Wednesday, March 07, 2007

BUKU : Re-Code, Your Change DNA



Rhenald Kasali meyakini, DNA bisa diubah, dapat di-re-code, didesain, agar melahirkan manusia-manusia dan organisasi yang unggul.
DUA puluh tahun lalu, Dubai hanyalah padang pasir yang tandus. Syeik Mohammad, seorang Muslim konservatif tapi berpendidikan Barat, mengubah daerah yang sama sekali tidak menarik itu menjadi Hongkong-nya Timur Tengah.
Apa yang mengubah itu semua? Sederhana saja: kekuatan pemikiran. Keterampilan memimpin. Sumber daya. Visi tentang masa depan.
Pikiranlah, dan bukan alat, yang mengubah Dubai, juga dunia. Syeikh melihat, ladang minyak kelak akan kering. Masa depan adalah perdagangan. Karena itu ia membangun fasilitas perdagangan, sejak dari pelabuhan udara, pusat bisnis, maskapai penerbangan, hingga fasilitas leisure kelas dunia.
Untuk mewujudkan obsesinya, Syeikh Mohammad melanggar tabu di dunia Arab konservatif: mengundang orang Barat yang pintar, yang kelas satu, untuk masuk dalam tim ekonominya.
Saat membangun Emirates Airlines, misalnya, ia menggaji mahal para ahli yang datang dari berbagai suku bangsa, warna kulit, dan agama. Emirates kini menjadi salah satu maskapai terbaik di dunia, sejajar dengan penerbangan kelas dunia ala Singapore Airlines.
Dubai sekarang adalah Dubai yang terbaik di dunia: bandara terbaik di dunia, maskapai terbaik di dunia, gedung tertinggi di dunia, tempat berlibur selebriti dan tokoh-tokoh kelas dunia, dan seterusnya.
Dengan pemikirannya, Syeikh Mohammad melahirkan sisi lain dunia Muslim, sisi lain negara kerajaan Islam tradisional. Sisi lain negara dunia ketiga.
Kata Rhenald Kasali: ". lawan kita tidak ada di luar sana, melainkan di dalam rumah sendiri. Lawan, salah satunya, adalah belenggu. Belenggu ada di pikiran, tradisi, organisasi, peraturan, ketakutan."
Syeikh Mohammad mampu keluar dari "penjara-penjara" itu, melahirkan pemikiran yang benar-benar baru, dan menghasilkan karya yang belum pernah ada.
Di Bangladesh, ada orang seperti Syeikh Mohammad (kini almarhum, yang kepergiannya dihormati tidak saja oleh pemimpin di Timur Tengah, tapi juga para pemimpin dunia). Di Bangladesh, tokoh itu bernama Muhammad Yunus.
Yunus seorang ahli ekonomi. Menurut ilmu yang dipelajarinya, orang miskin tidak bisa mendapatkan pinjaman bank karena prinsip kolateral. Si miskin mustahil bisa mengembalikan dana pinjaman bank. Karena itu, mereka tidak berhak mendapatkan kredit. Pandangan itu, tepatnya, "penjara" pemikiran itu, sudah menjadi semacam dogma di kalangan ahli ekonomi dan pengelola perbankan.
Para ahli ekonomi dunia, dalam rangka membantu si miskin, merumuskan formula subsidi. Si miskin pasif, hanya sebagai obyek penerima bantuan. Mereka orang bodoh.
Yunus meninggalkan "penjara" cara berpikir ilmu ekonomi, ilmu yang telah dipelajarinya bertahun-tahun dan telah memberinya gelar profesor. Ia turun gunung, ke luar dari kampus, terjun langsung ke masyarakat.
Dan, ia menemukan, rakyat miskin, petani miskin, pengemis, sesungguhnya memiliki kemampuan. Mereka pekerja keras. Pengemis, misalnya, bekerja keras dengan mengemis. Mereka hanya perlu sedikit bantuan modal.
Saat ide ini ditawarkan ke pemerintah, ke bank konvensional, tidak ada yang merespon dengan baik. Mereka mengira profesor ekonomi ini sedang gila.
Yunus kemudian mendirikan Bank Grameen (Grameen berarti pedesaan atau kampung). Sistemnya dibuat baru, tidak mengikuti bank konvensional. Sistem kolateralnya dibuat berkelompok. Mereka didorong untuk mengembangkan semangat wirausaha sehingga kelak mampu mengembalikan dana pinjaman.
Ternyata, sambutan rakyat miskin luar biasa. Dalam tempo singkat, nasabahnya meningkat menjadi tiga juta orang. Cabangnya tersebar di 46 ribu desa. Karyawannya 12 ribu orang. Recovery rate sebesar 99 persen. Kredit macetnya sangat kecil.
Sukses Grameen membuat ahli-ahli ekonomi dari seluruh dunia belajar ke Bangladesh tentang bagaimana cara mengelola rakyat miskin. Lebih 100 negara mengadopsi sistem yang dibuat profesor ekonomi yang keluar dari "penjara" pemikiran ekonomi tersebut (halaman 100).
Itulah yang mengantar Yunus meraih gelar Nobel di bidang ekonomi. Berikut rahasia di balik karya besar itu: "Saya meninggalkan cara berpikir seekor burung, yang memungkinkan kita melihat segala-galanya jauh dari atas, dari langit. Saya mulai melakukan pandangan seekor cacing, yang berusaha mengetahui apa saja yang terpapar persis di depan mata saya --mencium baunya, menyentuhnya, dan melihat apakah ada sesuatu yang bisa saya lakukan."
Di AS, tahun 1960-an, ada seorang tokoh yang memperjuangkan isu paling sensitif dan emosional, yaitu persamaan hak kulit hitam.
Martin Luther King memperjuangkan idealisme tidak dengan kekerasan, jalan yang sering ditempuh para pejuang. Ia memperjuangkan idealisme melalui jalan damai, mirip seorang guru, dengan pidato, dengan kuliah. Karena itu, ia tetap dikenang sebagai salah seorang pemimpin besar sampai saat ini.

