Thursday, August 16, 2007

62 Tahun Indonesia Merdeka (I)

Kamis, 16 Agustus 2007


Tajuk Rencana Kompas


Keprihatinan di Hari Proklamasi

Rel kereta api digergaji. Penganggur masih sekitar 10 juta. Penduduk miskin terhitung masih sekitar 35 juta orang. Di banyak tempat orang berunjuk rasa.

Unjuk rasa di sana-sini diikuti bentrokan. Bencana alam terus menggebu. Penyakit flu burung dan demam berdarah pasang surut. Dari negara-negara tetangga pun, kita masih ketinggalan. Prihatin, ya, prihatin. Itulah suasana hati kita dalam menyambut dan memperingati Hari Proklamasi Kemerdekaan Ke-62.

Dengan sengaja kita lukiskan suasana pikiran dan hati kita dengan prihatin. Suatu ungkapan sarat nuansa dan makna. Sedih, berduka, tetapi tidak menyerah, apalagi patah semangat. Mengandung kritik, koreksi, dan peringatan, tetapi kental dengan nuansa menyalahkan dan menggugat diri sendiri. Bersedih hati, tetapi tidak patah semangat, bahkan tetap menimba semangat kebangkitan, harapan, serta upaya bersama dari kondisi yang memprihatinkan itu.

Memperingati Hari Proklamasi berarti menghidupkan cita-cita, semangat, dan komitmen bersejarah masa lampau untuk masa depan disertai refleksi kritik terhadap pengalaman jatuh bangun dan pasang surut selama 62 tahun ini. Luar biasa historis alias bersejarah, pengorbanan dan heroisme pergerakan kebangsaan dan kemerdekaan. Pandangan, sikap, dan tujuan perjuangan dan pergulatan para Bapak Bangsa sungguh berdimensi dan bermakna sejarah yang mendahului zaman, lengkap dan amat sangat aktual hingga kini dan selanjutnya. Negara merdeka, berfaham kebangsaan yang terbuka, berideologi Pancasila yang merupakan sublimasi dari kekayaan Ibu Pertiwi yang diaktualkan dan diperkaya dengan beragam ideologi dunia serta dikunyah tuntas, sehingga merupakan jati diri yang historis, sekaligus aktual dan relevan. Ya, mendahului zaman.

Pelaksanaan, penyelenggaraan perikehidupan bangsa dan negara yang merdeka untuk mewujudkan cita-cita dan komitmen bersama itulah tantangan selama 62 tahun. Itu pula tantangan di depan mata kita dalam konteks dunia yang semakin terbuka dan global. Jalan yang kita pilih kini jalan demokrasi. Demokrasi yang mana? Bukan liberal parlementer seperti tahun lima puluhan, bukan demokrasi terpimpin, bukan demokrasi otokratis. Demokrasi yang menghargai martabat dan hak asasi, yang memberikan kebebasan, yang mewujudkan kedaulatan rakyat lewat pemilihan umum, yang praktiknya kini ya presidensial, ya parlementer.

Berbagai jalan yang kita tempuh selama ini disertai tujuan dan cara subyektif yang baik, yakni semakin cepat mewujudkan tujuan kemerdekaan yang secara amat mulia dan bersintesa dirumuskan dalam kelima sila Pancasila. Yang semangat, prinsip, dan tujuannya yang konkret adalah keadilan dan kesejahteraan sosial bagi seluruh warga. Demokrasi adalah jalan. Betapapun prinsipiilnya, jalan itu akhirnya haruslah menuju ke kesejahteraan seluruh rakyat secara adil. Komitmen pada tujuan dan prinsip kecuali disertai semangat pengabdian dan pengorbanan disertai upaya dan kerja keras lagi jujur, harus pula cakap dan cerdas. Diperlukan pelengkap ilmu pengetahuan, teknologi, dan kerja sama yang kritis positif dengan bangsa-bangsa lain. Dalam sistem politik apa pun, suatu bangsa yang mengejar cita-cita dan tujuannya memerlukan kepemimpinan pada tingkat puncak dan semua eselonnya formal maupun informal. Ya, kita peringati Hari Proklamasi Kemerdekaan Ke-62 ini dengan keprihatinan!


Terlunta di Negeri Merdeka

Baskara T Wardaya

Ketika pada tanggal 17 Agustus 1945 Bung Karno dan Bung Hatta atas nama bangsanya memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, yang mereka maksud adalah kemerdekaan bagi seluruh rakyat di bekas wilayah Hindia Belanda.

Bagi mereka, kemerdekaan itu bukan hanya untuk kelompok ekonomi tertentu, kelompok etnis tertentu, atau kelompok agama tertentu. Kemerdekaan adalah kemerdekaan untuk semua.

Itu sebabnya penjajah bermaksud menguasai kembali negeri ini dan dilawan kedua proklamator serta para pejuang. Hal ini dimaksudkan, sekali lagi, kemerdekaan untuk semua. Dengan prinsip sadumuk bathuk sanyari bumi, yang berarti ’tidak rela tanahnya dikuasai kembali oleh penjajah meski hanya sejengkal’, para pejuang mempertaruhkan nyawa demi kemerdekaan tanah tumpah darah. Banyak pejuang mati di tangan musuh asing. Namun, bagi mereka, lebih baik mati berkalang tanah daripada hidup tertindas di bawah penjajah. "Merdeka atau mati!", itu tekad mereka.

Berjuang sendirian

Betapa ironisnya 62 tahun kemudian, saat kita menengok ke belakang dan merenungkan kembali perjalanan negeri ini, sejak kemerdekaan diproklamasikan. Tampak begitu banyak warga "negeri merdeka" yang ternyata tetap tertindas dan terlunta-lunta di tanah tumpah darahnya sendiri. Banyak dari mereka tak mampu memiliki cukup tanah untuk tinggal atau menghidupi diri. Berbagai upaya untuk bisa mendapatkan tanah yang layak selalu mengalami hambatan karena harus berhadapan dengan kepentingan mereka yang lebih kuat dan lebih berkuasa.

Kita masih ingat, pada tahun 1960-an ada upaya untuk membagi tanah secara adil berdasarkan undang-undang resmi pemerintah (Undang-Undang Pokok Agraria). Upaya itu justru menimbulkan ketegangan sosial dan menjadi salah satu pemicu bagi pembantaian massal terhadap rakyat kecil. Sistem kepemilikan tanah yang lebih adil pun gagal dilaksanakan. Tak cukup dengan tragedi pembunuhan sesama warga, kasus-kasus tanah terus merebak sejak naiknya rezim otoritarian yang merebut panggung kepemimpinan setelah berlangsungnya tragedi itu.

