Sunday, October 29, 2006

Islam Itu Agama Paling Inklusif


Pemahaman keagamaan selalu ditentukan banyak faktor. Namun, pengalaman pribadi tiap orang dalam menghayati keagamaan adalah faktor terpenting. Demikian pendapat Endy Bayuni, pemimpin redaksi The Jakarta Post, Kamis (15/9) lalu, kepada Novriantoni dari Kajian Islam Utan Kayu (KIUK).

Seperti apa agama diperkenalkan kepada Anda sejak kecil?

Saya datang dari keluarga Minangkabau yang punya tradisi keagamaan (Islam) cukup ketat. Keluarga dan lingkungan saya begitu gigih dan kuat agamanya. Saya mendapat pendidikan agama, terutama dari orang tua, lingkungan, dan pengalaman hidup. Tapi, sebagian besar proses pendewasaan diri saya terjadi di luar negeri karena ayah saya seorang diplomat. Selama 25 tahun saya berada di luar negeri; di Birma, Thailand, Argentina, dan terakhir Inggris. Di Inggris saya mulai menginjak masa remaja.
Tapi, dari semua riwayat itu, masa yang paling penting dalam pembentukan pemahaman keagamaan saya mungkin waktu remaja berada di Inggris. Itulah saat saya mencari identitas dan juga mencari tahu siapa saya. Di situ pula pertanyaan mengenai agama kali pertama mulai dicari tahu.
Orang tua saya termasuk cukup banyak memberi tahu saya tentang agama. Di rumah kita dibesarkan oleh nilai-nilai Islam yang ketat. Di sekolah kita juga mendapat ajaran agama. Tapi, akhirnya pemahaman saya tentang Islam lebih banyak dibentuk pengalaman hidup. Apa yang diajarkan orang tua dan guru mengaji tentu juga masuk bagian proses saya mencari kebenaran.
Apakah Anda pernah giat membaca literatur tentang agama?Sewaktu kuliah di Inggris, saya ikut Islamic society. Di situ saya banyak membaca, bukan hanya literatur tentang Islam, tapi juga agama lain. Tapi, pengetahuan saya mengenai agama dan pemeluk agama lain lebih banyak dibentuk oleh pergaulan yang bersifat internasional.
Saya pernah punya teman-teman Yahudi walau di Indonesia kita selalu diberi tahu bahwa Yahudi itu jahat. Padahal, kalau kita teliti sejarah Islam, sebenarnya juga riwayat yang mengatakan bahwa orang Yahudi pernah menolong Rasul dengan memberi perlindungan ketika sedang dicari untuk dibunuh.
Jadi, ada dua sisi dari orang Yahudi dan itu pelajaran yang saya dapatkan dari proses pergaulan dengan teman-teman dari berbagai agama. Dari situ saya tahu, dalam kelompok agama apa pun selalu ada orang baik dan ada jahat. Di Yahudi ada yang baik dan ada juga yang jahat.
Juga di Kristen, ada yang baik dan yang jahat. Di Islam pun begitu. Pengalaman itu membentuk semacam keyakinan pada diri saya tentang pentingnya nilai-nilai pluralisme, terutama bagi saya pribadi.

Dengan pergaulan lintas agama, apakah Anda merasa keyakinan Anda terhadap Islam mencair begitu rupa?

Pengalaman saya menunjukkan, lewat pergaulan yang luas saya dapat mengenal orang-orang dari kelompok agama lain. Itu justru memperkuat keyakinan saya bahwa Islam adalah pilihan saya dan agama yang paling sempurna. Pergaulan semacam itu juga mengajarkan pada saya untuk menghormati orang dan kepercayaan agama lain. Justru di situ kita dituntut untuk bertoleransi, dengan catatan mereka juga harus menghormati kepercayaan saya.
Kalau itu yang dilakukan kedua pihak, saya pikir tidak akan ada masalah agama di dunia ini yang tidak bisa diatasi. Sebab, kalau tidak ada komunikasi, akhirnya yang ada hanya saling tidak tahu mengenai agama dan manusia lain. Terjadilah rasa curiga.

Mengapa Anda yakin Islam agama yang paling sempurna?

Sebab, saya melihat Islam paling inklusif. Pada 2003-2004, saya mendapatkan kesempatan menerima fellowship di Harvard University, Amerika Serikat. Saya mengisi beberapa sesi seminar di Teologi Harvard. Salah satu topik seminarnya adalah soal hubungan antaragama warisan Nabi Ibrahim, yaitu Yahudi, Kristen, dan Islam. Di situ pembicara dari agama Yahudi mengakui bahwa Islam adalah agama paling inklusif dibandingkan Yahudi dan Kristen. Argumennya, karena Islam mengakui keberadaan agama, kitab-kitab suci, dan nabi-nabi sebelumnya. Nabi-nabi mereka adalah nabi-nabi kita juga.
Sementara itu, agama yang diturunkan sebelum Islam, misalnya Kristen, tidak mengakui keberadaan Islam. Mungkin karena Islam datang sesudah keduanya. Jadi, masuk akal kalau dalam kitab mereka tidak diajarkan harus menghormati Islam (karena barangnya belum ada, Red). Kita tahu, Yahudi adalah agama yang diturunkan buat suku/ras yang spesifik, yaitu Bani Israel.