***

RHENALD Kasali seorang ahli manajemen. Buku Re-Code sangat sedikit berbicara tentang manajemen, tapi tentang bagaimana agar manusia dan organisasi unggul mengatasi tantangan perubahan.
Di tulis seorang yang membangun karier sebagai jurnalis, buku ini enak dibaca, gaya bahasanya encer. Beda dari buku-buku yang serius lainnya, buku ini seperti majalah, kaya ilustrasi dan foto. Full color pula.
Diperkaya dengan penceritaan tentang pengamatan dari hasil kunjungan ke berbagai negara, dari Afrika, Timur Tengah, hingga Eropa, buku ini penuh warna cerita.
Buku pertamanya, Change!, menjadi salah satu best seller. Buku yang diterbitkan tahun 2004 ini telah terjual 65 ribu eksemplar. Gramedia Pustaka Utama, penerbit buku tersebut, mengklaim, inilah buku yang berpengaruh sepanjang tahun 2005-2006 dan menjadi motor penggerak munculnya pembaharuan.
Buku terbarunya, Re-Code, tentu diharapkan meraup sukses yang sama. Sejak 17 Februari lalu, Rhenald menggelar serangkaian seminar di berbagai kota besar di Indonesia. Di Makassar, seminar dengan tarif Rp 500 ribu ini akan dilaksanakan 14 April nanti di Hotel Santika.