Terjadilah, misalnya, kasus penggusuran paksa tanpa ganti rugi yang pantas demi pembangunan Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta (1971), misalnya. Juga sengketa tanah di Gunung Balak, Lampung (1972), kasus tanah Siria-ria, Sumatera Utara (1977), dan penggusuran demi pembangunan Taman Borobudur, Jawa Tengah (1982). Begitu pula kasus tanah Kedung Ombo (Jawa Tengah), penggusuran untuk pembuatan lapangan golf di Cimacan (Jawa Barat), kasus tanah Kemayoran, serta kasus tanah Talangsari (Lampung)—yang semuanya berlangsung tahun 1989. Pada tahun 1996 terjadi kasus tanah Balongan (Jawa Barat) dan Nipah (Madura). Belum lagi kasus lumpur Lapindo (2006) di Jawa Timur yang melahap tanah tempat tinggal dan gantungan hidup banyak warga masyarakat. Ini belum terhitung ratusan kasus penggusuran di kota-kota besar, dengan warga diusir dari tempat tinggalnya tanpa alternatif memadai.

Terakhir, Mei 2007. Kita dibuat sedih oleh kasus Alas Tlogo, Jawa Timur, saat sejumlah warga harus mati saat hendak mempertahankan tanah tempat mereka hidup. Di Alas Tlogo itu rakyat gugur bukan karena mempertahankan tanah dari serangan musuh asing, tetapi oleh oknum aparat. Sungguh menyedihkan.

Semua kasus itu dan berbagai kasus lain yang ada boleh saja berbeda tempat dan waktu terjadinya. Namun, biasanya berujung pada klimaks yang sama: atas nama kepentingan tertentu rakyat harus minggir dan meninggalkan tanah tempat mereka hidup. Mereka digusur secara tidak adil dari tempat tinggal di Tanah Air mereka sendiri, yang kemerdekaannya diperjuangkan oleh pahlawan pendahulu mereka.

Sementara itu, ribuan warga masyarakat yang terpinggirkan akhirnya harus hidup terlunta-lunta secara ekonomis dan terpaksa mencari nafkah di negeri-negeri lain sebagai buruh kasar atau pembantu rumah tangga. Keterlunta-luntaan tersebut sering membuat mereka harus berjuang sendiri melawan kekejaman para majikan.

Kasus tewasnya Siti Tarwiyah dari Ngawi dan Susmiyati dari Pati serta teraniayanya dua rekan lain di tangan anak majikan mereka di Arab Saudi, Agustus 2007 ini, hanyalah contoh terakhir tragedi anak bangsa dari negeri yang resminya sudah merdeka ini.

Penjajahan baru

Menjadi tampak, pada satu sisi kemerdekaan yang diproklamasikan tahun 1945 telah membuat kita bebas dari penjajahan asing. Namun, di sisi lain belum seluruh rakyat Indonesia berkesempatan menikmati kemerdekaan itu. Banyak orang di negeri ini masih hidup di bawah tekanan dan ketertindasan. Apa yang diperjuangkan para pahlawan kemerdekaan belum sepenuhnya menjadi kenyataan.

Itu sebabnya acara mengheningkan cipta pada setiap upacara bendera, termasuk upacara peringatan Proklamasi, bukan hanya merupakan saat penting untuk mengenang jasa pahlawan, tetapi juga menjadi kesempatan istimewa guna menundukkan kepala bagi mereka yang meski telah diperjuangkan oleh para pahlawan, tetapi masih terlunta-lunta di negeri merdeka milik sendiri. Mereka ini berhak mendapat perhatian dan pembelaan dari siapa saja. Kemerdekaan kita adalah kemerdekaan untuk semua.

Jelaslah, bagi rakyat Indonesia merdeka dari penjajah asing itu penting. Namun, tak kalah penting adalah merdeka dari bentuk-bentuk penjajahan baru, entah itu datang dari bangsa asing, entah itu datang dari bangsa sendiri. Merdeka!

Baskara T Wardaya Direktur Pusat Sejarah dan Etika Politik (Pusdep) Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

Sumber: Opini Kompas Aug.16.07


Merdeka bagi Rakyat Miskin
Benny Susetyo

Setiap memperingati hari kemerdekaan, selalu muncul pertanyaan, seberapa jauh kita benar-benar merdeka?

Bila ditanyakan arti kemerdekaan kepada pedagang kaki lima yang tempat berjualannya digusur semena-mena, warung dirobohkan paksa, atau buruh ditipu majikan, maka kemerdekaan merupakan omong kosong. Bagi mereka, kemerdekaan hanya fakta sejarah.

Tidak menjiwai kehidupan

Kemerdekaan tidak menjiwai kehidupan masyarakat karena berhenti sebagai fakta sejarah. Kemerdekaan adalah cerita masa lalu dan tidak terkait dengan masa kini. Keharuan dan keceriaan dalam aneka perlombaan, pemutaran film, upacara pengibaran bendera, kerja bakti memerahputihkan kampung sering hanya seremoni agustusan. Rutinitas mencoba memaknai heroisme.

Kemerdekaan kita baru sebatas kata-kata, sulit menjadi jiwa peri kehidupan masyarakat, sebab semua orang ingin meraih "kemerdekaannya" masing-masing. Jiwa kemerdekaan sebagai kesatuan rasa kolektif kebangsaan berubah menjadi keserakahan pribadi-pribadi untuk memiliki kemerdekaan masing-masing.

Makna kemerdekaan terasa sempit bila hanya merdeka dari penjajah pada 17 Agustus 1945. Seolah setelah kemerdekaan itu kita tak lagi memiliki musuh bersama, atau tak ada lagi yang bisa dijadikan musuh bersama. Padahal seiring dengan perubahan era, masih banyak musuh yang harus dihadapi bersama.

Kemerdekaan bukan sekadar upacara di tanah lapang, melainkan memberi kelapangan luas kepada rakyat untuk mengisi kemerdekaan ini tanpa gangguan.

Keadilan yang kian melepuh ibarat api dalam sekam. Ketidakadilan merupakan musuh yang terus menggerogoti jiwa kemerdekaan 1945. Siapakah yang tidak khawatir bila jiwa kemerdekaan 1945 suatu saat runtuh karena kesadaran elite untuk bersikap adil terhadap rakyatnya tergerus sikap egois, cinta kekuasaan, dan nafsu serakah.

