Monday, July 16, 2007
Lentera : 4 hal yang membuat hidup berarti
Ada empat hal yang membuat hidup manusia di dunia ini menjadi berarti: kesehatan yang baik, keluarga yang baik, hati yang bersyukur dalam segala hal, dan keyakinan ke mana kita akan pergi setelah kita mati. Kekayaan dan kekuasaan tidak termasuk dalam keempat hal tersebut, karena kekayaan dan kekuasaan adalah sebuah beban yang diletakkan di atas pundak manusia dan harus dipertanggung-jawabkan suatu hari. (es)
Tuesday, July 03, 2007
GIGIH ALA NYOMAN LONDEN
Prepared by : “The Seven Doors”
Pengusaha sekaligus motivator yang satu ini memang layak mendapat julukan “Mr. GIGIH”, tidak hanya karena semangatnya yang menyala-nyala tetapi juga karena memang perjalanan hidupnya mengisyaratkan kegigihan yang luar biasa. Dibesarkan dalam keluarga yang cukup melarat, Nyoman Londen memang harus bertarung sangat keras dengan kehidupan. Meskipun demikian bukan kisah hidup Nyoman Londen yang akan kita bahas saat ini, melainkan salah satu tips, atau lebih tepatnya konsep yang seringkali beliau kumandangkan dalam setiap seminar. Konsep tersebut adalah “GIGIH”. Kata GIGIH disini ternyata memiliki arti yang mendalam, kata GIGIH juga saat ini banyak mengispirasi banyak orang.
G = Gagasan
I = Inputan
G = Gerakan
I = Ibadah
H = Hati Nurani
Gagasan
Diperlukan untuk memulai segala sesuatu. Gagasan merupakan cikal bakal lahirnya hal-hal besar.
Inputan
Inputan yang dimaksud dalam hal ini ada bagaimana kita belajar, mengumpulkan segenap informasi, knowledge atau pengalaman dari berbagai sumber, yang berhubungan dengan gagasan tersebut.
Gerakan
Bahasa kerennya Action ! Hanya sekedar Gagasan dan Inputan, hanya akan membuat kita bermain dalam level teori saja. Berteori, berteori dan sekedar berteori. Step selanjutnya yang biasanya mengandung unsur resiko ada Gerakan. Lewat gerakan atau Action kedua hal pertama akan disempurnakan.
Ibadah
Hal ketiga adalah ibadah. Elemen keempat ini tidak kalah pentingnya. Dengan Ibadah, berarti kita mengembalikan segala sesuatu kepada Sang Khalik. Lewat Ibadah pula, kekuatan kita akan berlipat ganda. Selain itu ibadah mempunyai satu point yang sangat krusial yaitu berperan untuk menyucikan motivasi kita, ini penting karena tanpa ibadah, kesuksesan kita hanyalah sekedar jerat duniawi belaka.
Hati Nurani
Tetapi segalanya tidak berhenti begitu saja, hati nurani adalah motor penggerak kita untuk mewujudkan gagasan tersebut. Dari sisi ini, ketulusan dan keiklasan adalah modal utama kita.
Sekarang kelima elemen GIGIH lengkap sudah. Bila kita sungguh-sungguh menghayatinya, niscaya apapun cita-cita kita, entah profesional ataupun enterpreneur, pasti akan terwujud.
Bersama pasti kita bisa, dengan satu langkah pasti. GIGIH !!!
Pengusaha sekaligus motivator yang satu ini memang layak mendapat julukan “Mr. GIGIH”, tidak hanya karena semangatnya yang menyala-nyala tetapi juga karena memang perjalanan hidupnya mengisyaratkan kegigihan yang luar biasa. Dibesarkan dalam keluarga yang cukup melarat, Nyoman Londen memang harus bertarung sangat keras dengan kehidupan. Meskipun demikian bukan kisah hidup Nyoman Londen yang akan kita bahas saat ini, melainkan salah satu tips, atau lebih tepatnya konsep yang seringkali beliau kumandangkan dalam setiap seminar. Konsep tersebut adalah “GIGIH”. Kata GIGIH disini ternyata memiliki arti yang mendalam, kata GIGIH juga saat ini banyak mengispirasi banyak orang.
G = Gagasan
I = Inputan
G = Gerakan
I = Ibadah
H = Hati Nurani
Gagasan
Diperlukan untuk memulai segala sesuatu. Gagasan merupakan cikal bakal lahirnya hal-hal besar.
Inputan
Inputan yang dimaksud dalam hal ini ada bagaimana kita belajar, mengumpulkan segenap informasi, knowledge atau pengalaman dari berbagai sumber, yang berhubungan dengan gagasan tersebut.
Gerakan
Bahasa kerennya Action ! Hanya sekedar Gagasan dan Inputan, hanya akan membuat kita bermain dalam level teori saja. Berteori, berteori dan sekedar berteori. Step selanjutnya yang biasanya mengandung unsur resiko ada Gerakan. Lewat gerakan atau Action kedua hal pertama akan disempurnakan.
Ibadah
Hal ketiga adalah ibadah. Elemen keempat ini tidak kalah pentingnya. Dengan Ibadah, berarti kita mengembalikan segala sesuatu kepada Sang Khalik. Lewat Ibadah pula, kekuatan kita akan berlipat ganda. Selain itu ibadah mempunyai satu point yang sangat krusial yaitu berperan untuk menyucikan motivasi kita, ini penting karena tanpa ibadah, kesuksesan kita hanyalah sekedar jerat duniawi belaka.
Hati Nurani
Tetapi segalanya tidak berhenti begitu saja, hati nurani adalah motor penggerak kita untuk mewujudkan gagasan tersebut. Dari sisi ini, ketulusan dan keiklasan adalah modal utama kita.
Sekarang kelima elemen GIGIH lengkap sudah. Bila kita sungguh-sungguh menghayatinya, niscaya apapun cita-cita kita, entah profesional ataupun enterpreneur, pasti akan terwujud.
Bersama pasti kita bisa, dengan satu langkah pasti. GIGIH !!!
Sepuluh Pengganjal Kebahagiaan Anda
Tulisan ini disarikan dari "Ten Roadblocks to Happiness and How to Overcome Them". This is not a book to read. This is a philosophy to be lived. For if the principles are not applied, they will be powerless to help bring about change.
LET GO OF DEMAND
Apa sih, yang sebenarnya membuat Anda marah dan kecewa? Apakah seseorang yang memotong antrian di depan Anda? Pengemudi iseng yang memprovokasi Anda di jalanan? Komputer yang hanya untuk di-boot saja terasa begitu lama? Handphone yang harus berganti setiap bulan dua kali karena terus dicuri? Orang yang mengejek dan mempermainkan Anda? Hujan sepanjang hari? Tagihan bejibun yang membuat Anda marah sampai ke ubun-ubun?
Bukan, bukan itu semua. Apa yang membuat Anda marah dan kecewa adalah "tuntutan yang kekanak-kanakan" dan "ekspektasi yang tidak realistis".
Saat Anda masih bayi, apa yang perlu Anda lakukan untuk mendapatkan sesuatu, hanyalah berteriak menangis sekencang-kencangnya. Dengan modal itu, Anda mendapatkan popok yang baru, susu ibu atau susu sapi, atau barang sepuluh lima belas kerokan pisang ambon untuk dinikmati.
Itulah ciri Anda saat masih helpless dulu. Waktu itu, perilaku demanding Anda masih bisa diterima. Tapi kini Anda telah dewasa. Anda bertanggung jawab pada hidup Anda, dan Anda tidak bisa lagi berharap bahwa dunia akan melayani Anda sebagaimana yang Anda mau. Jika Anda tetap melakukannya sekarang, itu namanya self-induced misery, alias penderitaan yang Anda buat sendiri. Berhentilah.
Apa yang perlu Anda lakukan sebenarnya cukup mudah. Anda hanya perlu mengganti demand dan ekspektasi, dengan preferensi.
"Aku sih nggak nuntut suamiku bangun lebih pagi, tapi aku lebih prefer kalo dia memang bisa melakukannya."
Anda akan lebih mengerti, dan Anda akan menjadi orang yang penuh pengertian.
Buanglah Pola Pikir yang Tidak Rasional
"Saya tidak akan pernah berbahagia kecuali dunia melayani Saya seperti yang Saya mau."
Itu tidak rasional. Apa yang bisa Anda kontrol hanyalah diri Anda sendiri.
Bersikaplah Mau Berbahagia
Disadari atau tidak, Anda mungkin tidak ingin berbahagia. Anda bisa melepaskan apapun dari diri Anda; uang, harta, waktu, energi, dan bahkan cinta, kecuali satu; penderitaan Anda.
Bahagia haruslah dimulai dari kemauan Anda sendiri. Anda mau bahagia atau tidak? Secara sadar Anda jelas mau berbahagia. Tapi cobalah selami kembali alam bawah sadar Anda. Bisa jadi, Anda sendiri yang tidak mau berbahagia.