***

BUKU ini mengupas DNA, istilah biologi, singkatan dari deoxiribo nuclead acid. Kira-kira artinya, molekul pembawa sifat. Dialah unsur dalam tubuh yang mempengaruhi sifat manusia, karena itu, mempengaruhi cara berpikir, cara kerja, dan akhirnya prestasi kerja.
Majalah National Geographic (Maret 2006) menulis: Setiap tetes darah manusia berisi buku sejarah yang ditulis dalam bahasa genetika kita (halaman 36).
DNA semacam memori dalam tubuh yang mengandung sifat-sifat khas. Dia ada sejak manusia lahir. Sifat manusia kemudian dipengaruhi oleh lingkungannya. Lingkungan keluarga maupun lingkungan sosial.
Secara aktif, manusia bisa mengubah DNA-nya. DNA bisa di-re-code, demikian Kasali. Salah satunya, ubah cara berpikir, re-code pikiran: dari problem based ke solution based, contohnya. Jangan hanya pintar mengungkapkan masalah. Yang terpenting adalah pintar mengatasi masalah.
Karena itu, re-code DNA harus fokus pada pada manusia yang menjalankan perubahan, bukan alatnya (first who then what). Pada manusia, fokus pada cara berpikirnya. Cara berpikir melahirkan emosi, perilaku, hasil kerja. Perbaiki kinerja, misalnya, dengan memperbaiki cara berpikir (halaman xvi).
Cara berpikir individu harus dibebaskan dari belenggu dan penjara tradisi, organisasi, peraturan, ketakutan. Cara ini diyakini Kasali mampu melahirkan manusia inovatif, manusia yang unggul di zaman yang terus berubah, semacam Syeikh, seperti Yunus, semisal Luther King.
Ada lima unsur dalam DNA yang positif, yang ada pada manusia yang unggul. Ke sanalah re-code diarahkan, diciptakan, di-create.
Kasali menyebutnya OCEAN. Openness to experience. Bukalah pikiran, nikmati dan bergumullah dengan hal-hal baru. Hindari jalan dan cara kerja yang rutin. Selalu "mengembara", mencari jalan baru. Namanya jalan orisinil.
Kedua, Conscientiousness. Kata yang sulit dieja ini maknanya keterbukaan hati dan telinga. Penuh kesadaran mendengarkan, baik yang terdengar maupun yang terasakan.
Ketiga, Extroversion. Keterbukaan diri terhadap orang lain. Keempat, Agreeableness. Keterbukaan pada kesepakatan. Menghindari konflik.
Yang terakhir, N, Neuroticism. Terbuka terhadap tekan. Tidak mudah menyerah. Tantangan dianggap sebagai bunga-bunga yang indah yang menghiasi perjuangan memenangkan persaingan. Bukanlah usaha menemukan hal baru kalau tidak ada tekanan, di dalam maupun di luar organisasi.
Itulah sifat-sifat manusia dengan DNA unggul. Setelah me-re- code individu, tugas selanjutnya, re-code organisasi.
Organisasi, termasuk perusahaan, terbentuk dari kumpulan individu. Organisasi yang tidak relevan dengan tuntutan perubahan akan punah kendati organisasi itu dihuni sejumlah individu yang DNA-nya telah di-re-code.
Karena itu, Kasali menekankan pentingnya re-code leader, pemimpin organisasi.
"Saya sadar, kita semua sangat tergantung pada pemimpin dan kepada merekalah buku ini ditujukan," kata Kasali (halaman 258). Kunci sukses re-code organisasi ada di tangan pemimpin.
Pemimpin organisasi yang bagus: dapat menggerakan, datang memberi insipirasi, energinya terasa di mana-mana. Pemimpin pada level ini tidak hanya berdasarkan SK.
Pada level ini, tahap kelima perkembangan kepemimpinan menurut Kasali, seorang pemimpin adalah personhood. Ia penuh respek, guru, spritual. Dialah sumber utama energi, inspirasi, pemberi arah organisasi.
Bila Anda belum sampai ke tahap tersebut, itu artinya Anda perlu melakukan re-code, perlu memperbaharui DNA kepemimpinan Anda.
Sebaliknya, mana kala pemimpin sudah mencapai tahap tersebut, dia telah memiliki modal yang kuat untuk melakukan re-code terhadap individu-individu kunci (key players) di organisasi yang dipimpinnya.
Secara sederhana, inti dari semua re-code, berbekal OCEAN, adalah membangun sikap-sikap yang responsif terhadap perubahan dengan membuang jauh rintangan, belenggu, dan "penjara" tradisi, organisasi, peraturan, dan ketakutan. Tujuannya adalah menghasil pemikiran dan selanjutnya karya yang unggul.
Pemimpin yang melakukan re-code pada organisasi pada dasarnya memimpin organisasinya mengarungi perubahan untuk memenangkan persaingan.
Agar sukses, pemimpin harus didukung visi, keterampilan, insentif, sumber daya, dan rencana tindak (action plan). Semua unsur itu harus ada, bahu membahu mendorong organisasi mencapai tujuannya.
Inilah formula Kasali:
* Pemimpin dengan keterampilan, insentif, sumber daya, dan rencana tindak, tapi tanpa visi, akan menciptakan kekacauan.
Visi adalah arah, tujuan. Ke sanalah seluruh lini organisasi mencurahkan semua tenaga dan pikiran untuk mendorong perusahaan mencapai tujuannya. Karena itu, menurut Kasali, kendati pemimpin memiliki segala yang dibutuhkan (keterampilan, insentif, sumber daya, dan rencana tindak), tapi bila tanpa visi, yang muncul hanyalah kekacauan.
Semua karyawan mungkin saja sudah bekerja keras, tapi tanpa visi, karyawan akan bekerja keras untuk tujuan yang samar-samar atau bahkan dengan tujuan yang tercerai berai.
* Tapi visi saja tidak cukup. Pemimpin dengan visi, insentif, sumber daya, dan rencana tindak, tapi tanpa keterampilan, akan menghasilkan kecemasan.
Pemimpin perlu memiliki keterampilan untuk mencapai visi. Keterampilan (kompetensi) ibarat tangga bagi pemimpin mencapai visi. Tanpa itu, hari-hari akan diisi dengan pidato, bukan tindakan.
* Pemimpin harus juga memiliki kewenangan yang luas untuk memberikan insentif kepada karyawan yang berprestasi. Pemimpin yang memiliki visi, keterampilan, sumber daya, dan rencana tindak, tapi tanpa insentif (di tangannya), akan menghasilkan penolakan karyawan.
* Pemimpin dengan visi, keterampilan, insentif, dan rencana tindak, tapi tanpa sumber daya, akan melahirkan perasaan frustrasi. Si pemimpin akan berkhutbah tentang apa yang harus dicapai, bagaimana caranya, tapi tidak tahu harus mencapainya dengan sumber daya apa.
* Kasali menekankan pentingnya rencana tindak yang terukur dan tertulis. Ini merupakan salah satu prasyarat re-code organisasi. Ia menulis: Pemimpin dengan visi, keterampilan, insentif, sumber daya, tapi tanpa rencana tindak, akan melahirkan kegagalan.
Rumusan itu dikemukakan untuk menjelaskan betapa banyak pemimpin, CEO yang dibayar mahal, akhirnya gagal total, karena tidak memiliki semua prasyarat yang diperlukan untuk melakukan re-code organisasi.
Sebagai leader, si CEO telah sukses melakukan re-code terhadap dirinya sendiri. Tapi tanpa sumber daya dan sistem insentif yang bagus untuk karyawan berprestasi, misalnya, si CEO akan gagal melakukan re-code terhadap organisasi bisnis yang dipimpinnya.
Ada cerita sukses me-re-code organisasi bisnis. Kasali menyebut Mohtar Riady, perintis BCA. Riady diundang konglomerat Om Liem untuk membesarkan BCA.
Saat Riady datang, BCA dalam kondisi ini: bank kecil, tenaga profesionalnya relatif hampir tidak ada, modal bisnisnya sekadar ada. Siapapun yang datang ke sana pasti akan segera mencium aroma sulit (halaman 23).
Riady memanfaatkan sumber daya yang ada dengan membuka akses ke Bogasari, Indofood, dan relasi bisnis PT Indocement. Tiga perusahaan itu milik Om Liem.
Riady memanfaatkan secara maksimal sumber daya yang dimiliki, yang didukung visinya yang kuat dan keterampilannya yang memadai sebagai seorang bankir (pernah bekerja di Bank Panin). Sekarang BCA telah menjadi salah satu bank papan atas di Indonesia.


