Tuesday, December 12, 2006

Vanadia sudah 6 Bulan lho...



lagi bubuk nih....jangan diganggu







After 6 Months of Vanadia :

1) Udah bisa duduk

2) Udah sering ngoceh ( kayak burung kali..)

3) Ceria dan sehat

4) Berat badan dari 2.7 kg menjadi 7.5 kg

Apa itu BOS ( Blue Ocean Strategy) ?

Di era bisnis saat ini, masing-masing pemain berusaha keras untuk
memenangkan pasar dengan berbagai cara, mulai dari diferensiasi
produk, aktivitas marketing yang gencar sampai pada pendekatan
langsung ke konsumen yang tentu saja memerlukan biaya yang tidak
sedikit. Konsumen pun diedukasi untuk mengetahui keunggulan yang
dimiliki oleh masing-masing produk, tanpa melihat apakah keunggulan
tersebut merupakan sesuatu yang dibutuhkan oleh konsumen atau tidak.

Akhirnya semua terjebak pada suatu pasar dimana keunggulan produk
menjadi hal yang biasa dan konsumen terus meminta harga yang lebih
murah padahal biaya produksi dan marketing semakin membengkak.

Persaingan harga antar merek semakin tajam, seperti meminjam istilah
promosi suatu produk rokok "How low can you go?" dan semua pesaing
berdarah-darah yang digambarkan sebagai persaingan dalam samudra merah
(red ocean).

Dalam hal ini, kita diajak untuk masuk dalam dunia suatu perjuangan
bisnis yang lain, menggunakan Blue Ocean Strategy, dimana persaingan
menjadi tidak penting karena kita mampu menciptakan ruang pasar yang baru
.

6 prinsip Blue Ocean Strategy :

1. Rekonstruksi batasan-batasan pasar

Hapuskan faktor-faktor yang telah diterima begitu saja oleh industri
Cari faktor yang dapat dikurangi hingga dibawah standar industri (jika
berkompetisi pada daya tarik emosional,elemen apa yang bisa di buang
untuk menjadikannya fungsional, demikian pula sebaliknya) Cari faktor
yang harus ditingkatkan hingga diatas standar industri Ciptakan yang
belum pernah ditawarkan (berikan jasa pelengkap) Berpikir dalam
kerangka pengguna

2. Fokus pada gambaran besar

Memulai dengan gambaran besar mengenai bagaimana cara menjauh dari
kompetisi.
Jadilah Pioneer, bukan dengan mengembangkan teknologi baru, tetapi
mendorong nilai nilai yang ditawarkan kepada konsumen menuju wilayah baru

3. Lampaui permintaan yang ada

Layani konsumen dan nonkonsumen
Nonkonsumen cenderung menawarkan wawasan lebih mengenai bagaimana
membuka samudra biru daripada konsumen sebelumnya yang relatif sudah
terpuaskan.
Kembangkan hal-hal yang dihargai pembeli secara umum Cari alasan utama :
a. Mengapa non konsumen masih mencari-cari produk/jasa yang tepat b.
Mengapa non konsumen menolak produk/jasa yang anda tawarkan c. Mengapa
non konsumen tidak berpikir bahwa produk/jasa anda merupakan suatu
pilihan ?
Cari kesamaan dari tanggapan mereka, berfokuslah pada kesamaan itu dan
dapatkan pengetahuan mengenai cara membuka samudra dari permintaan
yang belum dimanfaatkan

4. Jalankan rangkaian strategis dengan benar Apakah dalam ide bisnis

anda terdapat utilitas yang istimewa bagi pembeli ?
Apakah harga anda terjangkau oleh massa pembeli ?
Bisakah anda mencapai biaya sasaran demi meraih laba pada harga
strategis ?
Apakah hambatan dalam mewujudkan ide bisnis anda ? (misalnya
resistensi jaringan dan mitra bisnis) Sudahkan anda tangani hambatan
itu secara langsung ?
Pertanyakan tiap langkah satu-persatu, jika jawabannya adalah "Tidak",
maka pikirkan ulang!