Saat Anda merasa marah, itu penderitaan yang tidak membahagiakan. Lepaskanlah penderitaan Anda, bukan lampiaskan. Bertanyalah pada diri sendiri, "Bener nih, mau nuker happy sama kemarahan ini?" Perpanjanglah sumbu Anda supaya Anda bisa membuang penderitaan.
Berhentilah Mengasihani Diri Sendiri
Anda tidak akan menjadi pahlawan hanya dengan menderita. Adalah lebih heroik jika Anda tetap riang gembira di tengah penderitaan.
Berhentilah Membesar-besarkan
Tak perlu mem-blow-up permasalahan sampai keluar dari proporsinya. Itu akan melumpuhkan Anda. Belajarlah obyektif dan jadikanlah itu sebagai motivasi untuk mengambil tindakan.
LET GO OF REGRET
Anda pasti pernah menyesali sesuatu tentu saja. Wong kita ini manusia kok. Itu, sebenarnya versi lain dari kata-kata: "Kita tidak sempurna".
Tak perlu panik atau terobsesi oleh penyesalan. Jadikanlah ia kekuatan positif. Anggaplah itu sebagai wakeup call, sebuah tepukan yang membangunkan Anda dari tidur. Bukankah Anda macan?
Janganlah menunda tindakan dengan penyesalan. Bertindaklah segera dan Anda tidak akan menyesal lagi, sebab Anda telah melakukan sesuatu.
Tutuplah rapat-rapat lebarnya jarak antara Anda yang ideal dan Anda yang sekarang. Nikmatilah Anda yang sekarang dan lakukan apa yang terbaik menurut Anda. Sebab jika Anda punya waktu untuk menyesal, maka Anda pasti punya waktu untuk melakukan sesuatu tentang itu.
LET GO OF GREED
"Saya telah punya semua yang saya mau, dan Saya telah menjadi apa yang Saya ingin, kecuali..."
Ya. Itulah Anda barangkali. Tidak SEMUA yang Anda mau akan Anda dapatkan.
Pertama, resources Anda terbatas. Kedua, nafsu Anda adalah sesuatu yang tidak akan pernah terpuaskan. Ia seperti air laut. Makin Anda minum, makin kering rasanya tenggorokan. Desire Anda tidak salah, melewati batasnyalah yang salah.
Sadarilah bahwa penyebab kerakusan adalah kesenangan. Bisa memiliki memang menyenangkan. Tapi kesenangan itu sendiri bisa menjadi candu. Kita sering lupa, bahwa kesenangan tidak selalu sama dengan kebahagiaan. Saat Anda menemukan bahwa kesenangan ternyata tidak sama dengan kebahagiaan, muncullah ketakutan dan kekhawatiran. Takut dan khawatir itu, akan memicu desire Anda lebih besar lagi.
Maka, Anda akan menemukan lingkaran yang abadi di sini: Karena desire Anda tidak pernah punya ujung, maka fear Anda juga tak akan pernah punya muara. Berhentilah menjadi manusia yang terpenjara!
Iya. Tapi bagaimana?
Fokus dan terapkanlah prioritas. Mulailah dahulu dengan BEING. Soal HAVING, ya belakangan sajalah. Dan untuk BEING, Anda harus DOING. Just DO your best.
LET GO OF WORRY
Anda tahu kenapa lagu "Don't Worry - Be Happy" begitu ngetop? Karena itulah panggilan jiwa Anda.
Pahamilah perbedaan antara "menderita" dan "khawatir". Menderita adalah pesan tentang masalah, sementara khawatir adalah pesan tentang adanya peluang untuk tumbuh dan berkembang. Jadi waspadalah. Apakah Anda memang menderita, atau sebenarnya Anda hanya khawatir saja?
Jika Anda hanya khawatir, ketahuilah bahwa sumbernya adalah ketakutan. Anda takut terhadap sesuatu yang masih gelap, blank, dan tidak tahu apa-apa tentangnya. Atau, Anda takut menghadapi tantangan.
Ketahuilah bahwa setiap detik dan setiap saat, Anda adalah benih. Benih yang mestinya bisa tumbuh menjadi besar dan hebat. Worry can't change the past, but it can ruin the present. Berpengetahuanlah, dan bertindaklah menyambut tantangan. Seperti seekor macan.
LET GO OF DEFENSIVENESS
Salah itu normal, termasuk jika itu melukai orang lain. Bukan nyuruh nih, tapi kita semua memang pernah berbuat salah. Anda tahu kan kenapa pensil, whiteboard, dan papan tulis itu ada penghapusnya? Karena Anda adalah manusia.
Jika Anda salah apa yang Anda katakan?
"Aduhhh.. maaf nih. Maaf, namanya juga manusia."
Lantas, apa yang Anda katakan jika orang lain yang salah?
"Dasar Bodoh!"
"Stupid!"
"Bloon."
Saat Anda salah, Anda adalah manusia. Saat orang lain salah, mereka bukan manusia. Ini tidak rasional. Maka, maafkankanlah mereka.
LET GO OF GUILT
Guilt adalah rasa tidak nyaman saat Anda mengalami perlawanan menentang kesadaran Anda sendiri. Guilt itu sendiri tidak terlalu berbahaya. Apa yang lebih berbahaya adalah ketiadaan solusinya.
Feeling guilty itu bagus. Itu sinyal lampu merah yang memperingatkan Anda agar stay on course. Maka saat Anda feeling guilty, dengarkanlah isi hati Anda. Manakah yang Anda pilih, short-term pleasure atau long-term gain?
Rasa bersalah yang tidak menemukan solusi, akan membuat Anda mengalami ini:
1. Pikiran yang tidak damai.
2. Rasa tidak percaya dan takut pada orang lain, atau bahkan kepada Allah SWT.
3. Sesuai angka ini, Anda akan menderita tiga kali:
Pertama, saat Anda bertindak tidak bertanggung jawab. Kedua, saat Anda melihat orang lain bertindak dengan penuh tanggung jawab. Ketiga, saat Anda harus menanggung konsekuensinya.
Berikut inilah yang perlu Anda lakukan saat Anda merasa tidak bertanggung jawab.
Ingatlah bahwa responsibility, adalah singkatan dari "response-ability". Kemampuan untuk merespon dengan tepat. Bagaimana caranya agar bisa merespon dengan tepat? Anda bisa menggunakan rumus AAA.
1. Admit. Akui bahwa pilihan tindakan Anda adalah salah.
2. Analyze. Analisis perilaku Anda. Apa alasan Anda memilih yang salah? Apa konsekuensinya? Bagaimana tidak mengulanginya? Bagaimana meluruskan pilihan yang sekarang?
3. Atonement, alias integritas. Integritas adalah menyatunya hati, jiwa, sasaran, tindakan, dan keimanan. Saat semuanya menyatu, Anda memasuki tahap atonement, alias at-one-ment.
Dengan AAA, Anda bisa memperbaiki keadaan.
LET GO OF SPITE
Anda, pasti pernah diprovokasi. Oleh pengemudi lain di jalanan, atau oleh orang lain yang mengejek dan melecehkan. Anda pasti pernah merasa diserang. Di kantor, di rumah, di lapangan sepak bola, di kantin, di mana saja.
Tidak ada perlunya Anda melayani yang begituan. Sebab, dunia Anda bisa rusak seharian. Mengalah sajalah, kecuali jika undang-undang dasar Anda yang terlanggar atau terinjak-injak.
Kita cenderung lupa bahwa kita lebih sering menggunakan hati untuk merasakan, ketimbang otak untuk berpikir. Ini sepertinya benar dan wajar. Tapi berhati-hatilah karena itu tidak logis dan tak rasional. Itu emosional.
Jika Anda merasa perlu melayani serangan, provokasi, dan ejekan orang lain, maka itu tentu ada sebabnya.
Pertama, rasa keadilan Anda yang terusik. Saat Anda merasa diserang, Anda merasa perlu membalasnya. Tapi, jika serangan itu dilakukan karena tidak sengaja, tidak dimaksudkan untuk menyerang, kesalahpahaman, atau hanya karena mereka bodoh saja, keadilan macam apa sih yang Anda inginkan?
Kedua, logika Anda yang terdistorsi. Anda berasumsi bahwa jika mereka mengalami sakit seperti yang Anda rasakan, maka mereka akan meminta maaf.
Tidak. Jikapun mereka akhirnya meminta maaf, itu bukan karena sakit yang Anda buat dengan serangan balasan, tapi karena pikiran dan hati mereka yang sudah lurus kembali. Saling menyakiti tidak akan menyelesaikan masalah. Ia bahkan memperuncingnya.
Ketiga, secara sadar atau tidak Anda mencoba menghindari tanggung jawab untuk membahagiakan diri sendiri. Sebab jika Anda memang mau bertanggungjawab untuk kebahagiaan Anda sendiri, Anda pasti tidak akan melarikan diri.
Jika begitu, bagaimana caranya memunculkan rasa tanggung jawab untuk kebahagiaan diri sendiri? Awareness-lah jawabannya.