***

KATA Kasali: ". para pemenang di abad ini sudah jauh di depan, pikiran-pikiran sebagian besar orang kita masih di masa lalu."
Itulah salah satu yang menjelaskan, mengapa organisasi kita (negara, partai politik, organisasi bisnis) kita tertinggal dibanding bangsa-bangsa lain. Warga bangsa yang maju bergaul dengan pikiran-pikiran masa depan, sedangkan kita bergumul dengan pikiran-pikiran masa lalu.
Ada contoh tentang kaum Gypsy. Mereka datang dari India ke negara-negara Eropa Barat. Dari dulu sampai sekarang, kesan terhadap mereka sama saja: kumuh, pengutil. Desa-desa telah berubah menjadi kota, lalu menjadi metropolitan. Tapi Gypsy tetaplah Gypsy, kumuh dan pengutil.
Perusahaan, seperti halnya sebuah bangsa, sebuah komunitas, tak terelakkan untuk masuk dalam suatu sistem kompetisi dengan prinsip seleksi alam. Kaum Gypsy, yang gagal mengatasi perubahan desa menjadi metropolitan, terancam punah.
Siapakah yang bisa bertahan, terus hidup, dan bahkan terus memimpin?
" . bukan yg kuat yang bertahan tapi yg mampu menyesuaikan diri dengan keadaan," tulis Kasali. Nokia, misalnya, menyesuaikan diri dari perusahaan pengelola hasil hutan, alat komunikasi, televisi, bahkan pembuat sepatu boot menjadi pembuat telepon selular kelas dunia.
Nokia menyambut perubahan, mengendalikannya, menaklukannya, dan dia menang. Sedangkan perusahaan lain yang mencoba melawan arus perubahan, dengan menerapkan strategi bertahan, akhirnya ambruk. Benarlah ara pelatih sepak bola yang meyakini, strategi menyerang adalah pertahanan yang paling bagus.
Kata Kasali, tekanan-tekanan eksternal memaksa perusahaan untuk berubah atau punah (halaman 33).
"Kita bisa saja menjadi tampak tua bukan semata-mata karena kita benar-benar sudah tua. Kita bisa menjadi tampak tua karena ada banyak orang yang tampak lebih muda di sekitar kita," tulis Kasali.
Mereka tampak lebih muda karena merespon perubahan dan menyesuaikan diri (menyesuaikan sikap mental dan meningkatkan kompetensi).
Jadi, re-code dalam diri dan organisasi adalah upaya secara terus menerus memperbaiki diri dan organisasi untuk tetap memenangkan persaingan atau seleksi alam dengan memahami, mengendalikan, dan menaklukan perubahan.
Dalam buku ini, berkali-kali Kasali menekankan pentingnya mengantisipasi perubahan dengan melihat ke depan, bukan hari ini, di sini.
Syeikh Mohammad, Muhammad Yunus, dan Marthin Luther King melakukan apa yang mereka anggap harus dilakukan hari ini --walau terkadang mereka dianggap orang gila-- untuk menyongsong hari depan. Tinggal pilih, mau yang model Syeikh, Yunus, atau Martin Luther King ( portal tribuntimur,2007 )