Tanpa meremehkan arti kemerdekaan 1945, inilah fakta kehidupan bangsa sepanjang merdeka. Dialektika "mengisi kemerdekaan" selama 62 tahun sering hampa bagi kaum papa. Mereka seolah bukan pribadi yang berhak menikmati kemerdekaan.

Para pahlawan yang gigih berjuang pada masa lalu tak pernah membayangkan kehidupan anak yang kesulitan mengakses pendidikan. Faktanya, berapa juta anak Indonesia merasa sengsara karena harus berpendidikan atau lebih sengsara karena sulitnya berpendidikan?

Para elite bangsa harus bertanggung jawab atas aneka persoalan yang menyangkut nestapa kehidupan rakyat pada masa merdeka ini. Mereka telah memperlakukan negara dan kekuasaan bukan untuk membuktikan kesungguhan kemerdekaan, melainkan meremehkannya dengan berbuat tidak adil dan menghambat kreativitas masyarakat.

Para elite bangsa yang tidak merasa keliru mengelola negara, dengan menghamba kepada neoimperialisme asing ataupun utang luar negeri, sudah saatnya menyadari dampak yang kian parah dari ketidaksiapan bangsa menghadapi globalisasi. Kita nyaris tidak memiliki nilai tawar di mata internasional. Bahkan lebih buruk, pembangunan yang telah dijalankan 62 tahun, sebagian besar tidak jelas untuk siapa.

Masyarakat miskin tetap menjadi obyek derita dari semua sandiwara elite kekuasaan. Kemiskinannya menjadi komoditas yang diperjualbelikan untuk keuntungan tertentu. Ini semua dilakukan dalam situasi dan kondisi yang disebut merdeka.

Merdeka bermakna bebas

Merdeka bermakna bebas dari penjajahan fisik ataupun mental. Merdeka bermakna kolektif, dengan kemerdekaan kolektif menjadi cermin kemerdekaan individual, bukan sebaliknya.

Kaum miskin butuh hak untuk menikmati kemerdekaan. Kemerdekaan bukan hanya milik elite politik dan orang kaya. Kini, kemerdekaan belum merata. Tidak semua jiwa yang hidup di Tanah Air ini menikmati kemerdekaan dalam arti sebenarnya. Semakin tua umur kemerdekaan, selayaknya melahirkan bangsa dengan elite lebih bijak. Semakin tua umur kemerdekaan, seharusnya menambah kedewasaan berpikir, merasa, dan bertindak.

Kemerdekaan 1945 memiliki makna amat dalam bagi pembebasan manusia. Ketidakadilan ekonomi, agama, sosial, budaya dan politik adalah bentuk ketidakmerdekaan. Membiarkan ketidakadilan berkembang, berarti membiarkan pengkhianatan terhadap arti kemerdekaan.

BENNY SUSETYO Pendiri Setara Institute



Membesarkan Jiwa Bangsa

Yudi Latif

Apa yang menentukan besar-kecilnya suatu bangsa? Sejarawan HG Wells menyimpulkan, "Anasir terpenting yang menentukan nasib suatu bangsa adalah kualitas dan kuantitas tekadnya." Tekad sebagai sikap mental (state of mind) yang mencerminkan kuat-lemahnya jiwa bangsa.

Soekarno menandaskan hal ini dalam peringatan Isra Mi’raj 7 Februari 1959. "Tidak ada suatu bangsa dapat berhebat, jikalau batinnya tidak terbuat dari nur iman yang sekuat-kuatnya. Jikalau kita bangsa Indonesia ingin kekal, kuat, nomor satu jiwa kita harus selalu jiwa yang ingin Mi’raj—kenaikan ke atas—agar kebudayaan kita naik ke atas, supaya negara kita naik ke atas. Bangsa yang tidak mempunyai adreng, adreng untuk naik ke atas, bangsa yang demikian itu, dengan sendirinya akan gugur pelan-pelan dari muka Bumi (sirna ilang kertaning Bumi).

Membesarkan jiwa

Maka, Bung Karno berkali-kali menekankan perlunya membesarkan jiwa. "Tiap-tiap bangsa mempunyai orang-orang besar, tiap-tiap periode sejarah mempunyai orang-orang yang besar, tetapi lebih besar daripada Mahatma Gandhi adalah jiwa Mahatma Gandhi, lebih besar dari Stalin adalah jiwa Stalin, lebih besar daripada Roosevelet adalah jiwa Roosevelt,... lebih besar daripada tiap-tiap orang besar adalah jiwa daripada orang besar itu. Jiwa yang besar yang tidak tampak itu ada dalam dada tiap manusia, bahkan kita mempunyai jiwa sebagai bangsa. Maka kita sebagai manusia mempunyai kewajiban untuk membesarkan kita punya jiwa sendiri dan membesarkan jiwa bangsa yang kita menjadi anggota daripadanya."

Dalam hal ini, Mohammad Hatta gundah tentang masa depan kemerdekaan Indonesia yang mungkin dilumpuhkan oleh kekerdilan jiwa bangsa sendiri. Dengan mengutip puisi Schiller, ia bernubuat, "Sebuah abad besar telah lahir/tetapi ia menemukan generasi yang kerdil."

Dalam pandangan Bung Hatta, sebuah bangsa tidak eksis dengan sendirinya, tetapi tumbuh atas landasan keyakinan dan sikap batin yang perlu terus dibina dan dipupuk. Terlebih kebangsaan Indonesia, sebagai konstruksi politik yang meleburkan aneka (suku) bangsa ke dalam unit kebangsaan baru, "Untuk mempertahankannya tiap orang harus berusaha dengan segala tenaga dan kemampuannya."

Peran kepemimpinan amat penting sebagai jangkar solidaritas kebangsaan. Para pemimpin mengemban amanat penderitaan rakyat, yang tanpa pertanggungjawabannya kemajemukan kebangsaan Indonesia sulit menemukan kehendak bersama. "Indonesia luas tanahnya, besar daerahnya dan tersebar letaknya. Pemerintahan negara yang semacam itu hanya dapat diselenggarakan oleh mereka yang mempunyai tanggung jawab yang sebesar-besarnya, dan mempunyai pandangan yang amat luas. Rasa tanggung jawab itu akan hidup dalam dada kita jika kita sanggup hidup dengan memikirkan lebih dahulu kepentingan masyarakat, keselamatan nusa, dan kehormatan bangsa. Untuk mendapatkan rasa tanggung jawab yang sebesar-besarnya, kita harus mendidik diri kita sendiri dengan rasa cinta akan kebenaran dan keadilan yang abadi. Hati kita harus penuh dengan cita-cita besar, lebih besar dan lebih lama umurnya dari kita sendiri (Pidato Radio, 8 November 1944).