Ketahuilah bahwa rasa sakit yang Anda derita adalah bukan karena serangan mereka, tapi karena reaksi Anda atas perilaku mereka. Mengapa mereka begitu jahat dan kejam kepada Anda? Karena mereka sedang sakit, dan mereka merasa terancam oleh Anda.
Responlah sikap buruk orang lain dengan kebaikan, maka Anda akan mulia dan terhormat. Cobalah selalu untuk bersikap rendah hati tapi bukan rendah diri.
Ketahuilah bahwa sabar itu tidak pasif. Ia tidak datang dengan sendirinya, dan ujug-ujug Anda menjadi sabar. Sabar itu kata kerja dan bukan kata sifat. Maka sabar, adalah disabar-sabarin.
LET GO OF ENVY
Anda juga mungkin pernah merasa kalah. Waspadalah. Salah-salah, kekalahan bisa membuat Anda menjadi orang yang envious, yaitu orang yang penuh dengki dan tidak bisa menerima kekalahan. Tidak senang jika orang lain senang, dan senang jika orang lain tidak senang.
Sikap envious, bisa berkembang dalam tiga tahap.
Pertama, saat Anda merasakan kekalahan. Di tingkat ini, perasaan kalah itu sebenarnya wajar. Apalagi jika Anda bisa memberi selamat kepada pemenang, dan kemudian menjadikan kekalahan sebagai pelajaran. Jika tidak bisa, maka di sinilah bibit envious Anda akan mulai tersemai.
Kedua, saat Anda mulai mengembangkan perilaku mensabotase orang lain. Mulainya dari yang kecil-kecil saja, seperti menciptakan isu dan gosip buruk, atau berharap dan "berdoa" untuk kemalangan dan kecelakaan bagi orang lain. Anda mungkin mengira ini tidak berbahaya.
Salah. Itu sangat berbahaya. Mengapa? Karena harapan buruk seperti itu adalah karatnya jiwa, persis seperti karatnya besi. Merusak, melubangi, merontokkan, dan menggerogoti semua amal baik. Lebih dari itu, dari mana sih datangnya semua tindak kejahatan? Ya dari doa, harapan, fitnah, dan pikiran negatif yang melenceng seperti itu!
Ketiga, seperti sudah disebut barusan, semuanya akan termanifestasi menjadi tindak kejahatan. Anda akan menjadi orang yang dengki, dengan sikap dan tindakan yang keji. Anda telah menghancurkan diri sendiri.
Jika Anda mulai mengalami gejala penyakit ini, resepnya sederhana. Bertemanlah dengan mereka yang menang. Kemudian, ubahlah cara berpikir Anda. Gantilah "Saya pengen kayak gitu," menjadi "Bagaimana supaya Saya bisa seperti itu."
LET GO OF ANGER
ANGER itu cuma satu huruf lebih pendek dari DANGER. Dan "D", adalah nilai minusnya.
Alasan yang bagus bagi Anda supaya tidak marah, adalah memahami bahwa kemarahan akan menyebarluaskan kelemahan. Saat Anda marah, Anda sebenarnya berkata, "Saya takut! Saya Terluka! Saya frustrasi!" Itu, adalah kata lain dari "Saya lemah."
Sadarilah bahwa orang, barang, atau situasi, akan cenderung membuat Anda selalu marah. Udah dari sononya begitu. Anda tidak bisa dengan mudah mengontrol sesuatu di luar diri Anda. Dan jika Anda marah, kemarahan Anda tidak akan membuat dunia berjalan sesuai kemauan Anda. Andalah yang harus menyesuaikan diri dengannya.
Sadarilah bahwa jika Anda menghadapi orang yang marah, they're not being mean; they're just being people. Like you. Dan seperti biasa, marah itu muncul disebabkan oleh fear. Rasa takut akan kehilangan kontrol.
Keinginan untuk mengontrol adalah benar. Tapi, ingin mengontrol orang lain itu salah. Yang benar, ingin memberi contoh teladan kepada orang lain. Mengontrol dengan kekuasaan? Salah juga. Apa yang perlu dikontrol hanyalah diri sendiri. Sekali lagi, maafkanlah mereka yang marah. Tidak ada yang salah saat seorang manusia bersikap dan bertindak sebagai manusia.
Anda sendiri, kurangilah marah Anda sebab Anda sendirilah yang akan merugi. Saat Anda marah, apa yang telah keluar sebenarnya tidak perlu keluar dan apa yang terlanjur sebenarnya tidak perlu terlanjur.
LET GO OF FEAR
Saat Anda menghadapi ketakutan, Anda berada di tengah-tengah persimpangan jalan. Satu cabang menuju kepada kepengecutan, dan satu lagi menuju kepada keberanian. Yang satu menuju harapan dan impian, yang satu lagi menuju kekecewaan dan kesedihan.
Anda tidak bisa mundur atau tetap diam, melainkan tetap maju dan memilih salah satu cabang. Dengan diam atau mundur, Anda tidak akan tumbuh dan berubah. Malah, Anda menuju ke kepunahan dan kematian.
Manage-lah fear Anda, sebab fear adalah False Evidence Appearing Real. Asli tapi sebenarnya palsu.
Jadi, tak usahlah Anda bersedih lagi. Bersenang-senang sajalah. Sibuklah. Lakukan yang terbaik. Tak perlu takut dan tak usah khawatir. Lakukanlah segalanya dengan semangat dan keberanian. Itu lebih baik buat Anda.
Bukannya tadi sudah Saya bilang, kalo Anda itu macan?
Saya Ingin Anda Sukses,
Saya Harus Membuat Anda Sukses.
LET GO OF DEMAND
Apa sih, yang sebenarnya membuat Anda marah dan kecewa? Apakah seseorang yang memotong antrian di depan Anda? Pengemudi iseng yang memprovokasi Anda di jalanan? Komputer yang hanya untuk di-boot saja terasa begitu lama? Handphone yang harus berganti setiap bulan dua kali karena terus dicuri? Orang yang mengejek dan mempermainkan Anda? Hujan sepanjang hari? Tagihan bejibun yang membuat Anda marah sampai ke ubun-ubun?
Bukan, bukan itu semua. Apa yang membuat Anda marah dan kecewa adalah "tuntutan yang kekanak-kanakan" dan "ekspektasi yang tidak realistis".
Saat Anda masih bayi, apa yang perlu Anda lakukan untuk mendapatkan sesuatu, hanyalah berteriak menangis sekencang-kencangnya. Dengan modal itu, Anda mendapatkan popok yang baru, susu ibu atau susu sapi, atau barang sepuluh lima belas kerokan pisang ambon untuk dinikmati.
Itulah ciri Anda saat masih helpless dulu. Waktu itu, perilaku demanding Anda masih bisa diterima. Tapi kini Anda telah dewasa. Anda bertanggung jawab pada hidup Anda, dan Anda tidak bisa lagi berharap bahwa dunia akan melayani Anda sebagaimana yang Anda mau. Jika Anda tetap melakukannya sekarang, itu namanya self-induced misery, alias penderitaan yang Anda buat sendiri. Berhentilah.
Apa yang perlu Anda lakukan sebenarnya cukup mudah. Anda hanya perlu mengganti demand dan ekspektasi, dengan preferensi.
"Aku sih nggak nuntut suamiku bangun lebih pagi, tapi aku lebih prefer kalo dia memang bisa melakukannya."
Anda akan lebih mengerti, dan Anda akan menjadi orang yang penuh pengertian.
Buanglah Pola Pikir yang Tidak Rasional
"Saya tidak akan pernah berbahagia kecuali dunia melayani Saya seperti yang Saya mau."
Itu tidak rasional. Apa yang bisa Anda kontrol hanyalah diri Anda sendiri.
Bersikaplah Mau Berbahagia
Disadari atau tidak, Anda mungkin tidak ingin berbahagia. Anda bisa melepaskan apapun dari diri Anda; uang, harta, waktu, energi, dan bahkan cinta, kecuali satu; penderitaan Anda.
Bahagia haruslah dimulai dari kemauan Anda sendiri. Anda mau bahagia atau tidak? Secara sadar Anda jelas mau berbahagia. Tapi cobalah selami kembali alam bawah sadar Anda. Bisa jadi, Anda sendiri yang tidak mau berbahagia.
Saat Anda merasa marah, itu penderitaan yang tidak membahagiakan. Lepaskanlah penderitaan Anda, bukan lampiaskan. Bertanyalah pada diri sendiri, "Bener nih, mau nuker happy sama kemarahan ini?" Perpanjanglah sumbu Anda supaya Anda bisa membuang penderitaan.
Berhentilah Mengasihani Diri Sendiri
Anda tidak akan menjadi pahlawan hanya dengan menderita. Adalah lebih heroik jika Anda tetap riang gembira di tengah penderitaan.
Berhentilah Membesar-besarkan
Tak perlu mem-blow-up permasalahan sampai keluar dari proporsinya. Itu akan melumpuhkan Anda. Belajarlah obyektif dan jadikanlah itu sebagai motivasi untuk mengambil tindakan.
