend to stifle it, to keep
it down, to keep it to yourself?
Emotional energy – What’s your stamina like? Notice that
sometimes when you are lacking in energy that you can be
more reactive, more emotionally charged? Do you have a
stamina to hold up or stand up to the stresses you need to
cope with from a day to day functioning basis.
Emotional feedback – Are you able to give feedback to
other people on an emotional level? It is also to do with
your sensitivity, and your ability to have empathy.
Emotional connection & intuition – Are you able to intuit?
Are you able to make connections with people? Are you
able to get a sense, a gut feel? Does that come to you
easily? It is interesting to note that it may come to you
easily. Yet do you take the time to read and understand
what that is really about.

Emotional fitness
Authentic presence - When people meet you, do they sense
an authenticity to you, a realness, a solidness about you?
People who often hold the authentic presence usually puts
across a strong charisma. One gets a sense of something
profound or of high quality, or a deeper meaning about
them.
Trust radius – How far afield do people trust you, and take
solace in you?

Constructive discontent – Are you able to cope with any
discussion, contest, argument or criticism. What is your level
of stamina? What is your level of solid belief in yourself?
Resilience and renewal – Do you have the strength and
resilience? Are you able to renew yourself?
Emotional depth
Unique potential & purpose – Are you clear on your
purpose? Do you know your mission? People who know
their mission, direction or purpose tend to have a more
solid basis in themselves. From that they develop their
strength in their EQ.
Commitment – Do you have a commitment to your
word, your own direction, a commitment to where you
are living or where you are working? EQ develops as your
commitment develops.
Applied integrity – Do you know your own values? Are you
clear on what you will stand up for or put up for?
Influence without authority – people who are able to use
influence patterns that allow other people to come along
with them, to believe in them, to be influenced so they will
then follow their course or mission.
Emotional alchemy – Alchemy is about turning common
metals into precious metals: Phenomena which allow
something that is relatively worthless to be transformed
into something that is worthy.
Intuitive flow – Where do your creative juices come
from?
Reflective time shifting – Are you able to know how this
idea or initiative or project is going to affect your people
within a week , a month, a year? That you are able to shift
your time perspective to be able to see if it is going to be
of value or not.

Opportunity sensing – Some people are just able to
sense to pick up on the different aspects that will flourish
their business, or take it to another level. Or just see an
opportunity of how they can develop further.
Creating a future – People who can see a future and then
create a future who can develop their own emotional
intelligence.

People who are able to develop the 4 emotional
cornerstones of literacy, fitness, depth and alchemy are
those who are able to develop their depth and breadth
of their EQ.
EQ is playing a more important role in business now more
than ever because time is moving on more quickly. (Refer
Appendix 1) The changes we are needing to work with are
happening more rapidly. The complexity of the changes
we are needing to deal with is increasing. The times
we have got to implement the changes relative to the
amount of resources is decreasing. We have to work a lot
quicker. Gone are the days when we had weeks or hours
even to ponder over a decision, to analyze and look at
the depth of the research that we can do before we can
make our decision. We are having to think much more on
our feet, to respond to situations, to be able to come up
with the best decisions, in that given time.


Referensi : Ledership Intelligence.integrated dental markeing

Saturday, October 17, 2009

Creativity


Dear all;


There are a number of obstacles which inhibit creativity. The seven main ones are :


1 Negativity
2 Fear of failure
3 Lack of quality thinking time
4 Over-conformance with rules and regulations
5 Making assumptions
6 Applying too much logic
7 Thinking you are not creative.

These obstacles can be seen in this identi-kit profile of the noncreative
person; someone who is:
• not able to think positively about problems (and does not see
them as opportunities)
• too busy or stressed to think objectively or at all
• very self-critical
• timid in putting forward a new idea (fearing ridicule)
• viewed as a conformist by friends/colleagues
• prone to apply logic as a first and last resort
• sceptical that many people are capable of being creative
• unable to think laterally
• uninspired even when confronted with a new idea.

On the other hand, creativity can be encouraged in people (including
oneself) by exploring some of the qualities and characteristics of
creative thinkers and the activities/steps that can be undertaken to
improve the processes involved.

To be creative an individual should:

1 think beyond the invisible frameworks that surround problems
/situations
2 recognise when assumptions are being made and challenge them
3 spot blinkered thinking and widen the field of vision (to draw on
the experiences of other individuals/businesses)
4 develop/adapt ideas from more than one source
5 practice serendipity (finding valuable and agreeable things when
not particularly seeking them) – having a wide attention span
and range of interests is important
6 ‘transfer technology’ from one field to another
7 be open/prepared to use chance or unpredictable things/events
to advantage
8 explore thought processes and the key elements of the mind at
work in analysing, valuing and synthesising
9 use his/her ‘depth’ mind (the unconscious mind) for example
by sleeping on a problem to generate creative solutions to
problems
10 note down thoughts/ideas that apparently drop into the mind
unsolicited so that they are not forgotten
11 use analogy (to improve imaginative thinking) to find ‘models’
or solutions in ‘nature’, in existing products/services and/or in
other organisations – not always reinventing the wheel
12 try, as appropriate, to sometimes make the strange familiar and
the familiar strange to spark new ideas
13 make connections with points that are:

• apparently irrelevant
• disguised/buried or not easily accessible
• outside own sphere of expertise
• lacking authority

14 suspend judgement to encourage the creative process and avoid
premature criticism – analysis and criticism repress creativity)
15 know when to leave a problem (remaining aware but detached)
for solutions to emerge – patience is important here as is the
suspension of judgement
16 tolerate ambiguity and occasionally live with doubt and
uncertainty
17 stimulate own curiosity (in everything including travel) and the
skills of observation, listening, reading and recording.
Managers should remember that creativity should challenge the status
quo to test continuously for improvements, because:
• a thing is not right because we do it
• a method is not good because we use it
• equipment is not the best because we own it

Creativity can be improved by remembering that the creative
process has four main stages and each needs to be properly ‘worked’:

1 Preparation (information gathering, analysis and solution
exploration)
2 Incubation (letting the mind work to continue the process)
3 Illumination (inspiration – which can come when the individual
is not necessarily thinking about the problem but is in a relaxed
frame of mind)
4 Verification (testing ideas, solution, hunches, insights for
applicability).
If ideas or solutions to problems are slow to come it sometimes can
pay to leave matters alone for a while and reassess with:
• a new starting point;
• a different perspective;
• fresh motivation; and
• further consultation.

Referensi :Handbook of management & leadership