Kesempatan merenung

Harapan dan peringatan kedua bapak bangsa itu perlu direnungkan di sela peringatan kemerdekaan Indonesia. Perlu refleksi diri, mengapa karunia kekayaan dan keindahan negeri ini tak sebanding dengan martabat bangsanya, kekayaan alam tak membawa kemakmuran, kelimpahan penduduk tak memperkuat daya saing, kemajemukan kebangsaan tak memperkuat ketahanan budaya, keberagamaan tak mendorong keinsafan berbudi.

Berdiri di awal milenium baru, menyaksikan perubahan yang luas cakupannya, instan kecepatannya, dan dalam penetrasinya, menyentuh rasa hirau kita tentang masa depan bangsa. Adakah kelebihan yang bisa dibanggakan selain karunia yang terberikan? Adakah sebutan yang bisa diukir di gelanggang internasional selain gelar-gelar buruk?

Manusia, sang pengubah

Dalam rasa keadilan Ilahi, tak ada ketentuan bahwa jalan hidup suatu bangsa harus tetap di pinggiran. Dari hari ke hari, firman Tuhan kian membuktikan kebenaran dirinya. Dalam sejarah kejatuhan dan kejayaan suatu kaum, manusia sendirilah pusat pengubahnya.

Kita perlu "senjata" baru, cara pengucapan baru, dan karisma pengubah sejarah baru. Ilmu dan teknologi, semangat inovasi dan daya etos dan etis yang mewujud ke dalam kualitas manusia unggul adalah senjata, bahasa, dan karisma baru kita untuk memenangi masa depan.

Seharusnya kita bisa. Kita mewarisi kebesaran jiwa para pendiri bangsa, yang menorehkan nama Indonesia sebagai pelopor gerakan kemerdekaan di Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Dengan kebesaran jiwa dan pengikatan kekuatan nasional, kita masih cukup memiliki sumber daya untuk bangkit dari keterpurukan.

Untuk itu, bangsa kita harus keluar dari kekerdilan mentalitas budak—yang mudah dilamun ombak dan bersilang sengkarut—dengan memberi isi dan arah hidup kebangsaan. Seperti kata Bung Karno dalam Amanat Proklamasi 1956, "Bangsa Indonesia harus mempunyai isi hidup dan arah hidup. Kita harus mempunyai levensinhoud dan levensrichting. Bangsa yang tidak mempunyai isi hidup dan arah hidup adalah bangsa yang hidupnya tidak dalam, bangsa yang dangkal, bangsa yang cetek, bangsa yang yang tidak mempunyai levensdiepte sama sekali. Ia adalah bangsa penggemar emas sepuhan, dan bukan emasnya batin. Ia mengagumkan kekuasaan pentung, bukan kekuasaan moril. Ia cinta kepada gebyarnya lahir, bukan kepada nurnya kebenaran dan keadilan. Ia kadang-kadang kuat, tetapi kuatnya adalah kuatnya kulit, padahal ia kosong melompong di bagian dalamnya."

Yudi Latif Pemikir Kenegaraan dan Keagamaan

Tuesday, August 14, 2007

OTOMOTIF : 15 Menit Untuk TARUNA Tercinta

Selamat pagi semua..

Hari ini saya coba ulas tips PENGECHEKAN RUTIN, yang dapet kita lakukan sendiri dirumah.

1. Pengechekkan Oli Mesin

Oli mesin adalah oli pelumas untuk pelumasan mesin taruna. Standard minimum yang ditetapkan adalah Mesran Super 20W50 dan jadwal pengatiannya adalah setiap kelipatan 5.000 km dan akan disertai penggantian oli filter setiap kelipatan 10.000 km. Nah dalam rentang waktu 5.000 km, apa yang kita pribadi perhatikan atau lakukan.. ???
a. Buatlah jadwal pengechekan rutin (sesuai dgn kesibukan pribadi).. mau mingguan atau 2 mingguan)...
b. Mencatat atau mengingat setiap hasil Pengechekan.

Apa sih yg dilakukan... ?

Untuk melihat "kuantitas atau Volume" oli mesin, dibagian sisi kanan mesin (kita menghadap ke mesin).. ada stick oli..

Bagaimana cara melihatnya ??
- Sebelum mesin distater : siapkan lap atau tissue, tarik stick indikator oli, bersihkan ujung stick, masukkan lagi dan tarik kembali... oli yg terbawa di posisi mana ??? ada diantara tanda garis atas dan bawah atau ada diluar tanda tersebut ? Jika ada diantara tanda tersebut, berarti "AMAN".. volume oli yg ada di masin aman. Jika berada diatas tanda atas, berarti volumenya kelebihan, yang berdampak pada kinerja mesin jadi berat dan kita menjadi orang yang "boros". Apabila berada dibawah tanda bawah.. berarti volume oli "kurang" untuk kebutuhan pelumasan mesin, akan berdampak.. suara mesin jadi kasar dan "dapat" menyebakan panas mesin berlebih dan mesin bisa "hancur". Hal yang harus diperhatikan adalah.. jika hari ini dichechk level oli di garis atas... ehhh minggu berikut berada ditengaha... dan minggu berikutnya udah deket-deket batas bawah... berarti ada indikasi : Kehilangan oli karena terbakar, bisa karena seal valve yg rusak atau ring piston yg sudah tidak berfungsi dgn baik.
Hal tersebut juga ditandai oleh adanya asap putih yg keluar dari ujung knalpot.

- Jika mesin terlanjur distater,... diamkan mesin sekitar 15 menit.. baru lakukan pengukuran seperti urutan diatas.

Pengurangan oli secara significant berarti ada kelainan pada mesin, tapi jika pengurangannya "TIDAK" significant, .. ini tergantung pada jenis oli yg digunakan, karena setiap type oli mempunyai spesifikasi tersendiri, yang salah satunya adalah tingkat penguapan. Selama pemakaian 5.000 km , pengurangan oli sampai 1 liter, masih dalam batas wajar... so disarankan, untuk di km 3.000 diperlukan penambahan sekitar 1/2 liter sampai 1 liter.