LET GO OF REGRET
Anda pasti pernah menyesali sesuatu tentu saja. Wong kita ini manusia kok. Itu, sebenarnya versi lain dari kata-kata: "Kita tidak sempurna".
Tak perlu panik atau terobsesi oleh penyesalan. Jadikanlah ia kekuatan positif. Anggaplah itu sebagai wakeup call, sebuah tepukan yang membangunkan Anda dari tidur. Bukankah Anda macan?
Janganlah menunda tindakan dengan penyesalan. Bertindaklah segera dan Anda tidak akan menyesal lagi, sebab Anda telah melakukan sesuatu.
Tutuplah rapat-rapat lebarnya jarak antara Anda yang ideal dan Anda yang sekarang. Nikmatilah Anda yang sekarang dan lakukan apa yang terbaik menurut Anda. Sebab jika Anda punya waktu untuk menyesal, maka Anda pasti punya waktu untuk melakukan sesuatu tentang itu.
LET GO OF GREED
"Saya telah punya semua yang saya mau, dan Saya telah menjadi apa yang Saya ingin, kecuali..."
Ya. Itulah Anda barangkali. Tidak SEMUA yang Anda mau akan Anda dapatkan.
Pertama, resources Anda terbatas. Kedua, nafsu Anda adalah sesuatu yang tidak akan pernah terpuaskan. Ia seperti air laut. Makin Anda minum, makin kering rasanya tenggorokan. Desire Anda tidak salah, melewati batasnyalah yang salah.
Sadarilah bahwa penyebab kerakusan adalah kesenangan. Bisa memiliki memang menyenangkan. Tapi kesenangan itu sendiri bisa menjadi candu. Kita sering lupa, bahwa kesenangan tidak selalu sama dengan kebahagiaan. Saat Anda menemukan bahwa kesenangan ternyata tidak sama dengan kebahagiaan, muncullah ketakutan dan kekhawatiran. Takut dan khawatir itu, akan memicu desire Anda lebih besar lagi.
Maka, Anda akan menemukan lingkaran yang abadi di sini: Karena desire Anda tidak pernah punya ujung, maka fear Anda juga tak akan pernah punya muara. Berhentilah menjadi manusia yang terpenjara!
Iya. Tapi bagaimana?
Fokus dan terapkanlah prioritas. Mulailah dahulu dengan BEING. Soal HAVING, ya belakangan sajalah. Dan untuk BEING, Anda harus DOING. Just DO your best.
LET GO OF WORRY
Anda tahu kenapa lagu "Don't Worry - Be Happy" begitu ngetop? Karena itulah panggilan jiwa Anda.
Pahamilah perbedaan antara "menderita" dan "khawatir". Menderita adalah pesan tentang masalah, sementara khawatir adalah pesan tentang adanya peluang untuk tumbuh dan berkembang. Jadi waspadalah. Apakah Anda memang menderita, atau sebenarnya Anda hanya khawatir saja?
Jika Anda hanya khawatir, ketahuilah bahwa sumbernya adalah ketakutan. Anda takut terhadap sesuatu yang masih gelap, blank, dan tidak tahu apa-apa tentangnya. Atau, Anda takut menghadapi tantangan.
Ketahuilah bahwa setiap detik dan setiap saat, Anda adalah benih. Benih yang mestinya bisa tumbuh menjadi besar dan hebat. Worry can't change the past, but it can ruin the present. Berpengetahuanlah, dan bertindaklah menyambut tantangan. Seperti seekor macan.
LET GO OF DEFENSIVENESS
Salah itu normal, termasuk jika itu melukai orang lain. Bukan nyuruh nih, tapi kita semua memang pernah berbuat salah. Anda tahu kan kenapa pensil, whiteboard, dan papan tulis itu ada penghapusnya? Karena Anda adalah manusia.
Jika Anda salah apa yang Anda katakan?
"Aduhhh.. maaf nih. Maaf, namanya juga manusia."
Lantas, apa yang Anda katakan jika orang lain yang salah?
"Dasar Bodoh!"
"Stupid!"
"Bloon."
Saat Anda salah, Anda adalah manusia. Saat orang lain salah, mereka bukan manusia. Ini tidak rasional. Maka, maafkankanlah mereka.
LET GO OF GUILT
Guilt adalah rasa tidak nyaman saat Anda mengalami perlawanan menentang kesadaran Anda sendiri. Guilt itu sendiri tidak terlalu berbahaya. Apa yang lebih berbahaya adalah ketiadaan solusinya.
Feeling guilty itu bagus. Itu sinyal lampu merah yang memperingatkan Anda agar stay on course. Maka saat Anda feeling guilty, dengarkanlah isi hati Anda. Manakah yang Anda pilih, short-term pleasure atau long-term gain?
Rasa bersalah yang tidak menemukan solusi, akan membuat Anda mengalami ini:
1. Pikiran yang tidak damai.
2. Rasa tidak percaya dan takut pada orang lain, atau bahkan kepada Allah SWT.
3. Sesuai angka ini, Anda akan menderita tiga kali:
Pertama, saat Anda bertindak tidak bertanggung jawab. Kedua, saat Anda melihat orang lain bertindak dengan penuh tanggung jawab. Ketiga, saat Anda harus menanggung konsekuensinya.
Berikut inilah yang perlu Anda lakukan saat Anda merasa tidak bertanggung jawab.
Ingatlah bahwa responsibility, adalah singkatan dari "response-ability". Kemampuan untuk merespon dengan tepat. Bagaimana caranya agar bisa merespon dengan tepat? Anda bisa menggunakan rumus AAA.
1. Admit. Akui bahwa pilihan tindakan Anda adalah salah.
2. Analyze. Analisis perilaku Anda. Apa alasan Anda memilih yang salah? Apa konsekuensinya? Bagaimana tidak mengulanginya? Bagaimana meluruskan pilihan yang sekarang?
3. Atonement, alias integritas. Integritas adalah menyatunya hati, jiwa, sasaran, tindakan, dan keimanan. Saat semuanya menyatu, Anda memasuki tahap atonement, alias at-one-ment.
Dengan AAA, Anda bisa memperbaiki keadaan.
LET GO OF SPITE
Anda, pasti pernah diprovokasi. Oleh pengemudi lain di jalanan, atau oleh orang lain yang mengejek dan melecehkan. Anda pasti pernah merasa diserang. Di kantor, di rumah, di lapangan sepak bola, di kantin, di mana saja.
Tidak ada perlunya Anda melayani yang begituan. Sebab, dunia Anda bisa rusak seharian. Mengalah sajalah, kecuali jika undang-undang dasar Anda yang terlanggar atau terinjak-injak.
Kita cenderung lupa bahwa kita lebih sering menggunakan hati untuk merasakan, ketimbang otak untuk berpikir. Ini sepertinya benar dan wajar. Tapi berhati-hatilah karena itu tidak logis dan tak rasional. Itu emosional.
Jika Anda merasa perlu melayani serangan, provokasi, dan ejekan orang lain, maka itu tentu ada sebabnya.
Pertama, rasa keadilan Anda yang terusik. Saat Anda merasa diserang, Anda merasa perlu membalasnya. Tapi, jika serangan itu dilakukan karena tidak sengaja, tidak dimaksudkan untuk menyerang, kesalahpahaman, atau hanya karena mereka bodoh saja, keadilan macam apa sih yang Anda inginkan?
Kedua, logika Anda yang terdistorsi. Anda berasumsi bahwa jika mereka mengalami sakit seperti yang Anda rasakan, maka mereka akan meminta maaf.
Tidak. Jikapun mereka akhirnya meminta maaf, itu bukan karena sakit yang Anda buat dengan serangan balasan, tapi karena pikiran dan hati mereka yang sudah lurus kembali. Saling menyakiti tidak akan menyelesaikan masalah. Ia bahkan memperuncingnya.
Ketiga, secara sadar atau tidak Anda mencoba menghindari tanggung jawab untuk membahagiakan diri sendiri. Sebab jika Anda memang mau bertanggungjawab untuk kebahagiaan Anda sendiri, Anda pasti tidak akan melarikan diri.
Jika begitu, bagaimana caranya memunculkan rasa tanggung jawab untuk kebahagiaan diri sendiri? Awareness-lah jawabannya.
Ketahuilah bahwa rasa sakit yang Anda derita adalah bukan karena serangan mereka, tapi karena reaksi Anda atas perilaku mereka. Mengapa mereka begitu jahat dan kejam kepada Anda? Karena mereka sedang sakit, dan mereka merasa terancam oleh Anda.
Responlah sikap buruk orang lain dengan kebaikan, maka Anda akan mulia dan terhormat. Cobalah selalu untuk bersikap rendah hati tapi bukan rendah diri.
Ketahuilah bahwa sabar itu tidak pasif. Ia tidak datang dengan sendirinya, dan ujug-ujug Anda menjadi sabar. Sabar itu kata kerja dan bukan kata sifat. Maka sabar, adalah disabar-sabarin.