Karena paling inklusif, pemeluk Islam harus lebih toleran kepada pemeluk agama lain?

Ya. Jadi, seharusnya kita sebagai pemilik agama ini lebih toleran terhadap agama lain. Kita mengerti agama mereka mungkin juga diterima di sisi Allah. Di Islam, kita diajarkan juga untuk berlomba-lomba dalam berbuat kebajikan agar diterima di sisi Allah.
Pandangan seperti Anda mungkin dianut juga oleh orang yang konservatif sekalipun di dalam Islam. Tidakkah pandangan seperti itu bisa terjatuh pada anggapan bahwa agama lain sudah terdistorsi dan karena itu Islam datang melengkapi, dll? Dalam soal ini, kita harus kembali pada ayat Alquran yang mengatakan, "bagimu agamamu, bagiku agamaku". Dengan itu, kita bisa menganut agama berbeda, tapi tetap saling menghormati. Saya menekankan bahwa Islam itu bebannya lebih besar untuk toleransi.
Di sini kita kadang menemukan keberatan masyarakat Islam terhadap pembangunan gereja di lingkungan mereka. Mereka curiga gereja akan digunakan untuk sarana pemurtadan.
Anggapan seperti itu sebenarnya tidak selalu salah. Sebab, di Kristen juga diajarkan agar orang lain dirangkul untuk masuk Kristen. Mereka kadang bisa melakukan itu dengan jiwa yang lebih kuat dari orang Islam.
Tapi, kita juga ditugaskan untuk dakwah dengan batasan tertentu. Kalau tidak diterima, tidak apa-apa. Tapi, kadang orang Kristen masuk dan melakukan itu karena rasa cinta dan perasaan ingin menyelamatkan tetangganya.
Karena itu, saya katakan, kecurigaan seperti itu kadang juga benar. Tapi, jawaban atas kecurigaan itu bukan dengan melarang pemeluk Kristen membangun gereja. Itu sudah hak mereka yang diberikan negara dan dijamin undang-undang. Solusinya, bagaimana umat Islam lebih memperkuat iman sendiri terhadap Islam; bukan melarang, apalagi merusak. Sebab, itu sudah mengarah ke tindak kriminal.

Tapi, mengapa persoalan rumah ibadah baru sangat menonjol beberapa tahun terakhir?

Kalau sekarang bermasalah, sedangkan dulu tidak, berarti ada perubahan. Salah satu di antaranya adalah semakin banyaknya kecurigaan terhadap usaha dakwak Kristen. Memang, ada beberapa kasus yang terjadi. Kasus-kasus itu lalu menimbulkan citra bahwa proses pemurtadan memang terjadi di masyarakat. Tapi, memang lebih banyak kecurigaan daripada apa yang sebenarnya terjadi. Kadang ada satu dua kasus yang terjadi, lalu itu digeneralisasi.
Penjelasan lainnya: di kalangan muslim sendiri terjadi krisis ketidakpercayaan diri terhadap agama sendiri. Itu harus diperbaiki. Karena itu, kita harus membangun nilai-nilai Islami, pertama di rumah sendiri, lalu di lingkungan tempat kerja, dan sekolah.

Anda punya kritik tehadap klaim keselamatan sepihak tiap-tiap agama?

Setiap agama memang punya klaim tentang keselamatan dan dengan itu, agamanyalah yang dianggap jalan ke surga. Bagi Kristen, untuk selamat, seseorang harus masuk Kristen. Tapi, di Islam, ada ayat -saya tidak ingat- yang intinya mengatakan bahwa kita harus berlomba-lomba menuju kebajikan agar bisa diterima di sisi Allah. Ada lagi ayat yang mengatakan bahwa agama-agama yang diturunkan melalui Nabi Ibrahim dan keturunannya pun diterima di sisi Allah.
Jadi, Islam sebenarnya mengakui bahwa jalan ke surga tak mesti melalui Islam. Tapi, sebagai orang Islam, saya yakin bahwa Islam yang terbaik dan sempurna untuk membentangkan jalan ke surga.
Bahwa ada yang mengatakan harus melalui Kristen, kita juga harus hormati. Kita tidak bisa memaksakan. Dalam Islam kan juga dikatakan bahwa soal kepercayaan tidak boleh ada pemaksaan. Jadi, pandangan seperti itu harus kita terima juga.
Apa pandangan Anda tentang teori kebenaran relatif tiap-tiap agama?Kita semua memang sedang mencari kebenaran. Saya pikir, agama hanya instumen untuk sampai ke sana. Kalau dalam Islam, Alquran dan hadis yang digunakan untuk mendapatkan kebenaran. Tapi, sebetulnya kehidupan kita sejak lahir sampai meninggal adalah proses untuk mencari kebenaran. Jadi, kalau dibilang relatif, benar juga. Tapi, kita juga harus punya keyakinan tentang bagaimana harus mengajarkan Islam kepada anak-anak.