Nah selain kuantitas atau volume oli (yang secara tepat harus dilakukan pengukuran dgn bejana.. yaitu dgn cara oli dikeluarkan dan ditampung), kita dapat mengecheck "KUALITAS" oli... dengan cara : pegang oli tersebut dengan ibu jari dan jari telunjuk.. coba digesek-gesekkan.. jika ada "rasa" lengket.. berarti oli dalam keadaan baik.. kalau encer.. berarti oli sudah kehilangan fungsi pelumasannya.

Selain itu.. dari warna oli yg diujung stick, kita dapet juga memperhatikan warnanya...
- Jika kecoklatan .. berarti tidak tercampur dgn air
- Jika ada kecoklatan plus putih (atau coklat susu).. pertanda oli mesin tercampur dgn air. Nah ini harus dibawa kebengkel untuk diperiksa.. dimana terjadi kebocoran air ke ruang oli.


2. Pengechekan AIR atau Cairan
Di mesin kita ada beberapa air atau cairan :
a. Air atau cairan ACCU.... jika berada di antara level atas dan bawah .. AMAN, jika kurang ditambahakan air accu.. tapi jangan yg ZUUR. Tapi jangan juga melebihi batas level atas.. nanti akan tumpah saat pengisisn strom dan menyebabkan body yg keropos . Jika air accu kurang, bisa menyebabkan oksidai antara udara dengan sheel accu, sehingga akan mengakibatkan kemampuan shel dalam menyimpan strom berkurang.

b. Air Radiator.. yang diperiksa adalah yang di tabung reservoir air radiator, pastikan berada diantara level atas dan bawah. Jika berlebih akan tumpah, dan jika kurang akan "bisa" menyebabkan over heat.. karena kebutuhan air untuk proses pendinginan tidak dapet dipenuhi dari persedian air di reservoir tank.

c. Air Wiper .... pastikan tidak kosong.. biar kita tidak bingung kalau kaca depan atau belkang kotor.. eh air wiper habis..

3. Periksa volume oli rem ... nah ada disisi kiri yg nempel dibody ... bisa dilihat.. apakah dalam level aman.


semoga bermanfaat... hari ini cukup ini.. berikutnya akan saya kupas secara berlanjut....

salam

Renungan : Siapa saya..?

TUHAN :
Kamu memanggilKu ?

AKU :
Memanggilmu?
Tidak.. Ini siapa ya?

TUHAN :
Ini TUHAN.
Aku mendengar doamu.
Jadi Aku ingin berbincang-bincang denganmu.

AKU :
Ya, saya memang sering berdoa, hanya agar saya merasa lebih baik.
Tapi sekarang saya sedang sibuk, sangat sibuk.

TUHAN :
Sedang sibuk apa? Semut juga sibuk.

AKU :
Nggak tau ya.
Yang pasti saya tidak punya waktu luang sedikitpun.
Hidup jadi seperti diburu-buru.
Setiap waktu telah menjadi waktu sibuk.

TUHAN :
Benar sekali.
Aktifitas memberimu kesibukan.
Tapi Produktifitas memberimu hasil.
Aktifitas memakan waktu, Produktifitas membebaskan waktu.

AKU :
Saya mengerti itu.
Tapi saya tetap tidak dapat menghidarinya.
Sebenarnya, saya tidak mengharapkan Tuhan mengajakku chatting seperti ini.

TUHAN :
Aku ingin memecahkan masalahmu dengan waktu, dengan memberimu beberapa
petunjuk.
Di era internet ini, Aku ingin menggunakan medium yang lebih nyaman untukmu
daripada mimpi, misalnya.

AKU :
OKE, sekarang beritahu saya, mengapa hidup jadi begitu rumit?

TUHAN :
Berhentilah menganalisa hidup.
Jalani saja.
Analisa-lah yang membuatnya jadi rumit.

AKU :
Kalau begitu mengapa kami manusia tidak pernah merasa senang?

TUHAN :
Hari ini adalah hari esok yang kamu khawatirkan kemarin.
Kamu merasa khawatir karena kamu menganalisa.
Merasa khawatir menjadi kebiasaanmu.
Karena itulah kamu tidak pernah merasa senang.

AKU :
Tapi bagaimana mungkin kita tidak khawatir jika ada begitu banyak
ketidakpastian.

TUHAN :
Ketidakpastian itu tidak bisa dihindari.
Tapi kekhawatiran adalah sebuah pilihan.

AKU :
Tapi, begitu banyak rasa sakit karena ketidakpastian.

TUHAN :
Rasa Sakit tidak bisa dihindari, tetapi Penderitaan adalah sebuah pilihan.

AKU :
Jika Penderitaan itu pilihan, mengapa orang baik selalu menderita?

TUHAN :
Intan tidak dapat diasah tanpa gesekan.
Emas tidak dapat dimurnikan tanpa api.
Orang baik melewati rintangan, tanpa menderita.
Dengan pengalaman itu, hidup mereka menjadi lebih baik bukan sebaliknya.

AKU :
Maksudnya pengalaman pahit itu berguna?

TUHAN :
Ya.
Dari segala sisi, pengalaman adalah guru yang keras.
Guru pengalaman memberi ujian dulu, baru pemahamannya.

AKU :
Tetapi, mengapa kami harus melalui semua ujian itu?
Mengapa kami tidak dapat hidup bebas dari masalah?


TUHAN :
Masalah adalah Rintangan yang ditujukan untuk meningkatkan kekuatan mental
Kekuatan dari dalam diri bisa keluar dari perjuangan dan rintangan, bukan
dari berleha-leha.


AKU :
Sejujurnya ditengah segala persoalan ini, kami tidak tahu kemana harus
melangkah...


TUHAN :
Jika kamu melihat ke luar, maka kamu tidak akan tahu kemana kamu melangkah.
Lihatlah ke dalam.
Melihat ke luar, kamu bermimpi.
Melihat ke dalam, kamu terjaga.
Mata memberimu penglihatan.
Hati memberimu arah.


AKU :
Kadang-kadang ketidakberhasilan membuatku menderita.
Apa yang dapat saya lakukan?