Manajemen: Pentingnya "Re-Code" DNA untuk Perubahan Signifikan


Sebuah bangsa yang mampu bertahan (survive) bukan hanya dituntut berdaya saing, tetapi juga harus adaptif. Sebelum menggunakan kemampuan daya saing, bangsa itu harus mampu beradaptasi.

"Adaptif di sini berarti bisa hidup dan melakukan hal-hal yang tidak biasa karena keadaan lingkungan ekonomi dan politiknya pun sedang tidak biasa. Kita harus melepaskan belenggu-belenggu pemikiran dan kehidupan masa lalu," ujar pakar manajemen dari Universitas Indonesia, Rhenald Kasali, dalam peluncuran buku barunya, Re-Code Your Change DNA, pekan lalu di Jakarta.

Menurut Rhenald, berbagai peristiwa yang dialami dan direspons dunia usaha, pemerintah, lembaga-lembaga pengawasan, dan parlemen di Indonesia saat ini semakin menunjukkan pentingnya pengkodean ulang atau re-code yang berarti membebaskan belenggu-belenggu yang kita buat sendiri agar lebih responsif dalam menghadapi setiap persoalan di era serba cepat ini.

"Tuntutan masyarakat saat ini terletak pada lima hal, yaitu kecepatan, kemudahan, informatif, bersahabat, dan kesederhanaan," katanya.

Selama ini sering kali orang mengatakan bahwa dari dulu keadaan sudah seperti sekarang, jadi mau diapakan lagi. Hal tersebut seakan-akan menunjukkan ada semacam faktor keturunan, semacam genetika yang terkode dalam perilaku orang-per orang dan terkunci di sana. "Oleh sebab itu, kita perlu re-code terhadap DNA tersebut atau kebiasaan-kebiasaan lama yang membelenggu," ujar Rhenald.

Ada lima unsur pembentuk sifat perubahan (change DNA). Pertama, keterbukaan pikiran (openness to experience), khususnya terhadap hal-hal baru, hal-hal yang dialami dan dilihat mata sendiri. Kedua, keterbukaan hati dan telinga (conscientiousness). Ketiga, keterbukaan diri terhadap orang lain (extroversion), kebersamaan, dan hubungan-hubungan. Keempat, keterbukaan terhadap kesepakatan (agreeableness) di mana tidak mudah memilih konflik. Kelima, keterbukaan terhadap tekanan-tekanan (neuriticism).

Menurut dia, dewasa ini re-code menjadi prioritas bagi dunia usaha, sekaligus pelayanan publik. Re-code menyangkut dua pilar penting, yaitu re-code manusia, yakni dalam hal cara berpikir dan memimpin; dan re-code organisasi. "Belenggu-belenggu itu ada di organisasi, tapi yang terpenting justru ada pada manusianya, yaitu cara berpikirnya," kata Rhenald.