Edukasi untuk meminimalkan resistensi, kepada :
Karyawan - komunikasikan ancaman yang mungkin timbul, bersama-sama
mencari cara mengatasinya Mitra bisnis - secara terbuka membahas isu
Khalayak umum - diskusi terbuka untuk menjelaskan manfaatnya,
kemungkinan dampaknya dan bagaimana penanganan dampaknya

5. Atasi rintangan organisasional

Rintangan kognitif - meninggalkan status quo, buat karyawan melihat
pentingnya perubahan radikal (memperlihatkan realitas terburuk
sehingga sadar akan perlunya perubahan, dengarkan langsung keluhan
konsumen yang paling tidak puas)

Rintangan sumber daya - relokasikan sumber daya yang kurang terpakai
kepada yang membutuhkan

Rintangan Motivasi - mulailah dari para kingpin (para pemberi pengaruh
kunci dalam organisasi), libatkan semua orang dengan adil, kinerja
ditampilkan secara transparan sehingga semua ingin tampil menonjol dan
mendapatkan pengakuan untuk prestasi yang tinggi, pecahkan tantangan
besar menjadi tantangan-tantangan kecil sesuai porsi masing-masing.

Rintangan politis - manfaatkan orang dalam yang piawai secara politis
dan sangat dihormati

6. Integrasikan ekskusi ke dalam strategi Ciptakan kultur kepercayaan
dan komitmen yang memotivasi orang untuk mengeksekusi strategi yang
sudah disepakati dengan biaya rendah.


Terapkan proses yang adil :
1.Proses perumusan strategi : libatkan (Engagement) , jelaskan
(Explanation) dan jelaskan ekspektasi (Expectation clarity) à 3E
2.Sikap : kepercayaan dan komitmen 3.Perilaku : kerjasama sukarela
4.Eksekusi strategi : melebihi ekspektasi, didorong diri sendiri

Proses mencari dan menciptakan samudra biru bukan merupakan suatu
trial & error dari ide bisnis baru liar yang terlintas dalam intuisi
atau benak manajer, akan tetapi harus dilakukan secara terstruktur
untuk menata ulang realitas pasar dalam cara yang secara fundamental baru.

Penciptaan samudra biru merupakan proses yang dinamis, cepat atau
lambat akan muncul pengekor. Kapan perusahaan harus berupaya
menciptakan samudra biru lain ? Perusahaan harus terus menerus
memonitor, pada saat persaingan meningkat dan total pasokan melebihi
permintaan, kompetisi berdarah pun sudah dimulai.

Kompetisi akan tetap ada dan menjadi faktor penting dalam pasar,
tetapi untuk mencapai kinerja yang prima dalam pasar yang penuh sesak,
perusahaan harus melangkah tidak hanya berkompetisi meraih pangsa
pasar, tetapi menuju penciptaan samudra biru.

Sumber : Buku Blue Ocean Strategy by W C Kim , Renee dan tulisan Kartika i

Monday, December 11, 2006

Inspirasi : Mintalah MAAF melalui TINDAKAN

Awalnya saya berpikir bahwa dengan telah meminta maaf kepada orang lain akan membenahi semua persoalan. Tetapi saya keliru dan menyadari kata-kata di bibir takkan bisa menambal perahu bocor. Dengan tindakan perbaikanlah yang menyelamatkan hubungan saya dengan orang-orang disekitar dari keretakan dan luka yang lebih dalam. Tidakkah cukup jelas bagi saya bahwa kata-kata dan tindakan adalah dua hal yang berbeda. Tak mudah orang percaya begitu saja pada permintaan maaf saya - meski saya ucapkan itu berbelas-belas kali dalam sehari dan dengan tulus diucapkan.Orang lain ingin melihat sebuah tindakan untuk meluruskan kesalahan. Kecil pun tak apa.Orang ingin merasakan ketulusan tampak dari keringat anda. Orang ingin menemukan kesungguhan dari permintaan maaf anda. Kata-kata mungkin bersayap, namun tindakan adalah dahan untuk hinggap.

Saturday, December 09, 2006

Mengapa Sistem Manajemen Kinerja Organisasi Tidak EFEKTIF???