TUHAN :
Keberhasilan adalah ukuran yang dibuat oleh orang lain.
Kepuasan adalah ukuran yang dibuat olehmu sendiri.
Mengetahui tujuan perjalanan akan terasa lebih memuaskan daripada mengetahui
bahwa kau sedang berjalan.
Bekerjalah dengan kompas, biarkan orang lain bekejaran dengan waktu.


AKU :
Di dalam saat-saat sulit, bagaimana saya bisa tetap termotivasi?


TUHAN :
Selalulah melihat sudah berapa jauh saya berjalan, daripada masih berapa
jauh saya harus berjalan.
Selalu hitung yang harus kau syukuri, jangan hitung apa yang tidak kau
peroleh.


AKU :
Apa yang menarik dari manusia?


TUHAN :
Jika menderita, mereka bertanya "Mengapa harus aku?".
Jika mereka bahagia, tidak ada yang pernah bertanya "Mengapa harus aku?".


AKU :
Kadangkala saya bertanya, siapa saya, mengapa saya disini?


TUHAN :
Jangan mencari siapa kamu, tapi tentukanlah ingin menjadi apa kamu.
Berhentilah mencari mengapa saya di sini.
Ciptakan tujuan itu.
Hidup bukanlah proses pencarian, tapi sebuah proses penciptaan.


AKU :
Bagaimana saya bisa mendapat yang terbaik dalam hidup ini?


TUHAN :
Hadapilah masa lalu-mu tanpa penyesalan.
Peganglah saat ini dengan keyakinan.
Siapkan masa depan tanpa rasa takut.


AKU :
Pertanyaan terakhir.
Seringkali saya merasa doa-doaku tidak dijawab.


TUHAN :
Tidak ada doa yang tidak dijawab.
Seringkali jawabannya adalah TIDAK.


AKU :
Terima Kasih Tuhan atas chatting yang indah ini.


TUHAN :
Oke.
Teguhlah dalam iman, dan buanglah rasa takut.
Hidup adalah misteri untuk dipecahkan, bukan masalah untuk diselesaikan.
Percayalah padaKu.
Hidup itu indah jika kamu tahu cara untuk hidup.

Sunday, August 12, 2007

The Key of Success !!!!

ADA pepatah yang mengatakan, kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda. Sudah banyak kita menemukan dan membaca buku-buku yang mengupas tentang apa itu sukses, bagaimana cara mewujudkannya, namun sejauh ini masih banyak yang belum memahami apa itu sukses yang sebenarnya. Sampai pada suatu ketika kita menemukan buku The 8th Habits karya Covey yang dianggap banyak orang sebagai buku kulminasi meraih kesuksesan sejati.

Buku Quantum Success karya Bobbi DePorter ini memang beda. Sebab, delapan kunci yang ia sebut sebagai katalis kesuksesan ia simpulkan berdasarkan pengalamannya selama 25 tahun perjalanan hidupnya bersama SuperCamp. Jika Covey lebih banyak berbicara bagaimana menjadi manusia agung, maka De-Porter lebih menekankan pada proses pencapaiannya. Karena DePorter selama ini kita kenal sebagai ahli dalam pengembangan potensi diri. Ia juga piawai dalam menawarkan keterampilan belajar dan hidup yang berarti. Sebut saja karya-karyanya seperti Quantum Learning, Quantum Business, dan Quantum Teaching (semua diterbitkan Kaifa).

Sekilas membaca buku ini terasa ciri khas DePorter yang senang memberikan tips dan cara-cara bagaimana kesuksesan sejati itu bisa digapai. Jika kita bertanya pada diri kita, apa faktor utama yang paling penting dalam sebuah kesuksesan? Jawaban normatifnya adalah kerja keras, semangat, dan lain-lain. Buku ini memberikan jawaban yang berbeda. Yaitu Anda harus menjadi diri sendiri (be your self).

Menurut DePorter, inti dari Quantum Success adalah jati diri. Itu artinya kesuksesan yang Anda cari hanya akan timbul jika Anda memberikan kontribusi positif bagi dunia dan lingkungan dengan menjadi diri Anda yang sejati. Ini dibuktikan DePorter lewat pelatihan SuperCamp sejak 1985 kepada anak-anak. Inilah inspirasi awal DePorter menulis buku ini.

Selama pelatihan SuperCamp, DePorter menemukan kejadian luar biasa ketika anak-anak diajak berkemah selama sepuluh hari yang bertujuan membantu mereka mengeluarkan potensi kegeniusan masing-masing. Pada hari pertama, anak-anak datang dengan penuh keraguan. Setelah sepuluh hari berlatih dan pulang, mereka memancarkan kesenangan, antusiasme, dan energi positif yang luar biasa. Mereka menemukan diri mereka sendiri. Anak-anak yang awalnya datang dengan sangat pendiam dan pemalu, setelah sepuluh hari di SuperCamp berubah jadi lebih periang dan berani. Pengalaman-pengalaman di SuperCamp inilah yang mampu mengubah hidup mereka. Nah, melalui buku inilah DePorter ingin membagi rahasia suksesnya membuat anak-anak mengenali kegeniusannya masing-masing.

Untuk menggapai kesuksesan sejati, dibutuhkan proses yang konsisten dan fokus, demikian simpulan DePorter (hlm. 28-31). Itu artinya, dalam hidup ini tidak ada kesuksesan yang cepat, serbainstan, dan potong kompas. Semua melalui proses alamiah mengikuti hukum alam. Layaknya kepompong butuh 10 hari perjuangan dan pengorbanan untuk bisa menjadi kupu-kupu yang indah.

Jika kita peras buku ini dengan perasan metode speed reading ala Soedarso, maka akan muncul 8 saripati gizi buku yang disebut De-Porter sebagai 8 kunci keunggulan. Yakni jalani nilai Anda; kegagalan akan mengantar ke kesuksesan; bicaralah dengan tujuan baik; inilah saatnya!; bulatkan tekad; ambillah kepemilikan; tetaplah fleksibel; dan jagalah keseimbangan Anda (hlm. 105-185).
Lalu, muncul pertanyaan, mengapa Anda tidak sukses tanpa katalis-katalis kunci ini? DePorter menjawab singkat, karena jika visi tanpa prinsip katalis kunci, maka visi itu hanya meninggalkan kekecewaan karena salah arah. Ibarat pesawat, prinsip katalis kunci ini adalah pilotnya (penunjuk dan pengendali arah).