Dari Presiden

Secara khusus, Rhenald menyoroti pentingnya decision management, terutama oleh presiden sebagai pemimpin bangsa ini. Selama ini presiden memang telah melakukan berbagai pengambilan keputusan (decision making) untuk mengatasi persoalan yang ada. Sering kali langkah pengambilan keputusan tersebut dipandang cukup untuk mengatasi berbagai persoalan. Padahal semua itu masih memerlukan decision management.

Dia mencontohkan departemen-departemen yang saat ini hampir tak ada yang memedulikan. Para menteri sibuk mengurusi urusannya sendiri dan bahkan tidak lagi memerhatikan kondisi departemennya. "Intinya adalah harus mau berubah dan perubahan itu termasuk perubahan cara berpikir," katanya.

Dia mencontohkan Le Peres, putra seorang tetua adat Suku Masai yang selalu menggunakan jubah merah. Ia menjadi salah seorang yang mencetuskan perubahan dalam sukunya. Dia mencoba menjadi seorang Afrika yang tidak terbelakang dengan menempuh pendidikan ke tempat yang jauh meskipun untuk itu dia harus berjuang keras.

Menurut Rhenald, re-code harus diprioritaskan pada lembaga-lembaga pendidikan dan pelatihan. Universitas-universitas masih memiliki belenggu yang melahirkan manusia-manusia pintar, tetapi perilakunya terbelenggu dengan cara pikir yang keliru.

"Selain universitas, dunia usaha dan pemerintah pun memerlukan re-code. Re-code itu sangat penting karena kita harus menggunakan cara yang tidak biasa untuk menghadapi situasi yang tidak biasa untuk membuat perubahan yang signifikan di negeri kita ini," ujarnya. ( Kompas Jan.10.2007 )

Genetika Tentukan Cara Orang Berpikir

MANUSIA adalah makhluk sosial. Ia tak bisa hidup sendiri, sebab dalam dirinya sudah terpatri jiwa kebersamaan antarsesama. Maka dalam bersosial itulah, keinginan untuk memberikan hal terbaik kepada orang lain maupun untuk kepentingan dirinya sendiri menjadi cita-cita yang amat diimpikan oleh semua umat manusia di muka bumi.

Hanya saja, tidak semua orang bisa melakukannya secara serta-merta. Bukankah kita menyadari bahwa di dunia ini ternyata tidak semua orang berperilaku baik?

Dalam kerangka itulah, buku ini hadir layaknya terapi bagi mereka yang mengidamkan perubahan dalam dirinya dan terutama dalam sebuah lembaga (perusahaan). Kepiawaian Rhenald Kasali, penulis buku ini, tentu tak dapat diragukan lagi kemampuannya dalam menyajikan pelbagai tips, data sekaligus fakta.

Apalagi, buku berjudul provokatif ini, Re-Code, Your Change DNA sengaja dihidangkan bagi pembaca sebagai tindak lanjut karya Rhenald sebelumnya, Change! yang mendapat respons positif dan mengglobal di sejumlah negara, termasuk Indonesia.

Secara khusus, buku ini sebagaimana diakui Rhenald dalam kata pengantaranya, merupakan jawaban atas Change! yang oleh sebagian kalangan dinilai masih menyisakan sejumlah persoalan.

Pasalnya, ketika Change! dipresentasikan kepada hampir semua bawahan, maka semuanya mengangguk-anggukkan kepala. Tetapi ketika akan dijalankan, terasa sekali betapa beratnya. Orang-orang yang mengangguk-anggukkan kepala itu ternyata hanya mampu menjadi penonton.

Dibandingkan buku sebelumnya, Change!, buku ini terasa lebih segar penyajiannya. Selain karena penulisnya memiliki latar belakang sebagai wartawan sehingga bahasanya enak dibaca, buku ini juga penuh warna. Foto, ilustrasi, dan sajian grafis yang disajikan dalam buku ini sangat membantu kita untuk memahami isi buku. (Ali Usman, pustakawan tinggal di Yogyakarta)
Re-code Your Change DNA adalah buku yang harus dibaca siapa pun yang ingin melakukan perubahan dalam hidupnya. Untuk beranjak dari satu titik tempat kita sedang berada ke tempat yang kita inginkan, maka kita harus berubah. Apa yang diperlukan dalam proses perubahan itu?

Berdasarkan pengalamannya, perjalanannya, buku-buku dan riset yang dipelajarinya, Rhenald Kasali yang saat ini adalah staf pengajar UI dan menjabat Ketua Program Magister (MM) universitas yang sama menyusun sebuah teori tentang bagaimana terjadinya sebuah perubahan.