Apa pandangan Anda tentang keragaman kelompok keagamaan dalam Islam?

Itu merefleksikan kenyataan yang ada dalam kehidupan. Artinya, di tingkat individu sendiri pemahaman tiap orang tentang agama akan sangat berbeda. Pemahaman saya tentang Islam dengan Anda mungkin berbeda karena kita telah menjalani pengalaman hidup yang berbeda.
Tapi, saya tak bisa mengatakan bahwa Islam saya lebih bagus daripada Anda. Kalau mengklaim begitu, itu justru bukan bernama Islam, tapi kesombongan. Yang akan mengatakan bahwa orang itu Islamnya lebih baik daripada yang lain hanya Allah sendiri. Makanya, kita dianjurkan berlomba-lomba berbuat lebih baik agar diterima di sisi Allah.
Adanya organisasi-organisasi keagamaan seperti NU atau Muhamadiyah hanya menggabungkan pemeluk Islam ke dalam kelompok yang kira-kira punya titik kesamaan. NU punya tradisi yang kuat di Jawa pedesaan, sementara Muhamadiyah lebih banyak diikuti orang-orang perkotaan atau kaum pedagang. Tapi, saya yakin, di Muhamadiyah sendiri banyak terjadi perdebatan mengenai pemahaman Islam, demikian juga di NU.
Jadi, yang ada adalah keragaman pemahaman. Kitabnya sama, Rasulnya sama, Tuhannya pun sama. Tapi, dalam soal pemahaman, selalu akan didasarkan pada pengalaman hidup masing-masing.

( Wawancara menarik diatas saya kutip dari Jawapos edisi 22 Sept. 2006 )
Foto : Brilian Putra A

Meng-apresiasi-diri dengan IDUL FITRI

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar walillahilhamdu.
Gemuruh dan spirit takbir dan tahmid kembali berkumandang, menyertai semangat umat untuk memaknai dan menemui kembali satu dari dua hari besar umat Islam, yaitu Idul Fitri.
Setelah satu bulan Ramadhan lamanya umat menempa dan mengasah jati diri dan fitrahnya dengan beragam kegiatan ibadah mahdhah seperti puasa, shalat tarawih, shalat berjamaah, tadarus Alquran, iktikaf, juga dengan ibadah ijtima'iah (sosial) seperti zakat mal, zakat fitrah, infak dan sedekah, silaturahim dalam forum buka puasa maupun sahur baik dengan sesama kolega maupun dengan para yatim dan dhuafa lainnya, bahkan dengan semangat untuk mudik pulang kampung, atau juga dengan ibadah ilmiah seperti dengan mendengarkan ceramah kajian agama yang begitu penuh sepanjang waktu dengan ragam ustadz dan beragam materi, layaklah bila satu bulan Ramadhan ini diharap mampu mengasah kepekaan umat untuk kembali pada jati dirinya nan fitri itu. Apalagi dengan datangnya bulan Ramadhan umat telah secara sukarela, penuh ketaatan dan kekuatan, berani melaksanakan perintah merealisasi syariah berpuasa satu bulan Ramadhan lamanya. Sekalipun untuk melakukan itu harus mengubah jadwal kegiatan harian termasuk aktivitas makan minum dan hubungan suami istri.

Modal besarUpaya keras yang telah dilakukan umat selama satu bulan lamanya itu, diharapkan mampu memberikan dorongan yang lebih kuat untuk menjadikannya modal besar bagi pengisian dan pemaknaan aktivitas kehidupan sesudah Ramadhan hingga datang kembali Ramadhan di tahun depan. Apresiasi ini dirasa penting dan mendesak untuk diketengahkan. Sebab, berbilang kali Ramadhan telah dilalui, tetapi kehidupan umat pasca-Ramadhan selalu seolah hanya pengulangan rutin.

Seolah-olah mereka belum lulus di dalam merealisasi nilai-nilai yang terkandung di dalam aktivitas beragam ibadah di bulan Ramadhan. Kekerasan di dalam rumah tangga, tawuran antarkampus dan antarkampung terus terjadi. Begitu juga perusakan lingkungan seperti illegal logging, pembakaran hutan, lumpur panas Lapindo Brantas, perusakan kemanusiaan dengan woman trafficking, narkoba, flu burung, pelanggaran hukum seperti KKN, terorisme, mafia peradilan, berkelanjutannya pemiskinan, meningkatnya jumlah pengangguran, bahkan juga meningkatnya jumlah anak-anak korban gizi buruk.

Di tengah meningkatnya jumlah jamaah umrah dan haji, dua bentuk ibadah yang lazim mengiringi ibadah puasa, tragedi-tragedi kemanusiaan seperti di atas menjadi ironi. Karena itu, layak untuk bermuhasabah dikaitkan dengan susah payah menahan nafsu lapar dan dahaga selama satu bulan Ramadhan lamanya.