Ditambahkan DePorter, Quantum Success yang ia ciptakan adalah untuk menggambarkan fenomena yang terjadi dalam diri seseorang tatkala interaksi pribadi berubah dari energi menjadi cahaya. Kata "quantum" dipinjam dari Albert Einstein sebagai maksud dari perubahan reaksi energi yang terjadi dalam diri seseorang ketika ia mendapatkan quantum success seperti cahaya yang dia gambarkan pada tingkat atomik. Ketika daya-daya ini bertemu, maka akan terjadi ledakan. Sebuah perubahan yang sangat besar. Karena itulah, kehadiran buku ini sangat bermanfaat bagi siapa saja yang menginginkan kesuksesan sejati sekaligus juga akan melengkapi sekuel buku-buku pengembangan diri lainnya.

Di mana pun Anda berada, pandanglah diri Anda selalu sebagai sebuah karya yang sedang berlangsung. Tepat sekali apa yang dikatakan John Letellier, "Jika Anda pikir Anda masih hijau, Anda akan berkembang; namun jika Anda pikir Anda sudah matang, maka Anda akan membusuk." Oleh karena itu, berpikirlah untuk terus merasa hijau agar kita semua bisa lebih banyak berlatih untuk menggapai kesuksesan sejati. (*)

dikutip dari resensi buku di harian jawapos oleh :
Rohmah Maulidia MA Pengajar di STAIN Ponorogo dan Direktur ECEES Ponorogo

Wednesday, August 08, 2007

BELAJAR DARI IKAN DAN KAIL

Suatu saat Noerhedi dan anaknya pergi memancing di sebuah kolam pancing. Saat tiba di lokasi kolam pancing dia dibimbing oleh seorang pemandu. Berikut ini percakapan antara Noerhedi dan sang pemandu :

Pemandu : "Bapak ingin memancing di kolam yang tipe apa?"

Noerhedi : "Lho memangnya di sini ada kolam tipe apa aja?"

Pemandu : " Di sini ada banyak kolam, ada kolam yang ikannya besar-besar tapi ikannya jarang biasanya ini untuk tingkat yang sudah mahir, ada juga yang tingkat
kesulitannya sedang, tapi kita punya satu kolam istimewa, di kolam tersebut jika bapak melemparkan kail, lalu langsung di tarik dan pasti dapat ikan"

Noerhedi : "Wahh mana ada kolam seperti itu?? saya tidak percaya tapi ya boleh lah saya mau coba kolam istimewa itu!"

Pemandu : "Ok tapi kolam ini ada syaratnya yaitu setiap ikan yang terpancing dari kolam ini tidak boleh di bawa pulang, melainkan harus dilepas kembali ke kolam tersebut! "

Noerhedi : "Ok tidak masalah"

Singkat cerita si Noer mulai memancing di kolam istimewa itu, di melemparkan kail ..... terasa kail itu bergetar sedikit .... dia menarik kail itu dan ternyata ..... umpannya hilang, tapi Noer tidak mendapatkan ikannya. Noer mencoba lagi 2x, 3x, 4x, selalu umpannya hilang tapi tidak dapat ikan. Lalu Noerhedi dengan agak sedikit emosi berbicara pada si pemandu.

Noer : "Wahh kamu bohong ya?? mana buktinya saya sudah lempar tapi selalu gagal!!"

Pemandu : "Hahahaha, bapak tidak tahu caranya sih, sini saya coba tunjukan kepada bapak"


Sang pemandu mengambil kail si Noer, memasang umpan, melemparkan kali, satu detik setelah kail menyentuh air sang pemandu langsung menarik kail nya dah hubb... tertangkaplah ikan tersebut. Sambil membebaskan ikan dari kail dan melepaskan kembali ke kolam sang pemandu bercerita.

Pemandu : "Hehehe, ikan-ikan di kolam ini tidak pernah diberi makan sehingga kelaparan. Tetapi ikan-ikan di kolam juga ini memiliki mulut yang sangat peka karena sudah beratus-ratus kali terkena kail dan dilepaskan kembali. Sehingga ketika memakan umpan dan merasakan ada sesuatu yang keras (kail) maka ikan tersebut segera memuntahkan umpan tersebut"


PELAJARAN YANG BISA KITA AMBIL :

Ikan-ikan tersebut sudah berkali-kali terkena kail. Sama seperti kita yang sering kali jatuh bangun menghadapi KEGAGALAN dalam hidup. TAPI, sama seperti ikan yang sudah hafal akan kail dan umpan yang mereka makan dan menjadikan mereka kebal ... semestinya kita juga bisa menghadapi dan menyikapi KEGAGALAN yang terjadi dalam hidup kita dengan bijaksana. KEGAGALAN adalah sebuah kesempatan agar kita semakin kuat dan semakin pintar untuk terbebas dari kegagalan-kegagalan lain di masa mendatang.

Attitude : "KECERDASAN SIKAP"

Apakah Anda termasuk eksekutif yang mudah cemas dan berkata :”Saya merasa seperti dikejar target,” ataukah selalu optimis dan berkata :”Saya menyukai tantangan baru.”

Penelitian Salvatore R. Maddi dan Suzanne C. Kobasa : The Hardy Executive : Health Under Stress (Homewood, IL, Dow Jones-Irwin, 1984) menunjukkan bahwa mereka yang mananggapi stress dengan kesabaran, memandang pekerjaan sebagai tantangan yang menyenangkan, memandang perubahan sebagai peluang bertumbuh, mampu menghadapi stress secara lebih baik dan berhasil melewatinya tanpa kesulitan yang berarti.

Seolah merupakan paradoks, sebuah peristiwa (baca : pekerjaan) yang sama, dapat dipersepsikan berbeda tergantung dari cara seseorang men-sikapinya, apakah menggunakan pemahaman yang tepat atau sebaliknya. Demikian pula apakah peristiwa tersebut diinginkan ataupun tidak.

Sebuah peristiwa yang menegangkan apakah berupa target penjualan, deadline projek, pengembangan produk baru dsb. jika disikapi secara tepat dapat dianggap sebagai sebuah tantangan yang mengasyikkan. Apalagi jika peristiwa tersebut diberi muatan emosi menjadi suatu sasaran yang kita inginkan.