Oleh: Vincent Gaspersz

Ketika saya melakukan training-led consultancy di
perusahaan-perusaha an bisnis dan industri Indonesia, para manajer
sering mengajukan pertanyaan berikut: Pak Vincent, kami telah
menerapkan banyak sistem manajemen kinerja, mulai dari ISO 9001:2000,
MBNQA (Malcolm Baldrige Quality Program), Balanced Scorecard, Six
Sigma, dll, tetapi mengapa tidak memberikan hasil yang memuaskan?
Jawaban saya secara gamblang adalah, mungkin manajemen perusahaan Anda
melakukan program peningkatan kinerja secara acak (random performance
improvement) , secara parsial dan tidak terintegrasi dengan kebutuhan
bisnis dan industri yang dirumuskan secara sistematik dalam suatu
kerangka kerja Master Improvement Story. Hal itu yang saya jumpai
dalam banyak perusahaan di Indonesia. Banyak perusahaan di Indonesia
belum melakukan program peningkatan kinerja secara sistematik
(systematic performance improvement) menggunakan kerangka kerja Master
Improvement Story. Memang benar bahwa dalam perusahaan di Indonesia
terdapat puluhan program peningkatan kinerja (performance improvement
programs), demikian pula mungkin ada puluhan tim peningkatan kualitas
(quality improvement teams), tetapi mungkin dari puluhan program dan
tim itu, tidak ada satu pun yang benar-benar berfokus pada peningkatan
kinerja yang sesungguhnya bagi perusahaan yaitu: bottom line
performance improvement, seperti peningkatan ROIC (Return On Invested
Capital) atau ROCE (Return On Capital Employed), eliminasi pemborosan
(waste) dan reduksi biaya terus-menerus, eliminasi atau reduksi cacat
atau kesalahan terus-menerus, peningkatan pelayanan (service level)
dan inovasi nilai kepada pelanggan secara terus-menerus, peningkatan
semangat karyawan dan manajemen dalam meningkatkan kinerja perusahaan
agar menjadi perusahaan kelas dunia, dan lain-lain.

Apakah Anda sebagai manajer perusahaan-perusaha an bisnis dan industri
di Indonesia juga sedang frustrasi? Karena telah banyak sistem
manajemen kinerja yang diimplementasikan, mulai dari: ISO 9001:2000,
Malcolm Baldrige, Balanced Scorecard, Lean Six Sigma, dan lain-lain,
tetapi tidak memberikan hasil manfaat sesuai dengan yang diharapkan!
Kemudian mungkin pada saat sekarang Anda sedang tertarik untuk
menerapkan Blue Ocean Strategy yang sedang populer di dunia, karena
berdasarkan pada konsep inovasi nilai untuk menghindarkan persaingan
dan menciptakan pasar-pasar baru.

Penulis meminta kepada Anda agar berhati-hati mengulang
kesalahan-kesalahan masa lalu, karena implementasi sistem manajemen
kinerja apapun secara acak hanya akan menimbulkan frustrasi! Hasil
pengkajian penulis terhadap perusahaan-perusaha an yang sedang dan/atau
telah dibantu, menunjukkan bahwa AKAR PENYEBAB kegagalan implementasi
sistem-sistem manajemen kinerja dalam perusahaan itu adalah karena
pendekatan manajemen yang masih dilakukan secara acak dan parsial,
tidak terintegrasi satu sama lain, sehingga tidak memberikan dampak
positif pada bottom line perusahaan.

Masih banyak organisasi bisnis dan industri di Indonesia yang hanya
sekedar melakukan upaya peningkatan kinerja secara acak (random
performance improvement) , secara parsial dan tidak terintegrasi dengan
kebutuhan bisnis dan industri yang dirumuskan secara sistematik dalam
suatu kerangka kerja Master Improvement Story. Beberapa upaya
peningkatan acak yang dilakukan itu telah meningkatkan frustrasi di
antara manajemen dan karyawan, di mana tingkat beban kerja menjadi
meningkat namun tidak memberikan dampak positif pada bottom line dari
bisnis dan industri.

Penyebab Kegagalan Sistem Manajemen Kinerja

Pertanyaan kreatif yang perlu diajukan adalah mengapa implementasi
sistem manajemen kinerja selalu gagal? Menurut Balanced Scorecard
Collaborative (www.bsccol. com), terdapat empat faktor penghambat dalam
implementasi sistem manajemen kinerja terintegrasi, yaitu:

1. Hambatan Visi (Vision Barrier)-tidak banyak orang dalam organisasi
yang memahami atau mengerti strategi dari organisasi mereka.
Berdasarkan survei, hanya sekitar 5% dari karyawan yang memahami
strategi perusahaan mereka.
2. Hambatan Orang (People Barrier)-banyak orang dalam organisasi
memiliki tujuan yang tidak terkait dengan strategi organisasi.
Berdasarkan survei, hanya sekitar 25% dari manajer yang memiliki
insentif terkait dengan strategi perusahaan mereka.
3. Hambatan Sumber Daya (Resource Barrier)-waktu, energi, dan uang
tidak dialokasikan pada hal-hal yang penting (kritis) dalam
organisasi. Sebagai misal, anggaran tidak dikaitkan dengan strategi
bisnis, sehingga menghasilkan pemborosan sumber daya. Berdasarkan
survei, sekitar 60% dari organisasi tidak mengaitkan anggaran kepada
strategi perusahaan.
4. Hambatan Manajemen (Management Barrier)-manajemen menghabiskan
terlalu sedikit waktu pada strategi organisasi dan terlalu banyak
waktu pada pembuatan keputusan taktikal jangka pendek. Berdasarkan
survei, sekitar 86% dari tim eksekutif menghabiskan waktu kurang dari
satu jam per bulan untuk mendiskusikan strategi perusahaan mereka.

Di samping itu Master (1996) juga mengemukakan 15 faktor kegagalan
dalam implementasi sistem manajemen kualitas total (TQM), sebagai berikut
:

1. Ketiadaan komitmen dari manajemen puncak.
2. Ketiadaan pengetahuan atau kekurangpahaman tentang manajemen
kualitas total.
3. Ketidakmampuan mengubah kultur perusahaan.
4. Ketidaktepatan perencanaan kualitas.
5. Ketiadaan pendidikan dan pelatihan berkelanjutan (terus-menerus) .
6. Ketidakmampuan membangun suatu learning organization yang
memberikan perbaikan terus-menerus.
7. Ketidakcocokan struktur organisasi serta departemen dan individu
yang terisolasi.
8. Ketidakcukupan sumber daya.
9. Ketidaktepatan sistem penghargaan dan balas jasa bagi karyawan.
10. Ketidaktepatan mengadopsi prinsip-prinsip manajemen kualitas total
ke dalam organisasi.
11. Ketidakefektifan teknik-teknik pengukuran dan ketiadaan akses ke
data dan hasil-hasil.
12. Berfokus jangka pendek dan menginginkan hasil yang cepat.
13. Ketidaktepatan dalam memberikan perhatian pada pelanggan internal
dan eksternal.
14. Ketidakcocokan kondisi untuk implementasi manajemen kualitas.
15. Ketidaktepatan menggunakan pemberdayaan (empowerment) dan kerja
sama (teamwork).

Sebagai bahan pertimbangan kepada manajemen organisasi yang sedang
menerapkan program-program Six Sigma atau Lean Six Sigma, berikut ini
adalah faktor-faktor penyebab kegagalan dari implementasi program Lean
Six Sigma. Mungkin salah satu atau beberapa faktor itu ditemukan dalam
organisasi Anda.

1. Lack of visible senior leader sponsorhip
2. Lack of alignment to a clear organization strategy
3. Lack of performance tracking and accountability
4. Failure to link projects to bottom-line impact
5. Insufficient or ineffective alocation of human resources
6. Over-emphasis on rigid approach and technical tools

Berdasarkan pengalaman penulis yang terlibat langsung dalam
implementasi Lean Six Sigma, kegagalan utama dari implementasi
program-program Six Sigma di Indonesia adalah terbanyak karena poin 1
dan 2 di atas, sedangkan para BELTS terlalu (baca: hanya) menekankan
pada poin 6, tanpa memandang apakah proyek-proyek Lean Six Sigma itu
terkait dengan bottom-line impact secara signifikan dan benar-benar
akan berkontribusi pada Master Improvement Story dari perusahaan (poin
4).

Swayne (2003) telah mengidentifikasi beberapa kegagalan implementasi
proyek Six Sigma yang terjadi dalam setiap tahap DMAIC, sebagai berikut.

Kegagalan Proyek Six Sigma dalam Tahap DMAIC

Define:
. Definisi lingkup dan kebutuhan proyek yang tidak tepat dan tidak
terintegrasi dengan kebutuhan nyata dari bisnis
. Kesalahan mengidentifikasi proyek yang tepat
. Kesalahan dalam desain kuesioner (questionnaire) dan penerapan
statistika pada riset pelanggan
. Kesalahan dalam penetapan sasaran dan tujuan yang tepat

Measure:
. Ketiadaan ukuran-ukuran kinerja kunci (KPIs) yang tepat
. Memiliki alat-alat pengukuran yang jelek
. Pengumpulan data yang tidak efisien dan tidak tepat
. Kecepatan eksekusi yang lambat