Mengapresiasi capaian umat untuk kembali ke jati dirinya nan fitri karenanya menjadi sesuatu yang semakin mendesak untuk diketengahkan. Tujuannya, agar umat menyadari tentang keunggulan potensi diri, juga bekalan yang dimiliki agar rasa percaya diri umat semakin lebih tinggi untuk setapak demi setapak dapat mengatasi beragam peristiwa dan tantangan yang menghadang di sepanjang perjalanannya. Dengan demikian, bisa memaknai kehidupan setelah bulan Ramadhan hingga ke Ramadhan mendatang berbingkaikan kesadaran akan sukses kembali kepada jati diri nan fitri itu.

Jati diri nan fitriTetapi apakah sesungguhnya jati diri yang dipentingkan di sini? Jawabannya adalah apa yang telah disampaikan oleh Rasulullah SAW: ''Setiap anak Adam dilahirkan dalam kondisi jati diri nan fitri. Kedua orang tuanyalah (lingkungannya) yang potensial dapat mengubah jati diri itu kepada yang lainnya.'' (HR Bukhari Muslim). Dari titik ini kita memahami bahwa Idul Fitri, yaitu hari raya yang telah Allah hadirkan untuk umat agar dapat kembali kepada jati dirinya nan fitri dalam segala dimensinya.
Fitri dalam dimensi akidah bila diwujudkan akan memunculkan pribadi beriman benar dan kuat. Ini akan mendorongnya untuk terus beramal saleh sehingga menghadirkan sikap hidup yang aman dan amanah.

Fitri dalam dimensi sejarah yang akan mendorong umat untuk menjadi bagian dari pelaku sejarah yang positif dan konstruktif, seperti yang ditegaskan di dalam surat Al-Baqarah ayat 183. Dengan demikian, ia tidak akan mengulangi faktor-faktor kegagalan yang pernah muncul dalam sejarah umat. Sebaliknya ia akan terdorong untuk mengulangi faktor sukses dan kemudian menjadikannya sebagai modal untuk peran serta membangun peradaban berbasiskan kepada kefitrahan nan hanif itu.

Fitri dalam dimensi sosial memungkinkan umat menjadikan capaian selama Ramadhan itu untuk menyemangati modal sosial yang akan menjadi pintu besar dalam mengokohkan soliditas dan solidaritas umat. Dua hal itu sangat penting bagi umat di tengah kekhawatiran akan semakin mengeringnya modal sosial yang menyebabkan mereka mudah terbakar provokasi atau stigmatisasi. Jadi, kuatnya modal sosial akan menjadi modal bagi kuatnya kesatuan nasional.

Begitu juga fitri dalam bidang ekonomi. Kembali memaknai capaian-capaian penting Idul Fitri akan memberi semangat akan adanya kesadaran yang selalu membaharu. Yakni, bahwa umat adalah pasar yang sangat besar, transaksi-transaksi untuk kemaslahatan umat yang sesuai dengan kaidah-kaidah syariah ternyata bisa dilakukan dan juga sangat menguntungkan.
Dengan demikian, maka ke depan umat tidak hanya dijadikan sebagai pasar untuk dieksploitasi tapi justru untuk diapresiasi. Juga dalam bidang politik. Memaknai hadirnya jati diri dengan Idul Fitri diharapkan akan menguatkan terus-menerus komitmen dari berbagai pihak yang terlibat dalam kegiatan berpolitik, seperti kalangan eksekutif, yudikatif, maupun legislatif, juga kalangan partai politik dan pemilik kedaulatan tertinggi yaitu rakyat.

Bermakna dan berdaya gunaKesadaran akan capaian mereka kembali kepada jati diri nan fitri itu diharapkan akan menjadi semacam pengawasan yang melekat dan bahkan spirit dari dalam diri yang kuat untuk menjaganya dan menjauhkannya dari hal yang mengotori dan bisa membatalkannya. Ada semangat untuk terus-menerus berupaya lebih baik merealisasikan janji maupun amanah yang telah diberi.

Ada kesadaran dan semangat menghadirkan komitmen mewujudkan sebelas bulan puasa Ramadhan lebih baik dari sebelas bulan Ramadhan yang lalu. Baik dalam produktivitas dan kualitas menghadirkan pelayanan dalam semangat good and clean government, melanjutkan agenda reformasi termasuk reformasi birokrasi, menegakkan hukum dan memberantas KKN, mewujudkan kesejahteraan dan kedamaian di tengah publik. Melaksanakan hak asasi manusia (HAM) juga kewajiban asasi manusia (KAM) untuk mewujudkan demokratisasi. Ini pada ujungnya semakin membuktikan bahwa Islam dan demokrasi bukanlah dua hal yang perlu dipertentangkan. Sebab, umat Islam di Indonesia --yang merupakan komunitas Islam terbesar di dunia dalam satu negara-- telah mampu untuk yang kesekian kalinya melakukan demokratisasi dengan secara berkualitas.