Jika stimuli dipersepsikan sebagai sebuah ancaman …. biasanya rasa tegang muncul dalam bentuk rasa cemas, takut, bahkan fobia. Pada situasi seperti ini kadar hormon Kortisol (hormon penyebab stress) dalam darah akan meningkat. Sebaliknya jika stimuli tersebut dipersepsikan sebagai sebuah tantangan maka ketegangan tersebut dirasakan sebagai hal yang menggembirakan dan menyenangkan. Dalam keadaan seperti ini hormon pengendali stress Dehydroepiandrosterone-S (DHEA-S) yang justru meningkat.

Seseorang yang memahami kesuksesan sebagai sebuah proses pembelajaran dan bekerja dengan hati yang gembira, berpotensi tumbuh dan meraih prestasi terbaiknya.

Itu sebabnya “kecerdasan sikap” sebagai sebuah pengetahuan dan keterampilan hidup perlu dikenalkan kepada karyawan sejak dini.

Wednesday, July 25, 2007

Makna Pekerjaan anda

Makna Pekerjaan Anda...
By James Gwee

Beberapa waktu yang lalu saya memberikan pelatihan mengenai sikap
kerja disebuah hotel berbintang lima di Singapura. Salah satu peserta
pelatihan adalah Pak Lim, seorang pria berusia 60 tahunan yang bekerja
di hotel tersebut. Bagi saya pekerjaan sehari-hari Pak Lim sangatlah
monoton dan membosankan. Setiap hari, dengan membawa sebuah daftar,
dia mengecek engsel pintu setiap kamar hotel.

Saya akan menceritakan sedikit bagaimana tugas Pak Lim sebenarnya.
Pak Lim memulai rangkaian tugasnya dengan mengecek engsel pintu pintu
kamar 1001 dan memastikan bahwa engsel dan fungsi kunci pintu
berfungsi dengan baik. Pengecekan yang dilakukannya bukanlah
pengecekan "seadanya", namun pengecekan yang saksama di setiap engsel
dan memastikan bahwa setiap pintu bisa dibuka-tutup tanpa masalah.

Untuk mengecek satu pintu saja, Pak Lim berulang kali membukan dan
menutup pintu tersebut hanya untuk memastikan bahwa semuanya berfungsi
dengan baik. Barulah setelah puas, dia memberi paraf pada daftar yang
dibawanya dan mengecek pintu kamar berikutnya, kamar 1002, dia
melakukan hal yang sama, begitu seterusnya. Dalam sehari, Pak Lim bisa
mengecek pintu 30 kamar.

Anda tentu bertanya, berapa hari waktu yang dibutuhkan Pak Lim untuk
mengecek pintu semua kamar di hotel itu. kurang lebih sebulan! Tidak
mengejutkan sebenarnya karena hotel berbintang lima ini memiliki
sekitar 600 kamar.

Tugas pengecekan Pak Lim dapat diibaratkan sebagai lingkaran.
setelahpintu kamar terakhir selesai dicek, Pak Lim akan kembali lagi
ke kamar pertama, kamar 1001. Rangkaian tugas ini terus berjalan
seperti itu, dari hari ke hari, bulan ke bulan, tahun demi tahun.
Pekerjaan semaca ini jelas merupakan pekerjaan monoton, tanpa variasi
dan membosankan! saya sendiri tidak habis pikir, bagaimana mungkin Pak
Lim masih bisa cermat dan teliti mengecek setiap engsel pintu dalam
menjalani tugas yang membosankan ini. saya membayangkan, seandainya
saya sendiri yang diminta melakukan hal semacam ini, mungkin saya akan
memeriksa setiap engsel sekedarnya saja.

Karena sangat penasaran, suatu hari saya bertanya kepada Pak Lim apa
yang sebenarnya membuatnya begitu tekun menjalani pekerjaan rutin itu.
Jawabannya sungguh diluar dugaan saya. Dia mengatakan," James, dari
pertanyaan Anda, saya bisa menyimpulkan bahwa Anda tidak mengerti
pekerjaan saya. Pekerjaan saya bukan sekedar memeriksa engsel, tetapi
lebih dari itu. Begini. Tamu-tamu kami di hotel berbintang lima ini
jelas bukan orang sembarangan. mereka biasanya adalah Kepala Keluarga,
CEO sebuah perusahaan, Direktur atau Manajer Senior. Dan saya tahu
mereka semua jelas bertanggung jawab atas kehidupan keluarga mereka,
dan juga banyak karyawan dibawahnya yang jumlahnya mungkin 20 orang,
100 atau bahkan ribuan orang.

"Nah, kalau sesuatu yang buruk terjadi di hotel ini, misalnya saja
kebakaran dan pintu tidak bisa dibuka karena engselnya rusak, mereka
bisa meninggal didalam kamar. akibatnya bisa Anda bayangkan, pasti
sangat mengerikan, bukan hanya untuk reputasi hotel ini, tetapi juga
bagi keluarga mereka, karyawan yang berada dibawah tanggungan mereka.
Keluarga mereka akan kehilangan sosok Kepala Keluarga yang menafkahi
mereka dan karyawan mereka akan kehilangan sorang pimpinan senior yang
bisa jadi mengganggu kelancaran perusahaan. Sekarang Anda mungkin
dapat mengerti bahwa tugas saya bukan sekedar memeriksa engsel, tapi
menyelamatkan Kepala Keluarga dan Pimpinan unit bisnis sebuah
perusahaan. Jadi, jangan meremehkan tugas saya."

Saya benar-benar terperangah mendengar penjelasan panjang lebar Pak
Lim. Dari situlah saya mengerti bahwa jika seseorang tahu benar makna
dibalik pekerjaannya, dia akan melakukan pekerjaannya dengan bangga,
dengan senang hati, dengan penuh tanggung jawab. Sebaliknya,
seandainya saja Pak Lim tidak mengerti makna pekerjaannya, dia akan
mengatakan bahwa tugasnya hanya sebagai tukang periksa engsel.

Sekarang, coba tanyakan pada diri sendiri. Apakah anda tahu benar
makna dibalik pekerjaan Anda? Katakanlah Anda adalah seorang Staff,
Kepala Bagian, Manajer unit bisnis, Kadiv, apakah Anda tahu makna
dibalik pekerjaan anda sebagai seorang Staff, Kepala Bagian , Manajer
atau Kadiv ?

Ingatlah bahwa jika seorang tahu makna pekerjaannya, dia pasti akan
melakukan pekerjaan dengan rasa bangga, dan yang terpenting, dia akan
membuat pekerjaannya penuh arti, bagi dirinya, bagi keluarganya dan
bagi perusahaannya.

Regards,
JAMES GWEE