Analyze:
. Kesalahan dalam mengembangkan hipotesis kausal (sebab-akibat)
. Kegagalan mengidentifikasi pengendali kunci (key drivers)
. Penggunaan alat-alat statistika yang terlalu berlebihan dan
seolah-olah hanya berfokus pada penerapan alat-alat statistika
tersebut tanpa mempedulikan efektivitas dan efisiensi dalam solusi
masalah-masalah bisnis yang nyata
. Ketiadaan pengetahuan bisnis praktis
. Kegagalan mengidentifikasi praktek-praktek bisnis terbaik

Improve:
. Ketiadaan dukungan manajemen terhadap sistem
. Kegagalan dalam mengembangkan ide-ide untuk menghilangkan akar-akar
penyebab masalah bisnis
. Kegagalan dalam implementasi solusi-solusi masalah bisnis

Control:
. Kegagalan dalam tindak-lanjut (follow-up) oleh manajer-manajer dan
pemilik proses, yaitu mereka yang bertanggung jawab terhadap kinerja
dari proses-proses bisnis
. Ketiadaan mekanisme umpan-balik menerima atau mendengarkan suara
pelanggan (voice of customer) secara terus-menerus
. Ketiadaan institusionalisasi dari pemikiran atau pemahaman terhadap
peningkatan kinerja bisnis terus-menerus

Referensi:

www.bsccol.com

Master, R. J., Overcoming the Barriers to TQM's Success., Quality
Progress, May 1996., pp.53-55., American Society for Quality.,
Milwaukee, Wisconsin, 1996.

Swayne, B., Where Has All the Magic Gone?., Six Sigma Forum Magazine,
Pp. 22-27., ASQ Quality Press, Milwaukee, Wisconsin, May 2003.

Vincent Gaspersz (Gramedia, 2007-Sedang dalam proses penerbitan).
Organizational Excellence: Model Strategik Menuju World Class
Enterprise Management. Memperkenalkan Cara-Cara Implementasi Teknik
Manajemen Kelas Dunia:
. Balanced Scorecard
. Customer Service Excellence
. Customer Relationship Management
. 5S/6S, Kaizen Blitz, Lean, Six Sigma
. Lean Six Sigma for Manufacturing and Service
. Lean Six Sigma SCOR (Supply Chain Operations Reference)
. Integration of Blue Ocean Strategy and
. Design for Lean Six Sigma
. Implementation of Integrated Performance Management System in World
Class Manufacturing and Service Companies


============ ========= ========= ========= =========

Friday, December 08, 2006

10 Penyakit kronis Manusia

1. MENYALAHKAN ORANG LAIN

Itu penyakit P dan K, yaitu Primitif dan Kekanak-kanakan.Menyalahkan orang lain adalah pola pikir orang primitif. Di pedalaman Afrika, kalau ada orang yang sakit, yang dipikirkan adalah : Siapa nih yang nyantet ? Selalu "siapa" Bukan "apa" penyebabnya. Bidang kedokteran modern selalu mencari tahu "apa" sebabnya, bukan "siapa". Jadi kalau kita berpikir menyalahkan orang lain, itu sama dengan sikap primitif. Pakai koteka aja deh, nggak usah pakai dasi dan jas. Kekanak-kanakan. Kenapa ? Anak-anak selalu nggak pernah mau disalahkan. Kalau ada piring yang jatuh," Adik tuh yang salah", atau " mbak tuh yang salah". Anda pakai celana monyet aja kalau bersikap begitu. Kalau kita manusia yang berakal dan dewasa selalu akan mencari sebab terjadinya sesuatu.

2. MENYALAHKAN DIRI SENDIRI

Menyalahkan\ndiri sendiri bahwa dirinya merasa tidak mampu. Anda pernah mengalaminya ? Kalau\nanda bilang tidak pernah, berarti anda bohong. "Ah, dia sih bisa, dia ahli, dia\npunya jabatan, dia berbakat dsb, Lha saya ini apa ?, wah saya nggak bisa deh.\nDia S3, lha saya SMP, wah nggak bisa deh. Dia punya waktu banyak, saya sibuk,\npasti nggak bisa deh". Penyakit\nini seperti kanker, tambah besar, besar di dalam mental diri sehingga bisa\nmencapai "improper guilty feeling". Jadi walau yang salah partner, anak buah,\natau bahkan atasan, berani bilang "Saya kok yang memang salah, tidak mampu dsb".\nPenyakit ini pelan-pelan bisa membunuh kita. Merasa inferior, kita tidak punya\nkemampuan. Kita sering membandingkan keberhasilan orang lain dengan kekurangan\nkita, sehingga keberhasilan orang lain dianggap wajar karena mereka punya\nsesuatu lebih yang kita tidak punya.