LET GO OF ENVY
Anda juga mungkin pernah merasa kalah. Waspadalah. Salah-salah, kekalahan bisa membuat Anda menjadi orang yang envious, yaitu orang yang penuh dengki dan tidak bisa menerima kekalahan. Tidak senang jika orang lain senang, dan senang jika orang lain tidak senang.
Sikap envious, bisa berkembang dalam tiga tahap.
Pertama, saat Anda merasakan kekalahan. Di tingkat ini, perasaan kalah itu sebenarnya wajar. Apalagi jika Anda bisa memberi selamat kepada pemenang, dan kemudian menjadikan kekalahan sebagai pelajaran. Jika tidak bisa, maka di sinilah bibit envious Anda akan mulai tersemai.
Kedua, saat Anda mulai mengembangkan perilaku mensabotase orang lain. Mulainya dari yang kecil-kecil saja, seperti menciptakan isu dan gosip buruk, atau berharap dan "berdoa" untuk kemalangan dan kecelakaan bagi orang lain. Anda mungkin mengira ini tidak berbahaya.
Salah. Itu sangat berbahaya. Mengapa? Karena harapan buruk seperti itu adalah karatnya jiwa, persis seperti karatnya besi. Merusak, melubangi, merontokkan, dan menggerogoti semua amal baik. Lebih dari itu, dari mana sih datangnya semua tindak kejahatan? Ya dari doa, harapan, fitnah, dan pikiran negatif yang melenceng seperti itu!
Ketiga, seperti sudah disebut barusan, semuanya akan termanifestasi menjadi tindak kejahatan. Anda akan menjadi orang yang dengki, dengan sikap dan tindakan yang keji. Anda telah menghancurkan diri sendiri.
Jika Anda mulai mengalami gejala penyakit ini, resepnya sederhana. Bertemanlah dengan mereka yang menang. Kemudian, ubahlah cara berpikir Anda. Gantilah "Saya pengen kayak gitu," menjadi "Bagaimana supaya Saya bisa seperti itu."
LET GO OF ANGER
ANGER itu cuma satu huruf lebih pendek dari DANGER. Dan "D", adalah nilai minusnya.
Alasan yang bagus bagi Anda supaya tidak marah, adalah memahami bahwa kemarahan akan menyebarluaskan kelemahan. Saat Anda marah, Anda sebenarnya berkata, "Saya takut! Saya Terluka! Saya frustrasi!" Itu, adalah kata lain dari "Saya lemah."
Sadarilah bahwa orang, barang, atau situasi, akan cenderung membuat Anda selalu marah. Udah dari sononya begitu. Anda tidak bisa dengan mudah mengontrol sesuatu di luar diri Anda. Dan jika Anda marah, kemarahan Anda tidak akan membuat dunia berjalan sesuai kemauan Anda. Andalah yang harus menyesuaikan diri dengannya.
Sadarilah bahwa jika Anda menghadapi orang yang marah, they're not being mean; they're just being people. Like you. Dan seperti biasa, marah itu muncul disebabkan oleh fear. Rasa takut akan kehilangan kontrol.
Keinginan untuk mengontrol adalah benar. Tapi, ingin mengontrol orang lain itu salah. Yang benar, ingin memberi contoh teladan kepada orang lain. Mengontrol dengan kekuasaan? Salah juga. Apa yang perlu dikontrol hanyalah diri sendiri. Sekali lagi, maafkanlah mereka yang marah. Tidak ada yang salah saat seorang manusia bersikap dan bertindak sebagai manusia.
Anda sendiri, kurangilah marah Anda sebab Anda sendirilah yang akan merugi. Saat Anda marah, apa yang telah keluar sebenarnya tidak perlu keluar dan apa yang terlanjur sebenarnya tidak perlu terlanjur.
LET GO OF FEAR
Saat Anda menghadapi ketakutan, Anda berada di tengah-tengah persimpangan jalan. Satu cabang menuju kepada kepengecutan, dan satu lagi menuju kepada keberanian. Yang satu menuju harapan dan impian, yang satu lagi menuju kekecewaan dan kesedihan.
Anda tidak bisa mundur atau tetap diam, melainkan tetap maju dan memilih salah satu cabang. Dengan diam atau mundur, Anda tidak akan tumbuh dan berubah. Malah, Anda menuju ke kepunahan dan kematian.
Manage-lah fear Anda, sebab fear adalah False Evidence Appearing Real. Asli tapi sebenarnya palsu.
Jadi, tak usahlah Anda bersedih lagi. Bersenang-senang sajalah. Sibuklah. Lakukan yang terbaik. Tak perlu takut dan tak usah khawatir. Lakukanlah segalanya dengan semangat dan keberanian. Itu lebih baik buat Anda.
Bukannya tadi sudah Saya bilang, kalo Anda itu macan?
Saya Ingin Anda Sukses,
Saya Harus Membuat Anda Sukses.
Menimbang Diri
Kehidupan di dunia tidak akan bisa lepas dari pengawasan dua malaikat pencatat (kiraman katibin) yang tak pernah lalai mengawasi gerak-gerik dan ucapan kita. Mereka akan selalu menulis dan menghitung sekecil apapun perbuatan yang kita lakukan. Allah SWT berfirman, ''Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.'' (QS Al-Infithar [82]: 10-12)
Sekiranya kita mengetahui sedikit banyak apa yang telah kita lakukan dengan menghitung perbuatan selama berada di dunia, lebih banyak kebaikankah atau keburukan? Imam Ibnul Qayyim berbicara tentang cara muhasabah pada diri pribadi.
Pertama, hendaklah menghitung diri dalam masalah kewajiban, jika ingat masih ada kekurangan, maka hendaknya segera disusul dengan mengqadla atau memperbaikinya. Kemudian setelah itu menghitung diri dalam masalah larangan, jika mengetahui ada larangan yang telah dikerjakan atau diterjang, maka hendaknya segera menyusulnya dengan bertobat dan beristighfar serta banyak melakukan kebajikan-kebajikan. Muhasabah diri dalam hal kelalaian, dilakukan dengan menimbang, jika selama ini telah sering lalai akan tujuan dari penciptaan manusia di dunia, maka harus segera mengingatnya. Selain itu juga selalu ''menghadapkan'' diri kepada Allah.
Langkah selanjutnya adalah menghitung diri dalam hal ucapan, langkah kedua kaki, aktivitas kedua tangan, pendengaran telinga, penglihatan; apa yang dikehendaki dengan semua itu, untuk siapa serta apa tujuan melakukannya. Seluruh ucapan dan perbuatan hendaknya mempunyai dua sisi pertimbangan yang selalu diingat. Pertimbangan untuk siapa berbuat dan bagaimana berbuat. Juga selalu tanyakan pada diri tentang kadar keikhlasan dan mutaaba'ah, yaitu mengikuti tata cara Nabi.
Semoga dengan selalu menimbang diri kita bisa lebih mempersiapkan diri ketika menghadap-Nya. Ibnul Jauzi berkata, ''Sepantasnya orang yang tidak tahu kapan ia akan mati untuk selalu mempersiapkan diri, janganlah ia tertipu dengan usia muda dan kesehatannya.'' Wallahu a'lam bish-shawab.
dikutip dari hikmah harian republika
Sekiranya kita mengetahui sedikit banyak apa yang telah kita lakukan dengan menghitung perbuatan selama berada di dunia, lebih banyak kebaikankah atau keburukan? Imam Ibnul Qayyim berbicara tentang cara muhasabah pada diri pribadi.
Pertama, hendaklah menghitung diri dalam masalah kewajiban, jika ingat masih ada kekurangan, maka hendaknya segera disusul dengan mengqadla atau memperbaikinya. Kemudian setelah itu menghitung diri dalam masalah larangan, jika mengetahui ada larangan yang telah dikerjakan atau diterjang, maka hendaknya segera menyusulnya dengan bertobat dan beristighfar serta banyak melakukan kebajikan-kebajikan. Muhasabah diri dalam hal kelalaian, dilakukan dengan menimbang, jika selama ini telah sering lalai akan tujuan dari penciptaan manusia di dunia, maka harus segera mengingatnya. Selain itu juga selalu ''menghadapkan'' diri kepada Allah.
Langkah selanjutnya adalah menghitung diri dalam hal ucapan, langkah kedua kaki, aktivitas kedua tangan, pendengaran telinga, penglihatan; apa yang dikehendaki dengan semua itu, untuk siapa serta apa tujuan melakukannya. Seluruh ucapan dan perbuatan hendaknya mempunyai dua sisi pertimbangan yang selalu diingat. Pertimbangan untuk siapa berbuat dan bagaimana berbuat. Juga selalu tanyakan pada diri tentang kadar keikhlasan dan mutaaba'ah, yaitu mengikuti tata cara Nabi.