Dengan teori yang diajukannya --dari Re-code individu, Re-code leader, Re-code pikiran, Re-code organisasi, hingga Re-code the critical mass-- Rhenald sepertinya akan kembali berkeliling dari seminar ke seminar, dan dari organisasi ke organisasi, untuk mengajarkan langsung teorinya itu. Sebelumnya, hal yang sama terjadi setelah cHaNge! terbit dan mendapat sambutan yang sangat baik dari pembaca.

Menurut Rhenald, agar tetap unggul dalam dunia bisnis yang kompetitif, setiap organisasi harus adaptif terhadap perubahan. Organisasi yang adaptif didukung oleh SDM dengan kadar Change DNA yang tinggi. Change DNA adalah sifat-sifat dasar yang membentuk diri seseorang sehingga ia mampu melihat dan bergerak melakukan perubahan.

Unsur-unsur pembentuk sifat perubahan (Change DNA) itu dapat disingkat menjadi OCEAN, yang terdiri dari Openness to experience, Conscientiousness, Extroversion, Agreeableness, dan Neuroticism. Buku ini juga menyediakan tes untuk mengukur kadar OCEAN Anda, sehingga Anda bisa mengetahui bagian mana yang perlu Anda benahi untuk menjadi seorang penggerak perubahan.

Rhenald memberi ilustrasi beberapa individu yang dianggapnya mempunya Change DNA yang unggul, yaitu Muhammad Yunus yang mendirikan bank untuk pengemis, Paul Otellini yang membuat perubahan besar-besaran di Intel, Sheikh Mohammed Bin Rashid Al Maktoum yang mengubah Dubai dari sebuah padang pasir menjadi Hongkong-nya Timur Tengah, dan juga Martin Luther King yang memperjuangkan hak-hak kaum kulit hitam.

Cerita-cerita di atas disampaikan dengan cara yang menarik dan sangat inspiratif. Tidak ketinggalan, disertai juga foto-foto yang menarik, yang mewarnai seluruh buku ini. Buku ini adalah buku manajemen yang disampaikan dengan cara yang "ngepop". Setiap bab dilengkapi dengan foto, ilustrasi, kutipan, kesimpulan, komentar penulis, dan bahkan foto-foto penulis sendiri dalam berbagai ekspresi.

Tidak hanya cerita tentang tokoh-tokoh dunia seperti disebutkan di atas, dalam buku ini juga terdapat cerita dari organisasi-organisasi di Indonesia, seperti Citibank, BCA, dan terutama dalam pemerintahan kita. Betapa Rhenald sang guru ingin melihat perubahan dalam bangsa ini. Perubahan itu harus dimulai dengan adanya pemimpin yang memiliki Change DNA unggul. Karena itu dalam buku ini juga diuraikan banyak teori tentang kepemimpinan.

Bila Anda ingin organisasi Anda berubah, maka mulailah dengan me-re-code Change DNA Anda sendiri ( portalhr.com)

ReCoding tidak hanya dalam bidang cara berpikir dan memimpin tetapi juga dalam bidang keorganisasian. Semua lembaga mulai dari lembaga kepresidenan, kementerian, universitas maupun bisnis memerlukan decoding. Yang dilakukan pemerintah misalnya baru dalam taraf ‘decision making’ tetapi belum sampai kepada ‘decision management’. Dengan perkataan lain mungkin dimaksudkan apa yang sudah diputuskan pemerintah belum tentu pula telah dimanajemen dengan baik dalam hal penerapan nyatanya di lapangan. Contoh yang sangat jelas ialah keputusan soal pemberantasan korupsi, pengentasan kemiskinan dan yang paling menyolok ialah penanggulangan pasca bencana.

Kalau Vincent Liong berbicara maka tidak ada manusia yang perduli karena siapalah mahasiswa psikologi Unika Atma Jaya yang pada semester satu IP-nya hanya 0.5 itu. Namun ia membicarakan topik yang sama dengan terminologi yang berbeda yaitu perlunya diadakan “memory deconstruction & reconstruction” atau “proses dekon” (semula disebut “pineal reprogramming” yang berbau neurologis) untuk melakukan perubahan revolusioner paradigma berpikir dan berperilaku. Caranya yang dilakukannya untuk memperkenalkan idenya itu memang “menyebalkan” yaitu “e-mail bombing” dan serangan verbal (verbal assault) kepada lembaga pendidikan papan atas yang mapan.