3. TIDAK PUNYA GOAL / CITA-CITA

Kita sering terpaku dengan kesibukan kerja, tetapi arahnya tidak jelas. Sebaiknya kita selalu mempunyai target kerja dengan milestone. Buat target jangka panjang dan jangka pendek secara tertulis. Ilustrasinya kayak gini : Ada anjing jago lari yang sombong. Apa sih yang nggak bisa saya kejar, kuda aja kalah sama saya. Kemudian ada kelinci lompat-lompat, kiclik, kiclik, kiclik. Temannya bilang: "Nah tuh ada kelinci, kejar aja". Dia kejar itu kelinci, wesss...., kelinci lari lebih kencang, anjingnya ngotot ngejar dan kelinci lari sipat-kuping (sampai nggak dengar / peduli apa-apa), dan akhirnya nggak terkejar, kelinci masuk pagar. Anjing kembali lagi ke temannya dan diketawain. "Ah lu, katanya jago lari, sama kelinci aja nggak bisa kejar. Katanya lu paling kencang". "Lha dia goalnya untuk tetap hidup sih, survive, lha gua goalnya untuk, fun aja sih". Kalau "GOAL" kita hanya untuk "FUN", isi waktu aja, ya hasilnya cuma terengah-engah saja.

4.MEMPUNYAI "GOAL", TAPI NGAWUR MENCAPAINYA

Biasanya\ndialami oleh orang yang tidak "teachable". Goalnya salah, fokus kita juga salah,\njalannya juga salah, arahnya juga salah. Ilustrasinya kayak gini : ada pemuda\nyang terobsesi dengan emas, karena pengaruh tradisi yang mendewakan emas. Pemuda\nini pergi ke pertokoan dan mengisi karungnya dengan emas dan seenaknya ngeloyor\npergi. Tentu saja ditangkap polisi dan ditanya. Jawabnya : Pokoknya saya mau\nemas, saya nggak mau lihat kiri-kanan.

5.MENGAMBIL JALAN PINTAS, SHORT CUT

Keberhasilan\ntidak pernah dilalui dengan jalan pintas. Jalan pintas tidak membawa orang ke\nkesuksesan yang sebenarnya, real success, karena tidak mengikuti proses.Kalau kita menghindari proses, ya nggak matang, kalaupun matang ya dikarbit. Jadi, tidak ada tuh jalan pintas. Pemain bulutangkis Indonesia bangun jam 5 pagi, lari keliling Senayan, melakukan smesh 1000 kali. Itu bukan jalan pintas. Nggak ada orang yang leha-leha tiap hari pakai sarung, terus tiba- tiba jadi juara bulu\ntangkis. Nggak ada ! Kalau anda disuruh taruh uang 1 juta, dalam 3 minggu jadi 3\njuta, masuk akal nggak tuh ? Nggak mungkin !. Karena hal itu melawan kodrat.",1]

6. MENGAMBIL JALAN TERLALU PANJANG, TERLALU SANTAI

Analoginya begini : Pesawat terbang untuk bisa take-off, harus mempunyai kecepatan minimum. Pesawat Boeing 737, untuk dapat take- off, memerlukan kecepatan minimum 300 km/jam. Kalau kecepatan dia cuma 50 km/jam, ya cuma ngabis-ngabisin avtur aja, muter-muter aja. Lha kalau jalannya, runwaynya lurus anda cuma pakai kecepatan 50 km/jam, ya nggak bisa take-off, malah nyungsep iya. Iya kan ?

7. MENGABAIKAN HAL-HAL YANG KECIL

Dia maunya yang besar-besar, yang heboh, tapi yang kecil-kecil nggak dikerjain. Dia lupa bahwa struktur bangunan yang besar, pasti ada komponen yang kecilnya. Maunya yang hebat aja. Mengabaikan hal kecil aja nggak boleh, apalagi mengabaikan orang kecil.

8. TERLALU CEPAT MENYERAH

Jangan berhenti kerja pada masa percobaan 3 bulan. Bukan mengawali dengan yang salah yang bikin orang gagal, tetapi berhenti pada tempat yang salah. Mengawali dengan salah bisa diperbaiki, tetapi berhenti di tempat yang salah repot sekali.