Semoga dengan selalu menimbang diri kita bisa lebih mempersiapkan diri ketika menghadap-Nya. Ibnul Jauzi berkata, ''Sepantasnya orang yang tidak tahu kapan ia akan mati untuk selalu mempersiapkan diri, janganlah ia tertipu dengan usia muda dan kesehatannya.'' Wallahu a'lam bish-shawab.
dikutip dari hikmah harian republika
4 Pedoman Menjaga Kualitas Kerja
Ada empat hal yang bisa menjadi pedoman bagi para pekerja untuk tetap sehat dan produktif, menurut Indayati Oetomo, pakar pengembangan kepribadian John Robert Powers. Empat hal tersebut yakni hasrat bekerja, kualitas waktu, menjalin jejaring, dan keinginan bersaing. “Keempatnya adalah bagian tak terpisahkan untuk memacu produktivitas,” tegas Indayati.
Bekerja sangat membutuhkan hasrat karena hal tersebut berarti bekerja dengan cinta. Tanpa itu, pekerjaan justru membuat mental sakit akibat perasaan tertekan dan terbebani. Motivasi dan tujuan yang jelas diperlukan untuk memacu hasrat bekerja, termasuk lingkungan kerja yang mendukung.
Selain bekerja, juga dibutuhkan waktu untuk memanjakan diri dan menyuntikkan kembali semangat baru. Dibutuhkan kualitas waktu dengan cara memanajemen waktu seefektif mungkin agar kehidupan di luar pekerjaan tak terampas.
“Jangan hanya berkutat dengan pekerjaan dan lingkungan kantor. Di luar kesibukan bekerja, milikilah kegiatan yang memungkinkan Anda bersosialisasi dan mendapat teman diskusi untuk menambah wawasan dan menguji ide-ide Anda,” sarannya.
Bagaimanapun, bekerja butuh semangat persaingan. Jangan terlena dengan zona nyaman yang Anda jalani sekarang, dan tetapkan target-target baru dalam karier Anda yang mampu memicu ide-ide kreatif baru muncul.
Bekerja sangat membutuhkan hasrat karena hal tersebut berarti bekerja dengan cinta. Tanpa itu, pekerjaan justru membuat mental sakit akibat perasaan tertekan dan terbebani. Motivasi dan tujuan yang jelas diperlukan untuk memacu hasrat bekerja, termasuk lingkungan kerja yang mendukung.
Selain bekerja, juga dibutuhkan waktu untuk memanjakan diri dan menyuntikkan kembali semangat baru. Dibutuhkan kualitas waktu dengan cara memanajemen waktu seefektif mungkin agar kehidupan di luar pekerjaan tak terampas.
“Jangan hanya berkutat dengan pekerjaan dan lingkungan kantor. Di luar kesibukan bekerja, milikilah kegiatan yang memungkinkan Anda bersosialisasi dan mendapat teman diskusi untuk menambah wawasan dan menguji ide-ide Anda,” sarannya.
Bagaimanapun, bekerja butuh semangat persaingan. Jangan terlena dengan zona nyaman yang Anda jalani sekarang, dan tetapkan target-target baru dalam karier Anda yang mampu memicu ide-ide kreatif baru muncul.
Wednesday, June 13, 2007
Mengembangkan Seni Inovasi
Mengembangkan Seni Inovasi
"Dari semua kualitas yang dimiliki wirausahawan, satu yang bisa selalu Anda lihat—dengan bermacam derajat—adalah kemampuan menjadi inovatif."
(Robert Warlow, Small Business Success)
Wirausahawan atau entrepreneur disebut selalu tampil menghadapi problem dan secara aktif mencari solusi untuk menanggulanginya. Ada kalanya ia memulai satu bisnis dengan menambahkan satu polesan ringan pada satu layanan atau produk untuk membuatnya lebih baik dari sebelumnya.
Robert Warlow dalam situsnya (www.smallbusinesssuccess.biz), antara lain, menyebutkan sejumlah langkah agar orang—tidak harus entrepreneur—bisa bersikap inovatif. Langkah itu adalah orang harus punya sikap ingin tahu. Lainnya adalah "terbuka terhadap ide baru", yang bisa membawa orang pada situasi yang memungkinkannya mendapat stimulasi. Sikap lain yang diusulkan adalah "tidak konvensional", siap menantang hal-hal yang (seolah) tak bisa ditantang. Ringkasnya, menjauhlah dari kerumunan dan jadilah orang aneh.
Sikap keempat yang tak kalah penting adalah "Siaplah selalu" karena ide inovatif bisa datang kapan saja, siang atau malam, dan di mana saja. Tentu saja, masih banyak resep yang ditawarkan untuk menjadi inovatif, seperti "tekun", dan "mau berbagi".
Lalu, seperti apa proses inovasi terjadi? Salah satu contohnya adalah penemuan stiker penanda (misalnya bagian/halaman mana saja pada satu dokumen yang harus ditandatangani, atau catatan "mohon perhatian" tanpa harus mengganggu dokumennya) yang kini dikenal sebagai "Post-It Note". Ide untuk munculnya stiker ini berawal pada tahun 1968, ketika Dr Spence Silver bekerja untuk perusahaan 3M dan mencari adhesif/stiker jenis baru. Yang tersirat di benaknya waktu itu adalah barang yang cukup nempel, tetapi tidak sampai membuatnya melekat kuat ke barang yang ditempeli. Barang itu tidak biasa dan ia juga tidak tahu akan digunakan sebagai apa.
Barulah tahun 1973, setelah ia bercerita tentang ide itu kepada orang lain, ada kemajuan berarti. Rekannya di perusahaan yang sama, Geoff Nicholson mempromosikan penggunaan stiker baru itu untuk dipasang di papan pengumuman. Toh, orang belum banyak yang memerhatikan.
Baru setelah karyawan 3M lain—Art Fry—melihatnya, muncul cahaya terang. Sebagaimana orang lain, ia juga melihat produk itu, tetapi tidak sebagaimana orang lain, ia lalu berjuang untuk membuat lompatan terakhir. Adhesif yang tidak lengket itu pun menemukan jalan penggunaannya. Stiker yang bisa digunakan menandai buku tanpa harus merusak dan menutupi halaman buku secara permanen.
Riwayat Post-It Note cocok dengan prinsip inovasi: rasa ingin tahu, ketekunan, berbagi penemuan, siap menerima keanehan (dalam hal ini: lem yang tidak nempel). Semua ada pada perkembangan produk sederhana, tapi banyak manfaatnya ini.
Inovasi "par excellence"
Sebagian orang menganggap dari segi ketinggian nilainya, inovatif masih kalah dibandingkan dengan kreatif. Dulu sempat muncul analisis tentang mengapa pemenang hadiah Nobel asal Jepang jauh lebih sedikit dibandingkan dengan pemenang asal Amerika. Penjelasannya adalah ilmuwan Amerika lebih kreatif dibandingkan ilmuwan Jepang.
Sebaliknya, bangsa Jepang lebih dikenal sebagai inovator terkemuka. Salah satunya terbukti pada penciptaan pemutar CD (compact disc). Ketika berkunjung ke pabrik Philips di Eindhoven, Belanda, penulis mendengar cerita bahwa mereka menemukan teknik penggunaan laser untuk pemutar CD, tetapi Sony-lah yang pada awal dekade 1980-an itu sukses membuat pemutar CD.
Bila kreatif dikaitkan dengan munculnya sesuatu dari yang semula tidak ada, inovatif dikaitkan dengan aktivitas memasukkan hal baru pada hal yang sudah ada.
Dewasa ini, banyak kalangan yang terpesona oleh inovasi yang diperlihatkan oleh perusahaan Amerika, Apple. Pertama, kekaguman berasal dari fakta bahwa perusahaan ini sesungguhnya mau roboh satu dasawarsa silam, namun kini tidak saja bangkit lagi, tetapi bahkan menjadi perusahaan ikonik. Kalau melihat salah satu produk perusahaan ini yang amat masyhur, yakni iPod, tampak bahwa nama perusahaan tertulis kecil saja, tetapi lambang buah Apple yang tidak utuh, seperti habis digigit, itu sudah amat tersohor.
Reputasi Apple, seperti diulas dalam The Economist (9/6), mungkin saja muncul dari bagaimana salah seorang pendirinya, Steve Jobs, kembali ke perusahaan ini tahun 1997 (setelah berada di luar selama bertahun-tahun) dan membuat langkah hebat untuk menyelamatkan perusahaan. Namun, yang mengundang decak kagum adalah reputasi yang terkait dengan kemampuannya menelurkan produk baru. Dalam jajak pendapat untuk perusahaan paling inovatif di dunia, Apple selalu keluar sebagai urutan teratas. Dimulai dari komputer pertamanya tahun 1977 sampai Macintosh yang dilengkapi mouse tahun 1984, hingga iPod tahun 2001, dan kini iPhone, yang mulai dijual di Amerika bulan ini.
Menurut The Economist, dari Apple ada empat pelajaran penting yang dapat disimak.
Yang pertama, inovasi bisa datang dari dalam maupun dari luar. Pada satu sisi, Apple masih sering dianggap mengikuti tradisi inovasi yang juga dikembangkan oleh Thomas Alva Edison dan Bell Laboratories, di mana para insinyurnya dikonsinyasi untuk menelurkan ide baru dan mendasarkan produk pada hadirnya ilham. Padahal, kenyataannya, keterampilan sejatinya ada pada kemampuan menggabungkan ide sendiri dengan teknologi dari luar, lalu membungkusnya dalam perangkat lunak yang elegan dan desain produk yang cantik (stylish).