Mengapresiasi jati diri umat Muslim --dengan aktivitas beridul fitri yang begitu heboh tapi tetap syahdu, biasanya diekspresikan dengan ungkapan ''Minal Aidzin wal Faizin, mohon maaf lahir dan batin'', bahkan dengan proses pulang kampung-- diharapkan akan mampu menghadirkan kesadaran baru betapa mereka hanyalah anak manusia dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Mereka masih rindu bertemu dengan ayah ibu, handai tolan, sanak famili di kampung halaman. Pertemuan-pertemuan itu adalah sarana untuk menguatkan capaian-capaian kembali kepada jati diri nan fitri. Bukan wahana pamer kesuksesan diri --yang bisa jadi merusak suasana kembali kepada fitri-- karena ia akan potensial mewujudkan sikap iri dan dengki.

Karenanya, pulang kampung dengan silaturahim hendaklah menghadirkan realisasi akan kesadaran telah pulangnya kita kepada jati diri nan fitri. Karena, akan menebar kasih sayang serta kesiapan diri untuk kembali kepada jati diri, bertemu dengan asal-usul, termasuk dengan akar budayanya.

Dengan demikian, kembali kepada jati diri nan fitri berarti juga mengapresiasi kearifan-kearifan lokal di kampung halaman seperti masih kentalnya sikap saling menghormati, gotong royong, keramahan yang tulus, ketabahan menjalani kehidupan, kerja keras mengisi kehidupan, dan tetap rajin menjalankan ibadah. Bila kearifan semacam ini dapat diserap, maka ia akan menjadi oleh-oleh yang lebih berharga untuk dibawa kembali ke kota. Oleh-oleh yang dapat mencerahkan kehidupan di kota agar terurai dari segala kesemrawutannya, sesuatu yang sesungguhnya tak sesuai dengan capaian kembali kepada jati diri nan fitri itu.
Dengan semangat inilah, sebagaimana yang diajarkan dalam kandungan surat An-Nashr, seluruh kegiatan halal bihalal --yang biasanya mengiringi kegiatan sesudah beridul fitri-- akan semakin bermakna dan berdaya guna untuk umat di desa maupun di kota, di negara tercinta Indonesia bahkan di dunia. Sebab, ia sesungguhnya bukanlah dihidupkan untuk seremonial belaka. Selamat beridul fitri, selamat mengapresiasi hadirnya kembali jati diri, mohon maaf lahir dan bathin. Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar walillahilhamdu

Sumber : Tulisan Hidayat nur Wahid ( Republika. Oct.26.2006 )

Saturday, October 28, 2006

MAAF ...

Sebuah kata yang dapat mengubah dunia . . .
MAAF

Hanya dua suku kata.
Mudah diingat.
Sangat Sederhana.
Itulah kata MAAF

Bisa mengubah yang tidak mungkin jadi mungkin
Mengubah kesedihan menjadi kegembiraan
Mengubah perlawanan menjadi perkawanan
Menghilangkan kedengkian dan menumbuhkan rasa cinta

Selamat Idul Fitri 1427 H, Maaf Lahir Batin


Amiruddin & Keluarga

Wednesday, October 25, 2006

Koran Edisi Lebaran . . .


Lebaran 1427 H memang tidak bersamaan, ada yang tgl 23 Oct. 2006 dan ada yang 24 Oct.2006; apakah tidak bisa kompromi dan menyatukan persepsi tentang H-0 Hari Raya ini?? Perbedaan memang rahmat, apakah beda penentuan hari raya ini juga rahmat????

Tanya Kenapa????

Keterangan : Koran JP Edisi Senin Oct.23.2006

Mudik yang cuman sebentar . . .

Mudik lebaran tahun ini adalah yang paling tersingkat. Sebenarnya rencana mudik tahun ini adalah yang paling lama, yaitu berangkat tgl 22 Oct.2006 dan balik 26 Oct.2006. Tapi apa yang terjadi, kami sekeluarga harus segera balik ke Jombang tgl 24 Oct.2006 habis Shalat ID di masjid Taqwa Pandean ( tentunya sudah bersalam-salaman dengan orangtua dan beberapa keluarga, kecuali keluarga Om Nis dan Om Heru, karena belum muncul...). Berikut liputannya :

Perjalanan dari Jombang start jam 05.00 ( 22 Oct.06 ), kami bertiga ( saya, my wife, Brilian, dan si Baby Vanadia ) meluncur dengan si Blacky dengan membawa bekal perlengkapan untuk mudik selama lebaran secukupnya. Brilian sudah tak sabar lagi untuk segera ketemu sama si Mbahnya. Vanadia ( baru umur 4 bulan ) adalah saat pertama mengunjungi rumah Mbahnya dan merupakan lebaran pertama.

Dengan mengambil rute Jombang - Babat - Tuban - Pati - Tayu, perjalanan cukup lancar dan tidak ada gangguan apapun. Total menempuh jarak 250 Km dan dengan kecepatan rata-rata 60 Km / jam dan dengan disertai istirahat beberapa kali akhirnya jam 11.30 udah nyampai di rumah si Mbah. Infrastruktur jalan raya relatif lebih bagus ( hampir tidak ada jalan yang jelek ) karena barusan selesai diperbaiki. Kondisi jalan raya Babat - Tuban yang 2 bulan lalu banyak yang berlubang, sekarang sudah mulus.