9. BAYANG BAYANG MASA LALU

Wah puitis sekali, saya suka sekali dengan yang ini. Karena apa ? Kita selalu penuh memori kan ? Apa yang kita lakukan, masuk memori kita, minimal sebagai pertimbangan kita untuk langkah kita berikutnya. Apalagi kalau kita pernah gagal, nggak berani untuk mencoba lagi. Ini bisa balik lagi ke penyakit nomer-3. Kegagalan sebagai akibat bayang-bayang masa lalu yang tidak terselesaikan dengan semestinya. Itu bayang-bayang negatif. Memori kita kadang- kadang sangat membatasi kita untuk maju ke depan. Kita kadang-kadang lupa bahwa hidup itu maju terus. "Waktu" itu maju kan ?. Ada nggak yang punya jam yang jalannya terbalik ?? Nggak ada kan ? Semuanya maju, hidup itu maju. Lari aja ke depan, kalaupun harus jatuh, pasti ke depan kok. Orang yang berhasil, pasti pernah gagal. Itu memori negatif yang menghalangi kesuksesan.

10. MENGHIPNOTIS DIRI DENGAN KESUKSESAN SEMU

Biasa disebut Pseudo Success Syndrome. Kita dihipnotis dengan itu. Kita kalau pernah berhasil dengan sukses kecil, terus berhenti, nggak kemana-mana lagi.Sudah puas dengan sukses kecil tersebut. Napoleon pernah menyatakan: "Saat yang paling berbahaya datang bersama dengan kemenangan yang besar". Itu saat yang paling berbahaya, karena orang lengah, mabuk kemenangan. Jangan terjebak dengan goal-goal hasil yang kecil, karena kita akan menembak sasaran yang besar, goal yang jauh. Jangan berpuas diri, ntar jadi sombong, terus takabur.

( kiriman seorang kawan )

Wednesday, December 06, 2006

10 Kualitas Pribadi, sebagai KACA DIRI. . .

1. Ketulusan

Ketulusan menempati peringkat pertama sebagai sifat yang paling disukai oleh semua orang. Ketulusan membuat orang lain merasa aman dan dihargai karena yakin tidak akan dibodohi atau dibohongi. Orang yang tulus selalu mengatakan kebenaran, tidak suka mengada-ada, pura-pura, mencari-cari alasan atau memutarbalikkan fakta.Prinsipnya "Ya diatas Ya dan Tidak diatas Tidak". Tentu akan lebih idealbila ketulusan yang selembut merpati itu diimbangi dengan kecerdikan seekorular. Dengan begitu, ketulusan tidak menjadi keluguan yang bisa merugikan dirisendiri.

2. Rendah Hati

Beda dgn rendah diri yg merupakan kelemahan, kerendahhatian justrumengungkapkan kekuatan. Hanya orang yang kuat jiwanya yang bisa bersikap rendah hati. Ia seperti padi yang semakin berisi semakinmenunduk. Orang yang rendah hati bisa mengakui dan menghargai keunggulan oranglain. Ia bisa membuat orang yang diatasnya merasa oke dan membuat orangyang di bawahnya tidak merasa minder.

3. Kesetiaan

Kesetiaan sudah menjadi barang langka & sangat tinggi harganya. Orang yg setia selalu bisa dipercaya dan diandalkan. Dia selalu menepati janji, punya komitmen yang kuat, rela berkorban dan tidak suka berkhianat.

4. Bersikap Positif

Orang yang bersikap positif selalu berusaha melihat segala sesuatu dari kacamata positif, bahkan dalam situasi yang buruk sekalipun. Dia lebih suka membicarakan kebaikan daripada keburukan orang lain, lebih suka bicara mengenai harapan drpd keputusasaan, lebih suka mencari solusi daripada frustasi, lebih suka memuji daripada mengecam, dsb.

5. Keceriaan

Karena tidak semua orang dikaruniai temperamen ceria, maka keceriaan tidak harus diartikan ekspresi wajah dan tubuh tapi sikaphati. Orang yang ceria adalah orang yang bisa menikmati hidup, tidak suka mengeluh dan selalu berusaha meraih kegembiraan. Dia bisa mentertawakan situasi, orang lain, juga dirinya sendiri. Dia punya potensi untukmenghibur dan mendorong semangat orang lain.