Ide iPod, misalnya, aslinya muncul dari konsultan yang disewa untuk menangani proyek alat main musik ini, dan yang akhirnya muncul dengan menggabungkan bahan dari luar dan racikan dari dalam adalah produk yang khas dengan sistem kendali yang amat mudah itu.
Rumus kedua inovasi Apple adalah bahwa pembuatan produk tidak didasarkan pada tuntutan teknologi, tetapi pada kebutuhan pengguna. Lihat iPod. Ia bukan alat main musik digital pertama, tetapi iPod-lah yang menjadikan pemindahan dan pengelolaan musik, juga membelinya secara online, cukup mudah untuk dilakukan oleh hampir semua orang yang menggunakannya. Demikian pula iPhone, ia bukan handphone pertama yang memasukkan pemutar musik, web browser, atau e-mail.
Pelajaran ketiga adalah, perusahaan kadang perlu mengacuhkan apa yang oleh pasar dikatakan dibutuhkan sekarang. Dikisahkan bahwa iPod dulu diolok-olok saat diluncurkan tahun 2001. Akan tetapi, Steve Jobs tetap pada keyakinannya dan terbukti kini amat sukses.
Yang keempat, Apple mengajarkan arif dalam menyikapi kegagalan. Apple pernah mengalami kegagalan, seperti pada produk Lisa (yang lalu jadi Macintosh). Pesan Apple, jangan menstigmasi kegagalan, tetapi bertoleransilah, dan memetik pelajaran darinya.
The Economist akhirnya menyimpulkan, memang semua kearifan di atas—membeli ide pintar, berorientasi pada kemudahan, pada kebutuhan pengguna, dan belajar dari kegagalan—bukan jaminan sukses bila diterapkan. Siapa bisa menjamin sukses iPhone? Namun, setidaknya untuk saat ini, sulit membayangkan sebuah perusahaan besar yang demikian sukses mempraktikkan seni inovasi lebih baik dari Apple.
Itulah wacana tentang inovasi yang diwujudkan secara mengesankan oleh perusahaan yang produknya saat ini demikian lekat pada jutaan orang di seluruh dunia, tua dan muda.
"Dari semua kualitas yang dimiliki wirausahawan, satu yang bisa selalu Anda lihat—dengan bermacam derajat—adalah kemampuan menjadi inovatif."
(Robert Warlow, Small Business Success)
Wirausahawan atau entrepreneur disebut selalu tampil menghadapi problem dan secara aktif mencari solusi untuk menanggulanginya. Ada kalanya ia memulai satu bisnis dengan menambahkan satu polesan ringan pada satu layanan atau produk untuk membuatnya lebih baik dari sebelumnya.
Robert Warlow dalam situsnya (www.smallbusinesssuccess.biz), antara lain, menyebutkan sejumlah langkah agar orang—tidak harus entrepreneur—bisa bersikap inovatif. Langkah itu adalah orang harus punya sikap ingin tahu. Lainnya adalah "terbuka terhadap ide baru", yang bisa membawa orang pada situasi yang memungkinkannya mendapat stimulasi. Sikap lain yang diusulkan adalah "tidak konvensional", siap menantang hal-hal yang (seolah) tak bisa ditantang. Ringkasnya, menjauhlah dari kerumunan dan jadilah orang aneh.
Sikap keempat yang tak kalah penting adalah "Siaplah selalu" karena ide inovatif bisa datang kapan saja, siang atau malam, dan di mana saja. Tentu saja, masih banyak resep yang ditawarkan untuk menjadi inovatif, seperti "tekun", dan "mau berbagi".
Lalu, seperti apa proses inovasi terjadi? Salah satu contohnya adalah penemuan stiker penanda (misalnya bagian/halaman mana saja pada satu dokumen yang harus ditandatangani, atau catatan "mohon perhatian" tanpa harus mengganggu dokumennya) yang kini dikenal sebagai "Post-It Note". Ide untuk munculnya stiker ini berawal pada tahun 1968, ketika Dr Spence Silver bekerja untuk perusahaan 3M dan mencari adhesif/stiker jenis baru. Yang tersirat di benaknya waktu itu adalah barang yang cukup nempel, tetapi tidak sampai membuatnya melekat kuat ke barang yang ditempeli. Barang itu tidak biasa dan ia juga tidak tahu akan digunakan sebagai apa.
Barulah tahun 1973, setelah ia bercerita tentang ide itu kepada orang lain, ada kemajuan berarti. Rekannya di perusahaan yang sama, Geoff Nicholson mempromosikan penggunaan stiker baru itu untuk dipasang di papan pengumuman. Toh, orang belum banyak yang memerhatikan.
Baru setelah karyawan 3M lain—Art Fry—melihatnya, muncul cahaya terang. Sebagaimana orang lain, ia juga melihat produk itu, tetapi tidak sebagaimana orang lain, ia lalu berjuang untuk membuat lompatan terakhir. Adhesif yang tidak lengket itu pun menemukan jalan penggunaannya. Stiker yang bisa digunakan menandai buku tanpa harus merusak dan menutupi halaman buku secara permanen.
Riwayat Post-It Note cocok dengan prinsip inovasi: rasa ingin tahu, ketekunan, berbagi penemuan, siap menerima keanehan (dalam hal ini: lem yang tidak nempel). Semua ada pada perkembangan produk sederhana, tapi banyak manfaatnya ini.
Inovasi "par excellence"
Sebagian orang menganggap dari segi ketinggian nilainya, inovatif masih kalah dibandingkan dengan kreatif. Dulu sempat muncul analisis tentang mengapa pemenang hadiah Nobel asal Jepang jauh lebih sedikit dibandingkan dengan pemenang asal Amerika. Penjelasannya adalah ilmuwan Amerika lebih kreatif dibandingkan ilmuwan Jepang.
Sebaliknya, bangsa Jepang lebih dikenal sebagai inovator terkemuka. Salah satunya terbukti pada penciptaan pemutar CD (compact disc). Ketika berkunjung ke pabrik Philips di Eindhoven, Belanda, penulis mendengar cerita bahwa mereka menemukan teknik penggunaan laser untuk pemutar CD, tetapi Sony-lah yang pada awal dekade 1980-an itu sukses membuat pemutar CD.
Bila kreatif dikaitkan dengan munculnya sesuatu dari yang semula tidak ada, inovatif dikaitkan dengan aktivitas memasukkan hal baru pada hal yang sudah ada.
Dewasa ini, banyak kalangan yang terpesona oleh inovasi yang diperlihatkan oleh perusahaan Amerika, Apple. Pertama, kekaguman berasal dari fakta bahwa perusahaan ini sesungguhnya mau roboh satu dasawarsa silam, namun kini tidak saja bangkit lagi, tetapi bahkan menjadi perusahaan ikonik. Kalau melihat salah satu produk perusahaan ini yang amat masyhur, yakni iPod, tampak bahwa nama perusahaan tertulis kecil saja, tetapi lambang buah Apple yang tidak utuh, seperti habis digigit, itu sudah amat tersohor.
Reputasi Apple, seperti diulas dalam The Economist (9/6), mungkin saja muncul dari bagaimana salah seorang pendirinya, Steve Jobs, kembali ke perusahaan ini tahun 1997 (setelah berada di luar selama bertahun-tahun) dan membuat langkah hebat untuk menyelamatkan perusahaan. Namun, yang mengundang decak kagum adalah reputasi yang terkait dengan kemampuannya menelurkan produk baru. Dalam jajak pendapat untuk perusahaan paling inovatif di dunia, Apple selalu keluar sebagai urutan teratas. Dimulai dari komputer pertamanya tahun 1977 sampai Macintosh yang dilengkapi mouse tahun 1984, hingga iPod tahun 2001, dan kini iPhone, yang mulai dijual di Amerika bulan ini.
Menurut The Economist, dari Apple ada empat pelajaran penting yang dapat disimak.
Yang pertama, inovasi bisa datang dari dalam maupun dari luar. Pada satu sisi, Apple masih sering dianggap mengikuti tradisi inovasi yang juga dikembangkan oleh Thomas Alva Edison dan Bell Laboratories, di mana para insinyurnya dikonsinyasi untuk menelurkan ide baru dan mendasarkan produk pada hadirnya ilham. Padahal, kenyataannya, keterampilan sejatinya ada pada kemampuan menggabungkan ide sendiri dengan teknologi dari luar, lalu membungkusnya dalam perangkat lunak yang elegan dan desain produk yang cantik (stylish).
Ide iPod, misalnya, aslinya muncul dari konsultan yang disewa untuk menangani proyek alat main musik ini, dan yang akhirnya muncul dengan menggabungkan bahan dari luar dan racikan dari dalam adalah produk yang khas dengan sistem kendali yang amat mudah itu.