Hari Pertama ( Oct.22.2006 - Minggu ) : Setelah istirahat beberapa jam, sekitar jam 15.00 berangkat ke Pati bersama Mbah Ri, Mbah Mu dan tante Asiyah, tak ketinggalan BRILIAN pasti ikut. Pertama ngantar tante Asiyah beli oleh2 di Toko Surya, kemudian ngantar Mbah Ri untuk beli Jam tangan. Tapi dari beberapa toko jam yang di survey tidak ada yang cocok.
Kemudian istirahat sebentar di Masjid Jami' alun2 kota Pati, sambil mbungkus ES Buah untuk oleh2 di rumah. Sambil menunggu saat berbuka puasa, kami sempat berputar - putra di kota Pati. Jam 17.15 kami sudah sampai di warung soto kemiri pak Lasdi Trazan ( berdasar rekomendasi dar Mbah Ri katanya enak ). Tepat jam 18.35 saat berbuka tiba, hidangan lengkap
sudah ada di meja ( soto ayam, es buah, es teh dll , ayam goreng dll )
Brilian, Mbah Mu dan Tante Asiyah habis 1 mangkok saja, saya dan Mbah Ri 2 mangkok ), memang sotonya punya rasa khas. Setelah kenyang kami segera cabut dan segera meluncur ke rumah Kak Nam di Trangkil untuk sholat Maghrib sambil beli Martabak special untuk oleh2 my wife yang sedang nunggu di rumah.

Hari Kedua ( Oct.23.2006, Senin )
Hari ini sebenarnya aku sudah nggak ada niat untuk puasa. Karena menurut Muhammadiyah dan PWNU Jatim telah mengumumkan bahwa Senin sudah masuk 1 Syawal. Tetapi keluarga masih melaksanakan sahur, terpaksa saya ikut meskipun ragu2, mungkin nanti siang bisa mokel kalau udah lihat berita di TV karena sudah banyak yg berlebaran. Hari ini rencananya adalah mengunjungi rumah Pak dhe Anam yang baru di Pati bersama kedua anak saya dan Istri.
Bersama Budhe Murni, Diki, Brilian, Vanadia dan istri saya berangkat ke Pati. Sesampai di rumah Pak dhe Anam, saya nonton liputan 6 SCTV dan Berita di Metro TV, ternyata sudah banyak warga Jatim yang sudah berlebaran. Dari situlah saya berniat untuk membatalkan puasa saya, karena saya pikir kami sekeluarga sudah menunaikan zakat fitrah. Setelah beristirahat beberapa lama di rumah baru, kami segera balik dan sampai rumah si Mbah jam 18.00, malam takbiran menurut versi pemerintah.

Malam Takbiran
Setelah beristirahat beberapa saat, kembali kami mengadakan perjalanan untuk melihat situasi malam takbiran di Tayu, Bulumanis, dan sampai Trangkil, si Brilian masih ingin maen sama mas Diki katanya.

Hari Ketiga ( Oct.24.2006 , Selasa )
Pagi hari Sholat Id di Masjid Taqwa ( meskipun hari Senin sudah nggak puasa ), setelah sholat ID berlebaran dengan keluarga dan sudara serta tetangga sekitar. Setelah itu balik Jombang, karena ada "emergency call"

Terimakasih semua " Mohon Maaf Lahir Batin "

Tuesday, October 17, 2006

Belajar Tenis Lapangan dari NOL . . .























Sudah beberapa minggu ini saya menyempatkan diri untuk ber-olah raga. Pilihan jatuh ke olah raga Tenis lapangan, meskipun belum pernah pegang raket sekalipun. Dengan tujuan untuk kesehatan, saya sempatkan diri untuk belajar Tenis setiap hari Senin, Selasa, dan Sabtu sore.
Mumpung ada pelatihnya, dan yang penting SEHAT.