6. Bertanggung Jawab

Orang yang bertanggung jawab akan melaksanakan kewajibannya dengansungguh-sungguh. Kalau melakukan kesalahan, dia berani mengakuinya. Ketika mengalami kegagalan, dia tidak akan mencari kambing hitam untuk disalahkan. Bahkan kalau dia merasa kecewa dan sakit hati, diatidak akan menyalahkan siapapun. Dia menyadari bahwa dirinya sendirilahyang bertanggung jawab atas apapun yang dialami dan dirasakannya.

7. Kepercayaan Diri

Rasa percaya diri memungkinkan seseorang menerima dirinya sebagaimana adanya, menghargai dirinya dan menghargai orang lain. Orangyang percaya diri mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan dan situasiyang baru. Dia tahu apa yang harus dilakukannya dan melakukannya denganbaik.

8. Kebesaran Jiwa

Kebesaran jiwa dapat dilihat dr kemampuan seseorang memaafkan orang lain. Orang yang berjiwa besar tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh rasa benci dan permusuhan. Ketika menghadapi masa-masa sukar dia tetap tegar, tidak membiarkan dirinya hanyut dalam kesedihan dan keputusasaan.

9. Easy Going

Orang yang easy going menganggap hidup ini ringan. Dia tidak sukamembesar-besarkan masalah kecil. Bahkan berusaha mengecilkanmasalah-masalah besar. Dia tidak suka mengungkit masa lalu dan tidak mau khawatir dengan masa depan. Dia tidak mau pusing dan stress denganmasalah-masalah yang berada di luar kontrolnya.

10. Empaty

Empati adalah sifat yg sangat mengagumkan. Orang yg berempati bukan saja pendengar yang baik tapi juga bisa menempatkan diri pada posisi orang lain. Ketika terjadi konflik dia selalu mencari jalan keluarterbaik bagi kedua belah pihak, tidak suka memaksakan pendapat dan kehendaknyasendiri. Dia selalu berusaha memahami dan mengerti orang lain.

* dari seorang kawan

Friday, December 01, 2006

Pabrik Bio-etanol Terbesar Siap Dibangun

Produsen bio-etanol dari Korea Selatan, LBL Network Ltd menandatangi nota kesepahaman dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Pemerintah Kabupaten Kuningan, Subang, Sumedang, dan Indramayu untuk membangun pabrik pemroses ubi kayu menjadi bio-etanol di Jawa Barat. Bio-etanol merupakan bahan campuran untuk premium.

Pemerintah Jawa Barat akan memfasilitasi masyarakat di Kuningan, Subang, Sumedang, dan Indramayu menanam ubi kayu sepsies Manihot Esculanta Trans. Empat daerah ini menjadi basis penanaman ubi. "Proyek ini untuk mengembangkan industri bio-etanol," kata Presiden & CEO LBL Network Co. Ltd. Kang Yong Soo di Bandung pada Kamis (30/11).

Dalam operasinya, perusahaan Korea Selatan ini menggandeng PT Mitra Sae International sebagai pelaksanaka joint operation pengembangan pabrik bio-premium. Bahan ini merupakan hasil campuran antara Premium dan 5 persen etanol dari bahan baku ubi kayu.

Menurut Direktur PT Mitra Sae International Tony Firmansyah, pabrik yang dibangun memiliki kapasitas produksi 200 juta liter etanol per tahun. Lokasinya di sekitar Indramayu, Sumedang, atau Subang. Total investasi, termasuk working capital mencapai 100 juta dolar Amerika. “Ini industri bio-etanol terbesar di Indonesia,” katanya.

Untuk mencapai target produksi itu, kata dia, dibutuhkan bahan baku ubi kayu segar sebanyak 1,2 juta ton per tahun. Lahan untuk menghasilkan ubi kayu segar itu diperkerikan sekitar 23 ribu hektare. Tapi, untuk menjaga kelangsungan produksi ubi kayu dibutuhkan lahan seluas 50 ribu hektar.

Wakil Gubernur Jawa Barat Nu'man Abdul Hakim meminta empat daerah tadi tidak menggunakan lahan produktif untuk menanam ubi kayu. "Jangan melakukan alih fungsi lahan produktif ke ubi," katanya. Penyediaan lahan akan memakai konsep inti plasma yakni masyarakat dilibatkan menanam ubi dan bukan dengan membebaskan lahan.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Jawa Barat Asep S Abdie meminta lahan untuk ubi kayu berada di tanah landai. Selain itu pola penanaman ubi harus dengan cara diselang agar tidak merusak tanah. ahmad fikr

Sumber : Tempo interaktif Dec.01.2006