Rumus kedua inovasi Apple adalah bahwa pembuatan produk tidak didasarkan pada tuntutan teknologi, tetapi pada kebutuhan pengguna. Lihat iPod. Ia bukan alat main musik digital pertama, tetapi iPod-lah yang menjadikan pemindahan dan pengelolaan musik, juga membelinya secara online, cukup mudah untuk dilakukan oleh hampir semua orang yang menggunakannya. Demikian pula iPhone, ia bukan handphone pertama yang memasukkan pemutar musik, web browser, atau e-mail.
Pelajaran ketiga adalah, perusahaan kadang perlu mengacuhkan apa yang oleh pasar dikatakan dibutuhkan sekarang. Dikisahkan bahwa iPod dulu diolok-olok saat diluncurkan tahun 2001. Akan tetapi, Steve Jobs tetap pada keyakinannya dan terbukti kini amat sukses.
Yang keempat, Apple mengajarkan arif dalam menyikapi kegagalan. Apple pernah mengalami kegagalan, seperti pada produk Lisa (yang lalu jadi Macintosh). Pesan Apple, jangan menstigmasi kegagalan, tetapi bertoleransilah, dan memetik pelajaran darinya.
The Economist akhirnya menyimpulkan, memang semua kearifan di atas—membeli ide pintar, berorientasi pada kemudahan, pada kebutuhan pengguna, dan belajar dari kegagalan—bukan jaminan sukses bila diterapkan. Siapa bisa menjamin sukses iPhone? Namun, setidaknya untuk saat ini, sulit membayangkan sebuah perusahaan besar yang demikian sukses mempraktikkan seni inovasi lebih baik dari Apple.
Itulah wacana tentang inovasi yang diwujudkan secara mengesankan oleh perusahaan yang produknya saat ini demikian lekat pada jutaan orang di seluruh dunia, tua dan muda.
Thursday, June 07, 2007
Motivasi : Jadilah Pemberi....
What is the right statement? Take and give or Give and take?,
Perkataan di atas adalah dua kata yang memiliki arti yang sama, baik diletakkan di depan maupun di belakang, perbedaannya hanyalah mana yang harus dilakukan terlebih dahulu? memberi atau menerima? Pernahkah anda berpikir bahwa cara kita mengucapkan dan memandang suatu perkataan akan mempengaruhi bagaimana otak kita mengerakkan seluruh alat indra kita untuk bertindak dalam kehidupan kita? Sekarang saya yakin anda akan bertanya apa sih pengaruhnya terhadap kepribadian anda? Ada dua sikap yang diakibatkan penggunaan bahasanya di atas, mari kita lihat
Take and give person akan menjadi orang yang sangat reaktif terhadap kehidupan. Dia akan bertindak setelah dia menerima terlebih dahulu, hal ini yang seringkali menyebabkan kita selalu berpendapat kenapa saya harus melakukan itu. Tipikal seperti ini akan selalu berpikir dahulu sebelum bertindak apakah saya harus menolongnya atau pernahkah dia berbaik hati dengan saya. Take and give person sangat bergantung terhadap apa yang pernah terjadi dahulu dengan dia baru setelah itu dia akan melakukan aksi reaksi. Pernahkah anda membayangkan bagaimana bila seluruh teman, keluarga, lingkungan dan teman teman kita memiliki pola berpikir seperti ini? Bagaimana mungkin kita bisa mendapatkan support dari orang lain terhadap kehidupan kita, hal ini yang mungkin membuat roda kehidupan menjadi sangat monoton dan lambat serta tidak secepat apa yang seharusnya.
In the other side, give and take person biasanya adalah orang-orang yang proaktif terhadap kehidupan yang ada. Mereka siap untuk memberikan apa yang bisa mereka lakukan terhadap teman, keluarga dan partner yang ada di sekitarnya, dengan kebiasaan mereka inilah biasanya mereka terbiasa selanjutnya untuk selalu memberi dan lupa untuk meminta. Hal ini bukan kelemahan dari give and take person akan tetapi sebaliknya merupakan kelebihan, karena memberi tanpa mengharapkan menerima suatu imbalan merupakan keikhlasan yang akan meningkatkan kualitas pemberian yang telah anda berikan. Namun di lain sisi yakinlah bahwa semua tindak kebaikan yang telah anda lakukan kepada lingkungan akan kembali kepada anda dengan jalannya sendiri. Yakinlah bahwa tindakan-tindakan yang anda lakukan tadi bagaikan benih yang anda sebar di tanah, yang seiring dengan waktu akan tumbuh, berkembang dan menjadi besar. Dan pada saatnya nanti dia akan menjadi tanaman rimbun yang akan menjadi tempat berteduh anda di kemudian hari.
Itulah kekuatan dari cara anda memandang kalimat di atas. Jadi ubahlah cara anda untuk melihat dan memahami ungkapan di atas, jadilah orang-orang yang selalu memahami untuk memberi baru kemudian menerima.
Ingatlah, bila kita sudah mampu untuk selalu memberi kepada orang berarti kita sudah mampu untuk memenuhi kebutuhan pribadi kita sendiri. Hal ini pun sudah menjadi bagian dari ilmu yang dikembangkan oleh Stephen R Covey yang menyatakan : “Anda menang saya menang” dan beliau berkata “Dengan kita bisa memenangkan orang lain berarti kita sudah menang untuk diri kita sendiri, karena orang yang memberi adalah orang orang yang merasa bahwa dia telah dapat memenuhi kebutuhannya sendiri.”
“Live Can Be SO hard But U can Passed it with a smile”
Good !!!
Perkataan di atas adalah dua kata yang memiliki arti yang sama, baik diletakkan di depan maupun di belakang, perbedaannya hanyalah mana yang harus dilakukan terlebih dahulu? memberi atau menerima? Pernahkah anda berpikir bahwa cara kita mengucapkan dan memandang suatu perkataan akan mempengaruhi bagaimana otak kita mengerakkan seluruh alat indra kita untuk bertindak dalam kehidupan kita? Sekarang saya yakin anda akan bertanya apa sih pengaruhnya terhadap kepribadian anda? Ada dua sikap yang diakibatkan penggunaan bahasanya di atas, mari kita lihat
Take and give person akan menjadi orang yang sangat reaktif terhadap kehidupan. Dia akan bertindak setelah dia menerima terlebih dahulu, hal ini yang seringkali menyebabkan kita selalu berpendapat kenapa saya harus melakukan itu. Tipikal seperti ini akan selalu berpikir dahulu sebelum bertindak apakah saya harus menolongnya atau pernahkah dia berbaik hati dengan saya. Take and give person sangat bergantung terhadap apa yang pernah terjadi dahulu dengan dia baru setelah itu dia akan melakukan aksi reaksi. Pernahkah anda membayangkan bagaimana bila seluruh teman, keluarga, lingkungan dan teman teman kita memiliki pola berpikir seperti ini? Bagaimana mungkin kita bisa mendapatkan support dari orang lain terhadap kehidupan kita, hal ini yang mungkin membuat roda kehidupan menjadi sangat monoton dan lambat serta tidak secepat apa yang seharusnya.
In the other side, give and take person biasanya adalah orang-orang yang proaktif terhadap kehidupan yang ada. Mereka siap untuk memberikan apa yang bisa mereka lakukan terhadap teman, keluarga dan partner yang ada di sekitarnya, dengan kebiasaan mereka inilah biasanya mereka terbiasa selanjutnya untuk selalu memberi dan lupa untuk meminta. Hal ini bukan kelemahan dari give and take person akan tetapi sebaliknya merupakan kelebihan, karena memberi tanpa mengharapkan menerima suatu imbalan merupakan keikhlasan yang akan meningkatkan kualitas pemberian yang telah anda berikan. Namun di lain sisi yakinlah bahwa semua tindak kebaikan yang telah anda lakukan kepada lingkungan akan kembali kepada anda dengan jalannya sendiri. Yakinlah bahwa tindakan-tindakan yang anda lakukan tadi bagaikan benih yang anda sebar di tanah, yang seiring dengan waktu akan tumbuh, berkembang dan menjadi besar. Dan pada saatnya nanti dia akan menjadi tanaman rimbun yang akan menjadi tempat berteduh anda di kemudian hari.
Itulah kekuatan dari cara anda memandang kalimat di atas. Jadi ubahlah cara anda untuk melihat dan memahami ungkapan di atas, jadilah orang-orang yang selalu memahami untuk memberi baru kemudian menerima.
Ingatlah, bila kita sudah mampu untuk selalu memberi kepada orang berarti kita sudah mampu untuk memenuhi kebutuhan pribadi kita sendiri. Hal ini pun sudah menjadi bagian dari ilmu yang dikembangkan oleh Stephen R Covey yang menyatakan : “Anda menang saya menang” dan beliau berkata “Dengan kita bisa memenangkan orang lain berarti kita sudah menang untuk diri kita sendiri, karena orang yang memberi adalah orang orang yang merasa bahwa dia telah dapat memenuhi kebutuhannya sendiri.”
“Live Can Be SO hard But U can Passed it with a smile”
Good !!!
Subscribe to:
Posts (Atom)