Sejarah tenis
Terdapat berbagai jenis permainan yang menggunakan raket yang dimainkan dewasa ini dan tenis merupakan salah satu permainan yang paling disukai. Menurut beberapa catatan sejarah, permainan menggunakan bola dan raket sudah dimainkan sejak zaman purbakala, yaitu di Mesir dan Yunani. Pada abad ke-11, sejenis permainan iaitu jeu de paume yang menyerupai permainan tenis kini, telah dimainkan buat pertama kali di sebuah kawasan di Perancis. Bola yang digunakan disalutkan dengan benang berbulu, manakala pemukulnya hanyalah tangan.
Permainan ini kemudian diperkenalkan ke Italia dan Inggris pada abad ke-13. Ia mendapat sambutan yang hangat dalam masa yang singkat. Banyak peminatnya ternyata di antara rakyat setempat terhadap permainan ini. Sejak itu perkembangan tenis terus meningkat ke negara Eropa yang lain.
Raket bertali pula diperkenalkan pertama kali pada abad ke-15 oleh Antonio da Scalo, seorang pastur berbangsa Italia. Beliau menulis undang-undang umum bagi semua permainan yang menggunakan bola termasuk tenis. Majalah Inggeris Sporting Magazine menamakan permainan ini sebagai tenis lapangan. Dalam buku Book of Games And Sports yang diterbitkan dalam tahun 1801 menyebut sebagai tenis panjang. Tenis, pada mulanya merupakan permainan golongan atasan. Tenis gelanggang rumput yang terkenal di zaman Ratu Victoria disertai oleh golongan menengah yang menjadikannya sebagai permainan luar.
Klub tenis pertama yang didirikan ialah Klub Leamington di Perancis yang telah diasaskan oleh J. B. Perera, Mejar Harry Gem, Dr. Frederick Haynes dan Dr. Arthur Tompkins pada tahun 1872. Pada masa itu, tenis dikenali sebagai pelota atau lawn rackets. Dalam tahun 1874, permainan tenis telah pertama kali dimainkan di Amerika Serikat oleh Dr. James Dwight dan F. R. Sears. Sementara itu, All England Croquet Club pula telah didirikan pada tahun 1868. Dua tahun setelah itu, ia telah membuka kantornya di Jalan Worple, Wimbledon. Pada tahun 1875, kelub ini juga telah bersetuju memperuntukkan sebagian dari tanahnya untuk permainan tenis dan badminton. Sehubungan dengan itu, satu set undang-undang permainan tenis gelanggang rumput telah ditulis. Amerika Serikat pula telah mendirikan kelub tenisnya yang pertama di Staten Island. Bermula dari situlah, Amerika Serikat telah berkembang dengan pesat sekali dalam permainan tenis. Ia telah berjaya melahirkan begitu ramai sekali jaguh tenis yang telah menguasai persada tenis antarabangsa.
Kejuaraan Tenis pertama bermula tahun 1877.

Lapangan
Lapangan tenis
Lapangan tenis dibagi dua oleh sebuah jaring yang di tengah-tengahnya tingginya persis 91.4 cm dan di pinggirnya 107 cm. Setiap paruh lapangan permainan dibagi menjadi tiga segi: sebuah segi belakang dan dua segi depan (untuk service).
Lapangan dan beberapa seginya dipisahkan dengan gatis-garis putih yang merupakan bagian dari lapangan tempat bermain tenis. Sebuah bola yang dipukul di luar lapangan (meski tidak menyentuh garis) dikatakan telah keluar dan memberi lawan sebuah nilai.

Teknik bermain

Forehand: sebuah pukulan di mana telapak tangan yang memegang raket dihadapkan ke depan.
Backhand: sebuah pukulan di mana punggung tangan yang memegang raket dihadapkan ke depan.
Groundstroke: sebuah pukulan panjang yang membutuhkan seluas lapangan.
Slice:
Spin:
Dropshot:
Smash: sebuah pukulan keras yang menghantam sebuah bola tanpa menyentuh tanah di atas kepala dan diarahkan ke lapangan sang lawan.
Volley:

Turnamen tenis
Ada beberapa turnamen tenis yang terkenal:
Piala DavisWimbledon (atau All-England)
Perancis Terbuka (atau Roland Garros)
AS Terbuka
Australia Terbuka

Monday, October 16, 2006

Agar Tak Tekor Setelah Lebaran


Sikapi tunjangan hari raya dengan bijak. Awali dengan rencana anggaran.

"Ayo, belanja baju. Sudah dapat THR, kan?" ucap Fera, 20 tahun, kepada kakaknya yang bekerja di sebuah perusahaan swasta. Ajakan seperti ini bakal lebih sering terdengar, khususnya di hari-hari menjelang Idul Fitri.
Apa boleh buat, THR atau tunjangan hari raya memang sudah lama identik dengan kegiatan belanja. Apalagi Lebaran tinggal sepekan lagi. Benarkah anggapan demikian?
Bicara tentang THR, menurut Ahmad Gozali dari biro konsultasi perencanaan keuangan Safir Senduk dan rekan, sebaiknya awali dengan membuat rencana anggaran. Sudah barang tentu, dalam merancang anggaran, tidak bisa dipukul rata karena setiap orang menerima jumlah yang berbeda. "Umumnya satu bulan gaji," katanya.
Dengan kata lain, di hari-hari ini karyawan menerima gaji dua kali lipat. Patut disyukuri tentunya. Sebab, tidak semua orang mendapat rezeki yang sama. Bahkan ada yang tahun ini mungkin tak kebagian THR.
Saat ini THR, bagi sebagian pekerja, bisa menjadi bonus satu-satunya yang diterima dari perusahaan. Jadi bisa disamakan dengan gaji ke-13. "Namun, bagi karyawan di perusahaan lain, terkadang cukup beruntung mendapatkan bonus lain di luar THR," ungkap Gozali.
Itulah yang dialami Tina, 34 tahun, karyawan swasta di Jakarta. Di perusahaannya, ia tak selalu mendapat bonus tahunan. Itu sebabnya, "Dana THR mesti dipikir-pikir, bagaimana cara menikmatinya," ujar Tina.

Nah, agar THR tetap bermanfaat, perlu strategi pengelolaan. Gozali menyarankan pisahkan antara pengeluaran rutin bulanan dan pengeluaran yang sifatnya tidak rutin, seperti beli baju baru, makanan Idul fitri, silaturahim, dan mudik. Jika tidak dipisahkan, biasanya anggaran rutin bulanan akan ikut jebol karena ada justifikasi pengeluaran yang lebih besar di bulan puasa.
Padahal, kalau mau jujur, di bulan puasa ini pengeluaran sehari-hari seharusnya bisa berkurang dibanding biasanya karena para karyawan tidak mengeluarkan uang saku untuk makan siang. Selain itu, sebagian besar orang memilih makan di rumah bersama keluarga sehingga biaya jalan-jalan dan makan di luar bakal terpangkas.

Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan Lebaran, seperti mudik, pakaian, dan penganan, ada baiknya dipisahkan dari anggaran rutin. "Manfaatkan uang THR," tutur Gozali. Dengan cara ini, penggunaan THR bisa lebih terkontrol karena sudah diperhitungkan sebelumnya.
Jika cukup taat dalam membagi kebutuhan bulanan dan Lebaran, tidak ada salahnya memikirkan tabungan. Tapi, Gozali melanjutkan, ada syaratnya, "Sisihkan sejak awal untuk tabungan. Jangan disisakan di akhir. Sebab, kalau menunggu sisa, rasanya sulit dilakukan."
Lain halnya dengan Tina. "Kalau saya sih THR, ya, untuk digunakan, kan memang itu peruntukannya. Saya tak pernah menyisihkan untuk menabung," katanya lugas.
Cara pandang Tina, menurut Gozali, kurang tepat. Bukankah saat menerima gaji pun tidak semua dipakai kegiatan konsumtif. Umumnya sekitar 30-40 persen dari gaji dipakai untuk membayar utang dan menabung.

Sedangkan untuk konsumsi diambil dari sisanya sebesar 60-70 persen, bahkan bisa kurang jika sudah memiliki program menabung yang tetap. "Kenapa tidak kita perlakukan saja THR seperti gaji bulanan. Sayang, jika semuanya langsung dihabiskan," ujar Gozali lagi.
Di lain pihak, meski dianjurkan untuk tidak dihabiskan, akan lebih bijak bila THR dialokasikan untuk membayar utang. Apalagi jika THR tersebut merupakan satu-satunya bonus yang diterima dari perusahaan.

Betul Lebaran menjadi sarana bersukacita dan tasyakur. Tapi, seperti yang diingatkan Gozali, "Bagaimana mau sukacita kalau masih khawatir dengan lilitan utang yang menumpuk. Memang kita punya hak untuk menikmati Lebaran. Karena itu, bayarkan saja sebagian untuk utang."
Yang jelas, untuk utang yang sifatnya fleksibel, seperti kartu kredit, pembayaran yang dipercepat dengan THR akan mengurangi secara signifikan saldo utang dan sisa bunga yang harus dibayar. Namun, untuk utang yang sifatnya jangka panjang, seperti KPR misalnya, memang efeknya tidak akan terlalu besar.

Bila semua anggaran hari raya sudah terencana, selalu ada celah munculnya kebutuhan tak terduga. Tapi yang tak terduga pun pada dasarnya bisa diakali agar tetap bisa berhemat. Misalnya kebiasaan memberi hadiah kepada kerabat.
Menurut Gozali, kebiasaan masyarakat ini ada sisi baiknya. "Kita memang dianjurkan untuk mengekspresikan rasa syukur dengan memberi hadiah. Dalam Islam dianjurkan sebagai bukti cinta kasih dan dapat mempererat tali silaturahmi."

Namun, tidak bijak ketika orang memaksakan diri untuk memenuhi kebiasaan ini. "Namanya bukan tasyakur lagi. Apalagi ada rasa keterpaksaan, bahkan mungkin sampai berutang," Gozali melanjutkan.
Karena itu, ketika memberikan bingkisan, tentukan dulu prioritasnya. Misalnya hadiah hanya diberikan kepada anak-anak. Hadiah pun tidak harus berupa uang. Bisa juga berupa benda istimewa tapi tidak mahal. "Sekadar ide saja, jika saudara-saudara yang lain sudah membagi uang, kita bisa memberikan celengan," katanya.
Selain itu, perlu diperhatikan agar jangan sampai hadiah Lebaran ini jadi bibit sifat "matre" pada anak-anak. Contohnya menghadiahi uang berdasarkan prestasi puasa. Jika puasanya penuh, si anak akan menerima lebih banyak daripada yang puasanya masih bolong. Meski mungkin cara ini bisa mendorong motivasi puasa bukan karena ibadah, ada sisi positifnya.

( dari Korantempo.Oct.15.2006)