Suatu hal yang tetap menarik bagi saya sebagai pengamat ialah bahwa banyak sekali buku ditulis dengan topik “WHAT TO DO” termasuk buku Renald Khasali tersebut dan hampir jarang sekali yang memberikan pedoman aplikasi praxis tentang “HOW TO DO” it. Recoding DNA menyajikan suatu kemungkinan perubahan (possible changes) yang sangat penting, bahkan sangat urgen tetapi tidak seorangpun tahu bagaimana cara melakukannya dengan benar dan tepat sasaran. Misalnya, harus dibangun keterbukaan hati dan telinga (conscientiousness) tetapi teknik atau cara melaksanakannya bagaimana? Sama saja dengan membuat pernyataan kosong bahwa orang harus kaya supaya dapat beramal banyak. Atau one step lower orang harus berusaha giat berbisnis supaya kaya. Yang pokok yaitu bagaimana aplikasinya tidak diperinci kecuali hanya himbauan supaya mencari sendiri upaya dan jalannya masing-masing. Buku “WHAT TO DO” hanya mampu menyajikan bunga rampai ‘WHAT REQUISITES” yang harus ada atau diusahakan. Yang kita butuhkan secara nyata hanyalah ‘HOW TO DO” atau SOP praxis.

Paling tidak Vincent Liong dengan “memory deconstruction”-nya telah menyusun suatu Standard Operation Procedure (SOP) yang (semi) baku. Sedang tekniknya dapat dilakukan lewat “metode jalan panjang” lewat kemampuan “pineal meditation.” Atau dengan dekon ”genuine method” - jalan pendek khas Vincent - lewat “memory confusion” method dengan pencicipan berbagai mixture minuman ringan yang diramu secara “random mixing” dengan dua atau tiga variannya. Kemudian diikuit dengan prakiraan “efek sampingan” yang diakibatkannya. “Agitation method” ini dilakukan untuk merangsang bekerjanya “intuitive thinking” otak hemisfir kanan karena terpaksa karena sama sekali tidak ada unsur logik di sana yang dapat diandalkan. Akibatnya, roda otak kirinya (rational thinking) macet total. Metode kedua ialah lewat “prediksi isi buku” dan “prediksi perbedaan rasa” dari berbagai warung fast food yang menjual menu yang sama.

Proses dekon tersebut mampu mengubah “cara berpikir terminal” (terminal thinking) menjadi lebih utuh, lebih netral, dan lebih seimbang (transcendental balancing thinking). Keberhasilannya dapat sangat cepat – sekitar 3 jam saja – tetapi ongoing proses reconstruksi internal selanjutnya dapat lebih lama dan tergantung pada tingkat ekstremitas cara berpikir terminal orang yang di-dekon.
Secara minimal subyek ter-dekon akan mengalami perubahan sikap yang sangat signifikan pada akhir session dekon dibandingkan dengan pada saat ia pertama datang memperkenalkan diri. Bila pada permulaan dia sangat 'stressfull' maka akhir session ia akan selalu tampak lebih relax dan "stressless". Apakah ini semacam proses hypnosis? Sama sekali bukan, karena session dekon bersifat "totally participative" and fun. Paling tidak itulah fenomen nyata yang kasat mata pada semua yang sudah mengalami "proses dekon" model Vincent Liong.

Justru karena perubahan drastis yang dapat terjadi dalam waktu yang relatif begitu singkat merupakan hal yang sangat mengancam kemapanan lembaga-lembaga yang sedang menikmati “comfort zone”-nya masing-masing. Salah satu dan lain penyebabnya ialah: Bila perubahan dapat terjadi demikian dahsyat dalam waktu yang demikian singkat, lalu apa gunanya pendidikan formal yang demikian lama dan mahal tetapi tidak menciptakan manusia yang integral, balanced, moderat dan toleran? Apa gunanya lagi konseling yang memakan waktu berhari-hari serta melelahkan itu? Bukankah itu yang menjadi tujuan utama sistem pendidikan nasional kita? Sekaligus bukankah itu tujuan kita memproklamasikan kemerdekaan negara ini – yaitu untuk membangun manusia yang seutuhnya? Bukanhanya manusia yang pintar tetapi yang berbudi pekerti, kaya dengan nilai serta mampu selalu menjaga keseimbangan antara tarikan kelompok terminal? ( Mang Iyus )

Comment : Pokoknya buku ini bagus untuk dibaca

No comments: